Kamis, 31 Oktober 2013

Sekedar Tau

Aku tau…
Aku tau ketika kita sedang bertatap muka di senja itu ada yang lain dari balik pandangan kita berdua. Meskipun semuanya terlihat tak ada yang berbeda, tapi aku tau ada yang berbeda dengan kamu, tatapanmu seperti sedang terguncang hebat ketika melihat ku pertama kali. Atau mungkin hanya perasaan ku saja? Tapi… aku tau ada perasaan kamu yang ingin menjabat tangan ku tepat ketika kita saling melempar senyum. Benarkah?

Aku tau… ketika kita mulai berbicara, ada perasaan ku yang selalu ingin bertanya  saat kamu menatapku, aku tau didalam hatiku aku ingin mulai tau tentang kamu. Kamu itu misterius, selalu tersenyum ketika menatap wajahku, selalu mengusap rambutku meskipun aku sedang tak  mearasa sedih. Aku suka caramu memperlakukanku, aku suka senyumu ketika sedang memandangku, aku suka gaya bicaramu yang seolah aku adalah orang yang istimewa untukmu, aku suka semua tentangmu, dan aku tau bahwa kamu tau perasaanku padamu, dan aku tau kamu selalu berpura-pura terlihat seolah kamu tak tau.

Sore itu adalah senja yang ke-14 setelah aku bertemu dengan kamu. Kamu mulai memperhatikanku. Senja yang membuat kita saling bertemu, senja yang membuat aku mulai mengerti semua tentang kamu, dan senja yang paling tau tentang hatiku, bukan hatimu. Aku tau kamu selalu menutup rapat perasaanmu agar tak ada satupun orang yang mengetahuinya, termasuk senja kita,

Aku tau akhir-akhir ini kamu mulai merasa bahwa ada yang salah dengan kita. Aku tau kamu mulai tau bahwa perhatianku bukan lagi berdasarkan hanya tentang kepedulianku. Aku tau kamu sudah tau bahwa aku sudah tak ingin menjadi temanmu, aku menginginkan kamu, aku ingin menggenggam tanganmu ketika kita sedang melihat senja, dan aku tau bahwa kamu menyadari semuanya meskipun aku tau bahwa kamu selalu berpura-pura tidak mengetahuinya.

Hanya senja yang menjadi teman pembicaraanku tentang perasaanku yang mulai menggebu. Kemana kamu? Kamu selalu terlihat kaku ketika aku mulai ingin membicarakan tentang kepedulianku yang berlebihan padamu. Aku tau kamu sudah mengetahui segalanya, dan aku tau kamu juga menginginkan aku. Lalu ada apa denganmu? Kamu membuatku ingin terbang memeluk senja, meskipun akan tergores luka tapi akhirnya aku pasti akan tau tentang hatimu bukan? Aku tau kamu mengerti betul mauku, dan aku tau kamu selalu merasa bahwa itu hanyalah perasaan semu.

Hatiku mulai merintih melihat kamu yang semakin memperlihatkan kelucuan mu tentang semua perasaanku. Aku tau kamu mengerti, dan aku juga tau kamu mencoba agar terlihat bodoh. Aku tau kamu ingin memperlakukanku sebagai kekasihmu, dan aku tau kamu selalu berusaha memperlakukanku seolah aku adalah sahabat kecilmu. Aku tau kamu tersiksa karena perasaan cintamu padaku, dan aku tau kamu selalu merasa bahagia ada atau tidak nya perasaanku yang utuh berada dalam hatimu. Aku tau kamu selalu memperdulikanku, dan aku tau kamu selalu berusaha agar tak terlihat peduli padaku. Aku tau kamu ikut menangis ketika melihatku sakit, dan aku tau kamu mencoba terlihat tegar dihadapanku. Aku tau kamu menginginkan aku, dan aku juga tau kamu selalu tidak memperdulikan itu. Aku tau bahwa hatiku hanya milikmu, dan aku tau kamu mengetahui itu. Tapi aku dan kamu sama-sama memperlihatkan bahwa itu hanyalah perasaan semu.

