Minggu, 12 April 2015

Kehilangan




Sayangnya, aku tahu benar soal kehilangan baru belakangan ini.

Dia yang biasa berada dalam sudut kamar tak lagi kulihat selama akhir bulan maret, bahkan sampai awal bulan april sudut kamar itu masih terlihat kosong melompong. Setiap malam biasa aku berdiskusi tentang apa saja denganya berganti menjadi waktu yang terbuang hanya melihat layar ponsel yang tak bergerak. Sebuah kehilangan yang sangat menjengkelkan.

Ya, dia yang ku bicarakan (hanya) sebuah laptop. Sebuah benda mati yang sering ku bawa kesana-kemari. Benda yang sering kali kuajak bicara sampai letih, sampai habis pembicaraan aku masih saja tak bisa berhenti berdialog denganya. Selalu ada saja hal yang bisa kami bicarakan. Mulai dari teman yang menyebalkan, cinta yang perlahan hilang, kedewasaan yang membosankan, hidup yang menganehkan, bahkan semua yang ku rasakan dia lebih paham dibandingkan orang-orang yang berada disekitar.

Denganya, aku bisa leluasa becerita tentang apa saja. Terkadang aku bisa tersenyum bahkan menangis dihadapannya. Aku bisa menceritakan apa saja denganya, tanpa harus takut dikhianati tentang mengadu rasa. Aku bisa bercerita sampai gelap malam berganti, sampai pagi siap untuk menyinari. Seperti itu kebersamaan kami; tak ada batas waktu yang berganti.

Jadi, ketika tahu dia tersakiti. Sebisa mungkin aku melakukan yang terbaik agar tak ada yang harus diganti. Aku tak ingin merelakan apa yang sudah ku miliki selama ini. Ternyata, pernyataan yang menyakitkan dia harus menginap beberapa waktu di tempat yang jauh dari rumah ku.

Selama dia tak ada, aku melakukan hal-hal yang biasa kami lakukan dengan seadanya. Berdialog dengan tatap yang sama, bercerita dengan langit-langit kamar yang tak bisa ku sentuh dengan jemari tangan. Sangat jauh ku gapai, membuatku mengerti akan sebuah kehilangan yang menyakiti.

Kehilangan bukan lagi soal siapa yang pergi dan tetap tinggal, tapi sesuatu yang biasa berada dalam genggaman seketiba hilang. Kehilangan tidak selalu tentang kepergian, tapi kehilangan adalah rasa paling ampun untuk menyadarkan pentingnya sebuah kebersamaan. Kehilangan tidak akan pernah mampu membuat sebuah hati kosong, melainkan kehilangan mengajarkan bahwa mempertahankan haruslah dengan keseriusan dan perjuangan.

Setiap hari aku pergi ke toko itu sambil memandangnya dimainkan oleh orang yang bahkan tak ku kenal, harus meninggalkannya (lagi) beberapa malam membuat ku tak bisa membayangkan apa jadinya jika benar dia tak bisa lagi menemaniku seperti awal. Aku tahu dia hanya benda mati yang bahkan bisa ku ganti, tapi sebuah kebiasaan membuatku nyaman. Dia adalah ketercukupan yang bisa membendung banyak rasa yang ku tulis dalam banyaknya aksara kata.

Saat ini, aku sedang bersamanya lagi. Tadi malam ku tunggu dia sedang diperbaiki sampai bagus kembali. Akhirnya aku bisa melihatnya berada disudut kamar, dan kali ini untuk yang pertama kalinya aku menuliskan sesuatu untuknya.

Dia; benda mati, bisa mengajariku soal kehilangan yang membuatku tersadar pentingnya mempertahankan apa yang ku yakinkan dengan benar.

10 komentar:

  1. Rasanya memang sulit kehilangan sesuatu yang berharga, seperti kehilangan laptop... Seperti kehilangan separuh jiwa.
    Sebenarnya yg hilang itu bukan karena nilai bendanya tapi karena nilai kebiasaannya. Kebiasaannya memakai laptop tiba-tiba lepas tak memakai laptop itu biasanya muncul rasa yang lain. Rasa kehilangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, kebiasaan yang tiba-tiba menghilang itu rasanya sulit dijelaskan.

      Hapus
  2. Kehilangan, sesuatu yang menyadarkan akan pentingnya saat masih bersama. tsah~

    BalasHapus
  3. Karena laptop uda jadi bagian dari hidup kita yah.. Mau ngerjain tugas ataupun kerjaan ya mesti pakek lappy.. :(

    BalasHapus
  4. setiap hari tangan memanjakannya,sekarang gak ada lagi ya ,saat dia hilang,jadi terasa beda :(
    kalo aku laptopnya mati -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya, berasa kehilangan.
      haduhhh, ikut prihatin :3
      Ehh, ndak apa deh. asal jangan rasa yang mati. Ya kan? 😝

      Hapus