Selasa, 06 Mei 2014

Langit Untuk Angga

Pernah merasakan bubungan pahit karena perbedaan? Haha ku rasa ada yang pernah, dan ada yang tak pernah, atau mungkin sedang merasakan 'pernah'. Maaf jika sering ku katakan kata 'pernah', karena menurutku 'pernah' adalah kata yang pas untuk mengatasi masalah soal kenangan masa silam.

Namanya Angga. Dan aku benar-benar tak ingat nama panjanganya, dan aku benar-benar tak ingin mengingat nama panjangnya.

Angga adalah seorang laki-laki yang manis. Yang sama sekali tak bisa berbahasa inggris. Dia satu-satunya teman yang ku anggap sudah sangat teramat dekat. Keluarga nya sangat melekat, bahkan aku bisa merasakan kasih sayang dalam keluarga kecilnya.

Saat aku menangis, hanya seorang Angga yang bisa membuatku berhenti.
Saat aku tertawa, hanya seorang Angga yang bisa meneruskan semuanya.
Angga itu adalah segalanya.

Pada hari yang sama dengan perpisahan sekolah. Aku dan Angga berjanji untuk pergi ke mall besar di Bandung barat, dengan mengganti seragam putih merah yang sudah kusam tentunya. Setelah lulus, aku dan Angga akan masuk ke sekolah menengah pertama yang sama. Angga sudah janji padaku, janji sepuluh jari yang tentunya hanya bisa dilakukan oleh aku dan Angga yang menciptakanya.

Pada hari pendaftaran, aku menunggu ditempat biasa. Didekat toko bunga, tempat aku dan Angga mencekrama sambil tertawa. Aku menunggu lama, tapi aku masih menunggunya, menunggunya untuk datang, sampai ku putuskan untuk pulang.

Seminggu kemudian, angga datang dengan setangkai bunga mawar dan coklat. Aku tersenyum malu, karena untuk pertama kalinya aku merasa menjadi perempuan dewasa yang tau apa itu cinta.

Keesokan harinya, satu pesan masuk tiba di ponsel baruku pemberi ibu karena aku diterima di negri. Ya, aku masuk disalah satu sekolah menengah pertama negri di Kota Bandung.
"Lang, angga lagi di bandara"

Aku tersenyum dan membalasnya.
"Kenapa sepagi ini?"

Aku dan Angga biasa melihat pesawat terbang dibandara dekat sekolah ku dulu. Angga suka suara pesawat ketika sedang lepas landas. Aku hanya bisa tertawa mendengar ada seseorang yang menyukai suara bising pesawat.

"Angga mau pergi ke malaysia. Bukanya itu mengasyikan! Nanti ku bawakan anting panjang"

Aku terdiam.
"Ngapain kamu ke malaysia?"

"Liburan sama papa"

Aku tak membalasnya. Aku merasa ditinggalkan. Tidak ada penjelasan, Angga pergi begitu saja.

Setiap hari aku menunggunya. Menunggu kabar kapan Angga akan pulang. Yang ku tau, Malaysia itu berjarak sangat jauh dari tempatku berada sekarang.

***

"Aku rindu suara kamu yang bisingnya melebihi suara pesawat terbang yang sedang lepas landas"

"Siapa ini?"
Ku balas dengan cepat dan tergesa-gesa ketika tau ada pesan baru masuk pada email ku.

"Angga"

Tiba-tiba aku tersedak pohon kelapa. "Bagaimana bisa? Ya tuhan ini itu Angga yang mana" suara penuh tanya bermunculan pada telinga dan kepala.

Ku balas lagi:
"Dari mana kamu tau alamat email ku?"

"Facebook mu."

"Kamu punya facebook?"

"Tidak"

Rasanya menyebalkan karena semua balasanya yang singkat dan seakan tak ada apa-apa.

"Ada apa? Ku pikir km sudah lupa."

"Setiap hari aku mencari mu"

"Aku sudah pindah"

"Ya, aku tau. Banyak yang berubah"

"Ya, memang sudah banyak yang berubah. Kamu fikir 4 tahun waktu yang sebentar?"

Unggah selesai.

Angga mengirimkan aku potret dirinya yang memang telah banyak yang berubah.

"Kamu masuk SMA mana?" Ku ajukan pertanyaan sederhana untuk menghangatkan suasana

"Aku sekolah dirumah"

"Oh"

Itu balasan terakhirku. Dan tak ada balasan lagi. Menyebalkan bukan, sudah bertahun-tahun Angga pergi dan datang lagi dengan Angga yang baru yang menyebalkan.