Aku menyukai senja, dan aku tau kamu pun menyukai senja sama sepertiku. Aku tau karena kita sama-sama bertemu cinta dengan senja sebagai orang ketiga. Kita adalah cinta segitiga, aku, kamu, dan senja.  Aku tau bahwa kamu tau aku menyukai kamu melebihi senja, dan aku tau bahwa aku adalah orang ke dua setelah senja dihatimu.  Tapi bagiku, dalam tau ku… kamu hanya menyukaiku.
Kamu begitu manis ketika sedang menatap senja, ketika senja mulai menghilang aku tau kamu selalu menutup matamu seakan berdoa, dan aku tau bahwa kamu berdoa agar perbedaan kita ditepis oleh senja.

Kamu adalah sosok yang indah selain senja. Kamu adalah kepingan-kepingan keindahan senja yang menjelma menjadi manusia, kamu seperti malaikat dibalik senjaku. Ceritaku terasa berwarna jika ada kamu dan senja. Aku tau bahwa kamu selalu mendoakan aku dengan lipatan tangan itu, aku tau kamu selalu menatap ku disamping senja ku, aku tau kamu selalu berusaha agar terlihat tak berbeda dihadapanku, aku tau kamu selalu berusaha ada disampingku jika aku mengajakmu mengarungi suhu minggu pagi yang sejuk nya seperti air telaga surga, meskipun kamu selalu menolaknya, aku tau kamu selalu merasa bersalah jika aku harus menunggumu berjam-jam lamanya disebrang jalan tempat kamu bicara dengan Tuhan mu, aku tau kamu adalah manusia yang berbeda dari yang lain.

Jika aku dan kamu tidak bisa menepis senja, mengapa kita tak mencoba menepis perbedaan. Aku dan kamu seperti senja yang menjadi pacuan perbedaan kita. Tidak semua orang menyukai senja, tapi senja tak pernah memperlihatkan kekecewaanya, senja tetap terlihat indah, memberikan kenyaman untuk orang-orang yang menyukainya. Aku dan kamu mempunyai perbedaan namun saling menyukai senja yang sama. Aku tau kamu selalu berharap kita bisa saling berdoa ditempat yang sama, dan aku tau kamu selalu berpura-pura merasa nyaman meskipun kamu tau kamu berbeda. Aku tau kamu selalu tak focus menyebut yesus jika sedang bersamaku, dan aku tau kamu selalu mencoba untuk memperlihatkan senyum damai itu padaku. Aku tau kamu mengetahui bahwa aku selalu ingin mengucap bismillah sambil memegang tanganmu, dan aku tau kamu selalu mencoba sabar untuk memberi ku pengertian bahwa kita adalah orang yang istimewa dengan perbedaan.

Aku tau kamu mencintaiku dengan perbedaan itu, dan aku tau kamu selalu berpura-pura agar terlihat tak memperdulikan perbedaan kita. Aku tau aku tak pernah bisa menemanimu untuk berterimakasih kepada Tuhan mu karena sudah mempertemukan kita, dan aku tau bahwa kamu tau aku selalu ingin terlihat sempurna dimatamu.

Meskipun kita berdoa dengan cara yang berbeda, dengan bahasa yang berbeda, dengan memanggil Tuhan dengan nama yang berebeda, aku tau… aku dan kamu selalu mengucap amin dengan nada yang se- irama. Aku tau kamu tau akan itu.

Meskipun senja kita selalu terlihat semu, tapi indahnya selalu menutup perbedaan antara aku dan kamu, juga perasaan aku, mungkin juga kamu.

Minggu, 27 Oktober 2013

Senja Rindu yang Terluka.

Akhir-akhir ini semesta selalu menangis, menurunkan sejumlah tetesan yang sama sekali tak bisa ku hitung sampai sekarang. Ingin bertanya, namun ada yang berbeda… senjaku terlihat sangat indah. Membayangkan nya lagi sungguh membuatku ingin kembali, tapi tidak sepenuhnya melihatnya lagi.


Hanya saja mulutku enggan berkata yang sebenarnya

Hanya saja luka membicarakan kepedihanya

Hanya saja hati menyuarakan rintihan pada kepergian


Akulah lelah, akulah gundah

Akulah pedih, dan akulah sedih


Aku beranjak selamatkan hati meski mengutuk diri; mengembalikan semua perasaan seperti semula. Yang selalu mengatas segalakan sesuatu nya hanya untukmu.


Setelah kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan aku bereserta semua masa ketika aku dan kamu sama-sama merangkai kata dengan keadaan melihat senja. Kita menikmati suasana indah nya senja, tak ada pembicaraan yang menarik selain mimpi yang kita bangun bersama ditemani senja. Kamu ingat?


Semuanya menyukai senja. Begitupun ketika aku menyamakan kamu dengan senja indah yang menghilirkan segala kenangan, memberatkan pengharapan terjauh dari segala kepedihan.

Aku memilih menahan mu tetap diam disisiku meskipun senja akan berubah menjadi gelap gulita yang indah.

Kamu masih terlihat tak suka, tapi bagaimanapun aku tau kamu suka melihat ku selalu terbuai oleh senja. Kamu cemburu pada senjaku, sedangkan aku cemburu pada hidupmu yang terlihat seperti tak pernah sekalipun memperdulikanku. Betapa dengan susah payah nya aku menahan pedih bersama senja.


Aku dan kamu, juga senja pernah ada diatas perjanjian cinta yang hanya semesta menjadi saksinya. Aku dan kamu, juga senja pernah sama-sama terbuai oleh keindahan mimpi dan pengharapan satu sama lain di dalam hati. Aku dan kamu, juga senja pernah berbarengan menahan sendu-sendu tangis yang akhirnya mempertemukan semuanya dengan tangisan dalam penuh kekecewaan.


Karena senja selalu menawarkan cerita beserta kenanganya, dan kenapa kamu membuat luka di balik senja juga?

Senja terindah, senja terluka. Berlalu mengantar malam bersama temaram, dimana kesepian menyelimuti semestaku.

Senja itu tak kembali, senja sesaat dan melukai, menyisakan ceritanya.


Dan aku akan menjadi malam, menutup semua senja kenangan dan senja yang menyakitkan.

Dan aku akan menjadi pagi, mengawali harapan baru saat embum mencintai dedaunan.

Dan aku akan menjadi siang, saat semua terlupakan pada gelak tawa kiasan pelipur lara.

Namun senja tetap senja, dia tetap saja kembali mengemas kenangan disetiap hadirnya


Dulu… egoisku memaksamu untuk menyaksikan senja bersamaku.


Kamu membuang senyum manis itu. Padahal senja yang sempurna adalah ketika kamu benar-benar tersenyum dan itu kearahku.


Kamu membuatku sadar, senja memang tak selalu jingga. Dan kamu membuatku mengerti, kepalsuan senyuman adalah warna terkelam yang pernah aku liat meski dengan kasat mata.


Ku fikir,ketika senja memutuskan untuk berubah menjadi malam, sosok terang dalam kegepalan ku pun menghilang.

Kali ini aku benar-benar menyaksikan senja seorang diri, tanpa kamu yang dulunya menjadi sandaran agar pandanganku tak terlalu kearah atas. Aku tetap ingin berada dalam penjagaan jari-jemarimu, sayang.


Singgahku tentang senja tetap saja membuatku perih bila tanpamu…

Benakku menatap senja tetap saja berangan tentang hadirmu…


Namun kamu telah temukan tempat menatap senja yang lebih indah bersamanya, lantas disenja manakah kita bisa bertemu kembali?

Kamis, 17 Oktober 2013

Tapi Kali Ini Aku Berbeda.

Sudah 2 bulan aku menyaksikan senja seorang diri. Mengisi bait-bait puisi yang ku rakit dari pedih menahan rindu akan kamu. Melihat layar ponsel yang tak pernah berubah di setiap menjelang pagi, dan juga harus mandiri tidak meminta peringatan ketika akan makan siang. Semua begitu hampa, tanpamu semuanya kosong.

Kemudian dari pada meminta pertolongan tentang semua kenangan yang mencekam setiap malam, aku lebih memilih untuk tetap diam. Merasakan nya dengan kenikmatan bercerita kepada Tuhan tentang rindu yang kupendam. Begitu elok nya setiap doa yang kusampaikan dengan rahasia yang aku dan Tuhan yang memegang kunci akan keterbukaan sosok kamu pada malam.