Tiga hari kemudian ku buka email ku dan ada satu pesan masuk, dan itu dari Angga. Dia memintaku mengirimkan nomor ponsel.

Satu bulan kemudian, ada nomor tak dikenal mengirimkan aku pesan yang hanya berisikan "aku ingin menebus kesalahanku" ku balas "siapa ini?" Dan tak ada balasan.

Hari itu adalah hari natal. Aku berlibur dirumah lama, Kota Bandung, satu-satu nya kota yang selalu membutku jatuh cinta. Entah dari segi bentuk apapun, tapi yang pasti Kota Bandung selalu jadi tujuan ku untuk berteduh.
Malam itu jalanan padat, motorku sampai tak bisa bergerak.

Lalu ku putuskan untuk pulang. Jalanan gelap membuatku tertuju pada sosok laki-laki yang sedang berdiri dengan tegap dengan menghadap kearahku dengan tepat.

“Maaf mas, ada perlu apa ya?”   

“Saya mau ke Langit mbak, rumah nya disini.” 

Laki-laki itu menunjuk kearah rumah lama ku.   

“Loh mas ini siapa ya?”   

“Saya teman nya. Mbak kenal dengan Langit?”   

Aku terdiam, laki-laki itu juga terdiam. Kami saling bertatapan. Aku mencoba mengingat siapa sosok laki-laki yang katanya adalah teman ku. Dan tiba-tiba laki-laki itu terdiam, dalam sekejap tangan nya sudah melingkar erat di pinggangku, tangan lembutnya terasa sampai ke punggung. aku ingat sekarang, belaian seperti ini yang selama ini ku rindukan.

“Aku lelah lang, aku mencarimu.”

Tanpa aba-aba air mata ku bocor dan turun deras tak tertahan. Pipi ku basah, suara rengekan seperti bayi besar sedang menggema ditelinga kami berdua.   

“aku rindu kamu lang.”   

Aku masih membisu menahan tangis, tubuhku yang didekap erat oleh laki-laki ini seperti telah menyerahkan diri sepenuhnya untuk dibawa pergi ke kerajaan mimpi, mimpi yang dulu telah kami bangun bersama dekat bandara husein sastra Negara.   

Aku dibawa pergi, tanpa pertanyaan, tanpa suara, aku membiarkan tubuhku di manja oleh dekapan-dekapan yang ku rindukan.   

Malam natal yang membawa rinduku sampai ke Bandung, jalanan padat yang membawaku pulang, pulang ketempat asal ku yang memang ku rindukan. Laki-laki ini bicara panjang lebar menjelaskan semua persoalan yang sampai sekarang masih ku pertanyakan. Aku tak bisa mendengar jelas, pikiranku hanya tertuju pada wajahnya yang ternyata sudah banyak berubah, telingaku hanya bisa mendengar music klasik yang dimainkan oleh pemain piano di kedai kopi ini.   

Aku sadar diri, aku berteriak sampai semua orang yang jaraknya tak jauh dari meja kami memperhatikan tingkahku yang seperti sedang kerasukan.   

“Kamu kemana Angga?! Kamu pergi! Meninggalkanku sendiri tanpa kabar yang jelas dan tanpa perihal yang tepat kamu meninggalkan aku sendiri dengan semua tanda tanya yang sama sekali tak ku mengerti” 

aku menangis sejadi-jadinya. Satu pelayan menghampiri kami, pelayan wanita itu mengelus-elus bahu ku. Mungkin pelayan itu member i isyarat bahwa aku harus tenang karena semua orang yang berada di kedai kopi itu melihat kearahku dengan wajah yang sepertinya ingin tau. 

Angga merangkulku, memohon padaku untuk berhenti berteriak seperti orang tak waras, dan tiba-tiba perhatianku tertuju pada kalung salib yang melingkar dileher Angga. 

Tiba-tiba jantungku sudah lagi tak berdetak, berhenti seketika.   

“Sejak kapan kamu berpindah agama?” aku bertanya pelan dengan iringan air mata yang sudah tak tertahan   

“Apa?” Angga tak merespon pertanyaan ku   

“Kalungmu ngga.” suara bicaraku semakin pelan  

“Dari dulu aku bukan Islam. Apa kamu lupa?”   

Jantungku hilang dari tempatnya.   