Rindu yang memuncak terkadang menjelma menjadi kamu, dan aku yang memendam semua hal tentang rindu hanya bisa berdekap kepada malam. Berbisik bahwa aku ingin bisa seperti kamu, yang sudah bahagia dengan kekasih baru. tapi aku pun tak ingin terburu-buru seperti kamu, seperti seseorang yang tak bisa hidup tanpa kasih, sungguh memalukan nya kamu. Aku yang melihat kamu berubah menjadi seseorang yang menjelma menjadi bajingan hanya bisa merasa iba. Haha aku bercanda :p

Setelah perpisahan menjadi jarak. Selain aku sibuk memendam rindu akan masa lalu, ternyata aku sangat rindu menjadi diriku yang utuh. Dibalik perasaan kehilangan aku memang rindu ketika jari jemari ku hangat oleh sentuhan lain, aku rindu ketika tubuhku kedingin kemudian ditutupi hangat yang instant, aku rindu ucapan romantis-romantis ketika malam tiba masuk melalui ponselku, aku rindu kecupan dari orang yang katanya begitu mencintaiku, dan bahkan aku rindu bagaimana suasana bertengkarnya dari pasangan yang begitu saling mencintai. Aku rindu segalanya, aku rindu melihat walpaper hp ku yang terlihat adalah foto kekasihku, aku rindu berbicara dengan teman-teman ku dengan menceritakan tentang kamu, dan aku rindu ketika malam minggu tiba aku harus berfikir terus-menerus tentang pakaian yang akan aku kenakan hanya untuk mendapatkan perhatianmu.

Tapi kali ini aku berbeda. Dalam fikirku, sudah tak ada keinginan yang mendalam seperti itu lagi, tak ada keinginan untuk mendapatkan dengan cepat sosok yang akan ku cintai lagi. Aku hanya ingin bahagia kali ini karena diriku sendiri yang membuatnya semakin lebih baik.

Munafik kah jika aku bicara bahwa aku sedang tak membutuhkan seorang kekasih? Bukan tidak mampu, hanya belum mau. Aku masih senang melibatkan diriku pada masalah yang disebabkan pula oleh aku. Hanya aku yang menjadi peran utama-nya dalam kisah yang belum terisi oleh sosok kamu yang baru.

Kali ini aku benar-benar merasa telah berada dalam puncak bahagia bersama kebebasan. hatiku mudah rapuh jika harus bertemu dengan kehilangan, rasanya menyakitkan jika harus melepaskan tanpa kita belum pernah merasakan diperjuangkan. Ada saat aku menangis seorang diri dalam gelap malam dan berdoa agar kamu kembali lagi pada duniaku, aku pernah melakukan itu.
Tapi aku berbeda kali ini, bukan aku yang belum bisa melupakan, tapi karena aku yang belum mau memulai.

Untuk kamu, sosok dalam kisah lalu. Selamat atas kisah baru mu, aku bahagia melihat kamu yang sudah bahagia dengan sosok lain. Aku tidak pernah ingin tahu betapa besarnya cinta dia untuk kamu, karena bagiku tak ada cinta yang bisa menyaingi cinta ku untuk kamu. Tapi diluar ke-munafikan ini aku benar-benar bahagia melihat kamu yang sudah bahagia dengan sosok lain. Aku senang melihat kamu tersenyum, meskipun bukan kearah ku.

Aku sungguh tidak cemburu melihat kamu bercumbu dengan sosok baru sedangkan aku disini sedang merindu. Aku sungguh tidak marah ketika kamu sudah tidak memperhatikanku lagi, aku tidak pernah menginginkan kamu kembali, karena menurutku jika suatu saat kamu kembali kamu tak akan datang dengan perasaan yang sama, orang yang kucintai tak mungkin datang dengan wajah yang sama untuk ke-2 kali nya.

Kita benar-benar telah terbuai oleh cinta pada saat itu, saat kita berjanji tak akan pernah saling menyakiti. Meskipun kita berpisah dalam keadaan saling merasa tersakiti. Dalam jarak yang telah berbeda, dalam kebahagiaan kamu dengan sosok yang baru. meskipun belum ada yang mengisi kekosongan hatiku, Tapi kali ini aku berbeda, karena aku benar-benar sangat menikmati kebebasan ini. Aku sangat bahagia, tanpa sosok kamu.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Bukan Purnama, Bahkan Bulan. Hanya Bulan Sabit.