“Lang.. langit.. langit!”   
Suara Angga membangunkanku dari lamunan yang sedang mengingat masa lalu itu. 

“Apa benar Angga bukanlah Islam?” hatiku berbisik tak kalah pelan. Aku memandangya   

“Kamu benar-benar cantik dengan jilbab itu lang.” 

“Terimakasih.”   

Aku meminta Angga untuk mengantarku pulang. Tanpa bertanya Angga meng-iya kan nya.   

“Tapi sebelum pulang, bolehkah kita berhenti di bandara? Aku ingin melihat pesawat lepas landas denganmu lagi.”   

“Tidak. Ini sudah malam. Aku ingin pulang.”   

“Aku mohon lang.”   

“Ya.” Aku menjawab singkat

Ya Tuhan, badanku lemas. Batinku lemah, dan aku masih tak percaya soal perbedaan Agama antara aku dan Angga. Aku melihat Angga yang sedang menunggu pesawat untuk lepas landas, wajah nya melihat ke atas, sehingga aku bisa melihat dengan jelas kalung salib yang melingkar di lehernya. Aku masih tak percaya. Angga menghampiriku dengan wajah kecewa. “Pesawatnya belum ada yang lewat.” Aku tertawa dalam hati “Apa menurutmu pesawat sama dengan kendaraan umum yang sering lewat?” sudah ku bilang bukan, seorang Angga selalu bisa membuatku tertawa.   

“Kamu tau lang, tiap aku sedang menunggu pesawat melewati kepala, aku pasti sedang membayangkan wajahmu yang bulat manis di atas langit.”   

Aku tak menjawab omonganya, aku hanya terdiam membisu mendengarkan Angga bicara.   

“Dan apa kamu tau lang, betapa bahagia nya aku yang tau akan diajak papa liburan ke Malaysia. Kamu pasti tau kan kalau aku dan papah tidak berkomunikasi dengan baik setelah mama meninggal” 

Aku tak menjawab omonganya, aku hanya terdiam membisu mendengarkan Angga bicara.   

“Dan apa kamu tau lang, bagaimana hancur nya hatiku ketika papa katakan bahwa aku tak akan pernah pulang. Karena ternyata papa memutuskan untuk pindah. Dan yang membuatku hancur alasan papa yang katanya ingin melupakan semua kenangan bersama mama di Indonesia”   

Aku tak menjawab omonganya, aku hanya terdiam membisu mendengarkan Angga bicara.   

“Lang, setiap hari aku merindukanmu.”   

Aku tak menjawab omonganya, aku hanya terdiam membisu mendengarkan Angga bicara. 

Tapi kini kepala Angga sedang menghimpit diantara telinga kanan dan bahu kanan ku. Ku akui, ini adalah malam yang paling indah, dengan hiasan bintang, tanpa pemilihan waktu yang harusnya aku ikut serta untuk menyetujuinya, satu kecupan manis mendarat di bibir ku. Dengan lembut kini angga memelukku. Aku tau, Tuhan sedang mempersiapkan perpisahan untukku.

Selasa, 15 April 2014

Toko Roti

Malam ini ku putuskan untuk mengungkap semuanya. Rasa kecewa yang membentuk menjadi cermin yang memperlihatkan sosok ku yang mulai rapuh. Tak mampu lagi berdiri tegak menompang beban yang ku rasa sendirian. 

Ponsel ku berdering...

"Hallo... kamu kemana aja sih sayang?"

"Ada ko ini."

"Ko datar sih jawabnya? Kamu gak kangen sama aku?"

"Kangen? Hmm.. i...ya kangen ko"

"Ko kamu gitusih? Ada apa?"

Aku menghela nafas panjang...

"Sebenarnya... aku... hamil Rif"

"Apa? Kamu hamil?" Suara nya tercegang kaget.

"Iya..." 

"Siapa yang sudah meng-hamili kamu Rin?"

"Kamu Arif!!" Aku berteriak dengan suara rintihan dan butiran air mata

"Hah? Tapi aku tak pernah melakukan hal sekeji itu pada orang yang ku cintai."

"Lalu? Beberapa bulan ini apa?"

"Apa? Jangan bicara sembarangan rin!!!"

Suasana kamar ku mendadak hening. Mata ku basah seperti habis menghujankan diri di lapangan terbuka. Rasanya mati rasa

"Rin... bagaimana aku bisa melakukanya jika sudah hampir delapan bulan ini aku tak bertemu denganmu karena soal pekerjaan yang merumitkan waktuku?"

"Kenapa kamu tanya aku?" Aku sedikit berteriak

"Dimana letak kesalahanku rin?"

"Salahmu... kamu tak pernah mau datang menemuiku. Bahkan untuk sehari pun kamu tak mau meluangkan waktumu. Jadi kamu tak pernah tau akan keadaanku."

"Tapi Rin... pekerjaanku..."

"Sudahlah! Semuanya sudah terlambat"

"Maksudmu?"

"Aku sudah keguguran."

"Rin... aku tak mengerti."

"Kamu bukan lagi laki-laki yang ku cintai. Kamu berbeda, kamu memberikan aku sesuatu yang pada akhirnya benar-bebar meninggalkanku, dan itu membekas dan menyakitkan."

"Aku minta maaf Rin.. aku benar-benar mencintaimu."

Itu kalimat terakhir yang ku dengar dari suara yang berada jauh di ujung telepon sana. Arif namanya, dia laki-laki yang ku kenal baik. Ya tentu, dia adalah kekasihku. Hubungan yang ku anggap akan menjadi perhentian ternyata masih saja menjadi persinggahan, waktu yang membuktikan bahwa cinta akan ditepis oleh kesibukan, hingga pada akhirnya ada pihak yang terabaikan.

Pagi ini hidungku sudah dimanjakan oleh aroma roti bakar yang baru keluar dari panggangan. Juga kopi hitam dengan caramel diatasnya. Toko roti di persinggahan jalan dago selalu menjadi tempat pertama yang ku kunjungi sebelum pergi ke jalan banda. 

"Ririn!" Suara yang tak asing kudengar. Aku membalikan tubuh dengan cepat.

"...Rif" 

"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini" laki-laki itu spontan memelukku tanpa ragu, tanpa tau banyak pasang mata yang melihat kita sedang berpeluk mesra didepan umum.

"Aku pun. Dan.. ka..mu.. sedang apa di..si..ni?"  Suaraku terbata-bata, mataku terbuka lebar melihat kearah wajah laki-laki ini. Benar-benar tak percaya

"Ini toko roti ku Rin. Kebetulan sekali kita bisa bertemu. Ini hari pertama aku berada di Bandung."

Suara nya masih tetap sama tak berubah. Tanganya menggenggam tanganku dengan erat. Dia tak banyak berubah, masih tetap Arif yang tampan.
Terdengar lonceng kecil merdu tanda pintu toko roti itu terbuka... ada gadis cantik yang berpenampilan manis masuk dan mengampiri kami. Gadis itu memandang wajah ku dan wajah Arif.

"Mama.. ayooo ma! Nanti Tiar telat sekolah." Gadis itu menggenggam tanganku yang sedang digenggam Arif

"Ma...ma?" Arif melihat kearahku seperti sedang mempertanyakan sesuatu. "Dia anakmu?"

"Iya. Namanya Tiar Cantika."

Arif terdiam sejenak. Wajahnya seperti yang sedang memikirkan sesuatu yang telah lama terlewat.

"Iya sayang... tunggu di mobil sama papa ya."
Dengan cepat gadis kecil itu melepaskan genggamanku dan pegi ke luar toko

"Pa...pa?" Arif melihat lagi kearahku dengan tatapan yang sama. 

"Iya. Aku sudah menikah Rif."

"Menikah? Dengan siapa?"

"Dengan laki-laki yang selalu ada untukku. Yang memperjuangkan pembuktian cintanya tanpa batasan waktu." 

"Tapi Rin, sampai saat ini aku belum pernah mencari penggantimu, bahkan aku tak pernah melupakanmu."

"Ketika masih denganku saja kamu sudah sering melupakanku Rif"

"Aku sibuk dengan pekerjaan ku bukan berarti aku melupakanmu. Aku kerja pun untuk mu, untuk masa depan yang kamu impikan itu. Untuk rumah yang kau idam-idamkan, yang ada kolam renang dan dapur yang besar. Dan seorang anak perempuan yang bernama Tiar." Suara nya melemah

"Tapi aku pun membutuhkanmu."

"Kamu egois! Setelah meninggalkanku tanpa kabar sekalipun. Aku sibuk bekerja untuk mu di Jakarta sana, dan sekarang aku menemuimu setelah kamu menikah dan mempunya seorang anak?"

"Aku tak ingin diperbudak oleh cinta semu, yang samar tanpa waktu. Kamu benar-benar tak terlihat saat itu."