Ingatkah kisah tentang bintang dan bulan yang telah kamu baca, teman?
Bagaimana dengan akhirnya? Begitu mengahrukan bukan karena bintang dan bulan tak bisa bersama? Lalu bagiaman dengan kisah mereka yang saling sama-sama menghabiskan waktu dalam ketidakbersamaan? Kufikir, bintang dan bulan selalu sibuk dengan perasaan saling merindukan.

Sore itu langit sedang mendung. Hujan tiba-tiba turun...
Langit tidak terlihat seperti biasanya, seperti sedang merasa kesakitan karena ketikaktahuan semesta tentang kisah nya. Dengan senja yang semakin berubah warna, langit dengan cepat menjadi gelap. Kemudian tibalah bintang yang terlihat sedang menangis haru karena harus menahan rindu pada sosok yang dulu. Ya, bulan yang terlihat dari jauh telah bahagia dengan kisah yang baru. tak lama kemudian tibalah bulan yang sangat indah, dengan perlahan dia memperlihatkan sosok nya.

Ketika langit terdiam. Bintang memikirkan tentang semesta yang mereka bilang adalah “Takdir”.Dulu... ketika bintang memutuskan untuk tidak lagi melihat bulan, semesta katakan bahwa bintang dan bulan masih bisa saling melihat terang meskipun tak bersama bukan? Tapi ada yang berbeda kali ini. Sinar bintang meredup ketika bintang melihat bulan sedang dipancari sinar yang lebih terang dari sinar bintang. Bulan tak pernah memperhatikan bintang seperti biasanya. Bintang fikir bulan telah bertemu dengan kisah nya yang baru. kisah yang lebih terang dibandingkan masa lalu. Bintang menangis haru...

Malam berganti malam, bintang pun merasa sudah harus memulai kisah dengan terang yang lebih terang dari kisah nya yang lalu. Karena jika bintang terlalu diam, bintang akan semakin meredup dan akhirnya langit akan tersalahkan karena semesta kehilangan satu terang yang dibutuhkan oleh bagian langit yang lainya. Bintang mulai ingin terlihat dihadapan langit.

Pada malam yang sama bulan mendatangi langit, memohon untuk bicara pada semesta dengan seksama. Langit memandang bulan dengan perasaan haru. “haruskah kamu lakukan itu?” bisik langit pada bulan. Bulan hanya membalasnya dengan senyum yang sama sekali tak dimengerti oleh langit.
Ke esokan malam nya, bintang terheran-heran pada langit, sampai pada akhirnya bintang bertanya pada langit “langit, mengapa malam ini terasa gelap dari biasanya? Kemana pancaran terang yang seperti biasanya?”. Langit hanya diam, tak menjawab bahkan tersenyum. Tak lama kemudian hujan turun, bintang semakin tak mengerti mengapa langit berbeda dari biasanya, terlihat seperti menahan sakit seorang diri. Bintang telah melupakan bulan pada saat itu. Bintang lupa satu hal, seluas-luas nya langit, langit tetap membutuhkan bulan untuk menjadi cahaya yang memancarkan terang meskipun pada kenyataan nya bulan mendapatkan cahaya dari pantulan-pantulan disekitarnya.

Langit menjadi gelap akhir-akhir ini. Bintang yang semakin tak mengerti mencoba bertanya lagi “langit, ada apa denganmu?”. Langit bicara dengan nada datar “apa yang telah kamu lupakan bin?”. Bintang semakin tak mengerti, bintang berfikir tentang pertanyaan langit yang masih saja tak bisa bintang mengerti. “apa yang sudah kulupakan?” tanya nya dalam hati. Bintang dan langit sama-sama bertatap dalam keheningan.

Ini adalah malam kesekian nya langit tampak gelap. Bintang tak ingin terlihat bersinar malam ini. Bintang mulai merasa ada yang hilang dalam benak-nya. Ternyata... bintang merasa telah kehilangan bulan. Bintang bergegeas bertanya pada langit “langit, kemana bulan? Aku sudah lama tak melihatnya”. Langit menangis tersedu-sedu, “bulan telah memutuskan untuk membiarkanmu bercahaya sendirian, bin. Bulan merasa seorang diri dan memutuskan untuk terlihat seperti itu.” Langit menunjuk ke arah yang paling jauh. Bintang semakin merasa tak mengerti. Dalam benak nya bintang selalu bertanya, “kemana sosok mu bulan? Ada apa dengan cahaya mu? Kemana terang mu?”

Di malam selanjutnya, di tempat biasa bulan memantulkan cahaya matahari untuk terlihat bersinar. Bintang datang menghampiri bulan yang terlihat berbeda dan bertanya seolah tak terjadi apa-apa “bulan, mengapa kamu terlihat tampak tidak sempurna?”. Bulan hanya diam. Lalu bintang bertanya lagi kepada bulan “bulan, mengapa kau hanya diam? Mengapa setiap malam aku hanya bisa melihat sebagian dari sosokmu? Hanya bulan sabit?” “ada apa denganmu, bulan?” bintang bertanya semakin kencang.
Kemudian bulan menjawab dengan suara sendu “kau ingat tentang takdir dan rencana Tuhan, bin? Kamu percaya bahwa rencana itu terbaik untukku? Ternyata kamu benar. Aku mulai mempercayainya. Aku hanyalah sebuah bulan tanpa cahaya, seharusnya aku menyadari apa yg tuhan telah berikan untukku. Ternyata aku tidak tahu diri. Aku hanyalah sebuah bulan”.

Bintang resah selalu menanyakan apa yang terjadi, bulan hanya tersenyum kecil pada bintang seakan berkata “aku lelah untuk tak terlihat olehmu, bin”
Bintang masih tak mengerti ada apa dengan bulan sehingga bulan berkata “apa yang telah terjadi pada cahaya mu, bin? Kamu katakan pada semesta bahwa aku telah bahagia setelah keterpisahan kita oleh takdir? Apa yang kamu tau terhadapku? Aku hanyalah bulan yang masih membutuhkan pantulan cahaya untuk membantuku bersinar”
Bintang menjawab dengan tundukan kaku seperti memperlihatkan penyesalan “dulu kamu katakan kita masih bisa melihat cahaya terang dalam jarak bukan? Tapi mengapa kamu menghilang?”
Bulan tertawa dalam tangisnya “apa kamu tau bin? Cahayaku redup sepeninggalan kita berpisah. Cahayaku hilang terbawa oleh kisahmu. Selama ini aku hanya bersembunyi dari matahari bahkan ketika purnama tiba, aku masih tak bisa terlihat seperti bulan.”

Bintang hanya menangis bicarakan soal penyesalan karena sudah tak bisa melihat bulan, tak ada lagi pandangan tentang kisah. Bulan telah menahan dirinya agar tak terlihat meredup karena keegoisan bintang, hingga pada akhirnya bulan memutuskan untuk memberikan separuh kisahnya pada semesta. Biarlah semesta menjadi tempat persimpanan kenangan antara bulan dan bintang.
Bulan membutuhkan waktu untuk terlihat sempurna(lagi) seperti dulu. Dalam perasaan yang masih merindukan bintang, bulan membiarkan sebagian tubuhnya terlihat benar-benar bersinar. Dan langit pun memanggilnya dengan “Bulan Sabit”

Selasa, 08 Oktober 2013

Tuhan, kali ini ceritaku berbeda.

Tuhan, aku rindu bercerita. Aku rindu ketika kamu membelai rambutku lagi ketika aku menangis di dalam doa mu. Aku rindu ketika kamu harus menamparku dengan adanya kisah masa lalu. Rasanya sudah lama aku tidak bercerita tentang hatiku padamu bukan? Sepertinya kamu telah memberikan kisah baru untuk ku ya? Apa kamu sudah bosan mendengar keluh kesahku tentang lelah nya hidupku yang aku ceritakan akhir-akhir ini? Atau apa engkau telah tersentuh oleh doa-doa teman-teman ku agar aku cepat mendapatkan kisah yang baru? selalu banyak kisah yang lebih penting dibandingkan hatiku.