"Apa jangan-jangan gadis itu adalah anak ku?"

"Anakmu? Aku tak pernah melakukan hal bodoh seperti itu. Apalagi kamu kan tak pernah mau menemuiku di tengah-tengah kesibukanmu."

"Tapi malam itu, lima tahun lalu kamu bilang bahwa kamu hamil. Dan... keguguran."

Hatiku berdegup kencang. Menahan rasa heran ternyata Arif masih mengingatnya. Pipi ku mulai basah karna air mata, mataku memerah, hidungku tersumbat. Aku merasakan mati rasa persis seperti malam itu.

"Kamu kenapa Rin?" Arif menompang tubuhku yang tiba-tiba duduk dibangku tamu

"Kamu tau Rif... aku memang telah hamil olehmu. Bahkan sudah membesar. Aku bertahan sendirian menompangnya. Sekuat tenaga aku usahakan agar tak terjadi apa-apa pada keadaanku. Dan ternyata pada akhirnya aku tak mampu. Aku melepaskanya, aku merelakanya, aku membiarkanya keguguran. Dan hilang."

"Rin... aku masih tak mengerti. Tadi kamu bilang, kamu tak pernah melakukan hal bodoh seperti itu. Dan aku pun sibuk tak menemuimu. Lalu kamu hamil, hamil apa?"

"Aku hamil rindu mu Rif."

"Rin..." mata nya berkaca-kaca, bahkan aku bisa melihat wajahku dari balik matanya.

"Aku menahan rindu itu sendirian hingga rindu itu semakin lama membesar. Kamu sibuk dengan pekerjaanmu, aku yang menompang rindu sendirian hanya bisa menunggu dan menahan sakit ketika rindu itu tak kau gubris. Lalu pada akhirnya aku keguguran. Melepaskan rindu itu dan mengikhlaskan Arif-ku."

"Rin... aku menyesal."

Aku tak dapat lagi menahan tangisku ketika Tiar masuk dan menggenganggam lagi tanganku. Ditemani laki-laki yang kini menjadi suamiku.
Arif berjabat tangan berkenalan setelah sibuk membasuh air matanya dengan tangan yang sama.

"Hay, aku teman lama Ririn. Kalian sangat serasi. Dengan gadis manis bernama Tiar sudah lengkap kebahgiaan kalian." Arif tersenyum kearah Tiar, suami ku, dan aku.

Keesokan harinya, ditempat yang sama, di toko roti yang sama. Sudah tak ku lihat lagi laki-laki yang telah menghamiliku dengan rindu.

Kemarin adalah pagi terakhir hubunganku dengan Arif.

Rabu, 19 Maret 2014

Cin(t)a

“Sesuai dengan hukum Newton 1, kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran” – Cina

---

“Eh nama lo sebenernya apaan sih?”

“Cina”

“Nama asli lo?”

“Cina” dia sedikit memelas

“Kepanjanganya?” aku mulai penasaran

“Cina. Gak pake republik, gak pake rakyat.” dia tersenyum sambil mengepal tanganya

Tega banget ya bokap lo, udah tau muka lo Cina, masih dikasih nama Cina” aku tertawa

“Bapak ku bukanya mau kasih nama Cina, petugas akte nya saja yang bodoh. Bapak ku bilang mau kasih anaknya nama nama cina, dikira petugasnya nama ku memang cina.” dengan suara khas batak nya dia mulai bicara lantang

“Terus bokap lo gak protes?”

“Bagus ko namaku, identitasnya jelas. Daripada nama kau, bisa-bisa disangka orang Arab.” dia mengejek

“Annisa itu nama surat di Alquran, artinya perempuan.”

“Tega kali bapak kau, udah tau muka kau perempuan, masih diberi nama perempuan.”

Aku tersenyum “Iya nih, gue gasuka nama gue.”

“Kau maunya laki-laki?”

“Di surat An-nisa ada tafsir yang nyaranin mukul istri.”

“Kawin ko kaya tinju?”

“Islam bukan agama bar-bar. Makanya gue lebih suka baca yang tafsir bahasa Inggris.”

“Ah mental jajahan kali kau.”

“Bukanya begitu.”

“Abis sukanya yang bule-bule.”

“Yang bikin turunan Iran, cewek, nah disana An-nisa nya lebih lembut.”

“Ah perlu juga aku baca itu, setauku tak ada annisa yang lembut.”