Aku tau kamu tak pernah tak mendengar doaku, aku tau kamu tak pernah berhenti memperhatikan tingah bodohku yang selalu bicarakan bahagia tentang kebebasan, padahal aku merasa kesepian. Aku tau kamu tertawa sinis ketika aku merasa kedinginan dengan hatiku yang penasaran tentang mencintai seseorang. Aku tau kamu selalu memberikan pelukanmu dalam setiap sedihku.

Dan Tuhan, kali ini ceritaku berbeda. Aku tak ingin menceritaan tentang dia yang selalu ku sebut namanya dulu dalam setiap doaku. Saat kamu menamparku dengan pembicaraan soal kejujuran dari teman-teman ku, ternyata dia benar-benar cinta yang salah. Dia sudah aku tak pedulikan kisahnya. Seperti yang kamu bilang, aku akan meninggalkan orang-orang yang menghalangi langkahku untuk maju ke depan.

Tuhan, ini kisah baru. kisah yang dulunya kufikir bukan untukku ternyata datang dalam bayangan semu dan mulai masuk dalam hatiku seperti hantu.
Rasanya menyakitkan...
Rasanya seperti dimainkan oleh semesta. Kita sama sekali belum pernah bertatap muka, belum pernah merasakan saling disakiti oleh kerinduan yang tak bisa diungkapkan, belum pernah berhimpit dalam kasih malam, atau mungkin pernah menyatukan 2 buah tangan yang berbeda, itu sama sekali belum pernah terjadi antara “Kita”

Pada suatu malam aku pernah bermimpi. Berkhayal bagaimana jadinya kita nanti. Bicara soal perasaan yang benar-benar kita rasakan. Aku memandang langit-langit kamar yang masih sama seperti biasanya. Lalu aku lihat langit yang gelap yang masih terasa kasihan, langit benar-benar kesepian. Hanya warna datar dan gelap yang menyinari malam. Lalu kemudian ada bulan, bulan indah yang terlihat hanya sendirian. Bulan selalu bercerita tentang kisah yang dia sebut tak akan pernah bisa dia lupakan, tentang seseorang yang hidup, tentang bagaimana dia bisa mencintai seseorang dengan sangat dalam. Kemudian langit hanya bisa mendengarnya dengan bijak.

Aku berbaring. Memperlihatkan mataku dengan langit-langit kamar, kemudian hatiku terasa linu. Mengapa ada orang yang benar-benar mencintai seseorang dengan besar hingga mampu menaruh mimpi dan harapan dalam benak orang yang salah? Mengapa ada orang yang benar-benar mencintai seseorang bisa tersakiti dengan sendirian, dengan hati yang utuh meskipun jika dibandingkan dengan hati yang lain, ternyata hatinya rapuh.

Ketika dia menjerit kesakitan karena hatinya telah hilang perlahan, tanpa didasari dengan sepengetahuan perasaan... hatiku ikut merasakan kesakitan. Ketika dia merasa lelah karena mencintai orang yang salah, hatiku semakin merasa tak utuh Dan ketika dia harus memperjuangkan hati yang dia cintai, ternyata haiku bukan hati yang dia pilih.

Tuhan, ketika dia mulai mengganti masalahnya dengan mempermasalahkan bagaimana perasaanku terhadapnya tiba-tiba hatiku merasa terguncang kebingungan. Rasanya menyesal mengapa aku harus tau terlebih dulu tentang masa lalu nya, tentang bagaimana dia mencintai masa lalu nya dengan begitu dalam. Aku tau akupun punya masa lalu yang sama sekali tidak dia permasalahkan. Tapi dalam keadaan perasaan yang membingungkan... saat ini aku berada dalam keadaan sedang mencintainya.

Tuhan, entah karena hatiku yang belum utuh, atau entah karena perihku yang takut terbodohi seperti masa-masa lalu. Apapun perasaan itu, aku tak ingin menyakiti perasaan-nya atau membiarkan hati nya tergeletak begitu saja didalam keadaanku yang sedang mencintainya. Meskipun jarak mulai mencabik kisahku, tapi aku ingin tetap menjaga hatinya didalam balutan doaku untukuknya, melalui kamu, Tuhan.