Kita saling memandang. Baru kali ini ada orang nyela-nyela depan muka, sedikit menggelitik dihatiku tentang laki-laki ini. Cina, mahasiswa berusia 18 tahun keturunan Batak dan berwajah cina. Cina akan membantuku menyelesaikan tugas akhir karena dunia hiburan yang menjadikanku artis membuat kuliah ku terganggu, sampai IP ku hanya 2,1 jadi aku disuruh mencari pembimbing untuk menyelesaikan tugas akhir, dan ku fikir, cina lah yang cocok denganku.

Eh ini rumah susun atau apartemen, masa ada fitnes, taman dimana-mana”

“Emang yang boleh sehat cuma orang kaya ya

“Pantas saja kau dibantai, proyek ini gak visible, siapa yang mau bayar?”

“Buat apa punya pemerintah kalo gak bisa ngasih rumah buat warganya?”

“Kau disubsidi sekolah di sini buat bantu pemerintah mikir kalo kau bisanya cuma nyalah-nyalahin pemerintah, buat apa kau diluluskan, republik ini sudah kebanyakan sarjana nyinyir”

Aku terdiam mendengar cina bicara sampai urat lehernya terlihat jelas

“Dindingnya mana? Jendelanya mana?” cina melanjutkan pembicaraanya

“Pemilik bisa mendesain sendiri denah masing-masing, gue cuma perlu bikin batasan dan strukturnya” jawab ku singkat

“Jadi buat apa mereka bayar arsitek?”

“Arsitek tuh suka berasa tuhan, berasa yang paling tau rancangan terbaik buat manusia, yang paling tau denah terbaik ya.. yang ngejalanin sendiri”

Cina memandangku  “Jenius!”

“Hah?” aku bengong

“Emang arsitek tuh suka berasa tuhan, makanya gak kepikiran kalo ada rancangan lain yang lebih baik.” cina tersenyum sampai gigi putihnya yang rapi terlihat jelas

Aku dan cina pergi makan siang, memburu bakso pinggir jalan yang diberikan pemandangan ibu kota yang terlihat kumuh karena rumah-rumah yang saling menutupi satu sama lain.

“Inih baru arsitektur kontemporer indonesia, nih beda gak kayak kota-kota lain di dunia mirip amerika semua.” cina bergumam

“Di bayangan gue, neraka kayak gini nih, over populated and smooky.” Aku menyela

“Makanya didesain biar gak jadi neraka, kalo desain tuhan pasti gak semrawut, dia bisa gabungin bentuk dan fungsi, seni dan iptek, terus ngegunain semua itu buat satu tujuan, The glory of his name.”

“All for the glory of his name, gila tuhan arsitek banget tuh. tuhan tuh lebih sutradara tau, yah sutradara banget. kalo Allah ketemu Nabi Muhammadnya dijaman sekarang, pasti bikinnya film”

“Ditulis sajalah, bikin film terlalu instan” cina menawar

“Generasi kita gak mempan dikasih tulisan kita nih generasi you've got philosophy in the movie.” Aku tak mau kalah

“Filosofi kok di film, kayak gini lah jadinya, kayak anak muda jaman sekarang, kolase filsafat barat tak ada pun kedalamannya”

“Lah daripada gak tau sama sekali”

“Kalo tau dikit malah bahaya, biasanya malah jadi ateis, the thinking is just too much, default is so cool, pengennya serba instan biar cepet.” cina membatah

Adzan terdengar, ku tinggalkan cina yang masih mengomel sendirian. Ku ajak cina agar cepat memakan sisa makananya. Tiba tiba mang bakso itu mengira kita adalah pasangan, karena panggilan ku ke cina “cin”, maka dikira adalah “cinta”.

“Terimakasih cinta.” cina menatapku sambil menggenggam erat tanganku

“Sama-sama cinta.” Aku pun menggandeng tanganya sambil berjalan

Selesai shalat, aku dan cina keluar untuk mencari angin di sore hari. Di kursi panjang, tempat aku dan cina sedang duduk bersama. Tiba-tiba ditanganku ada semut kecil yang mondar-mandir…

“Jangan dibunuh, entar juga dia pergi sendiri kalo udah gak ada yang manis.” aku menepak tangan cina yang akan membuang semut itu dari tanganku

“Yaaah, kalo ada kau gak pergi-pergi dong”

“Gak guna deh lu gombalin gue, gak mau gue sama lo”

“We're so fit for each other, kau cantik aku ganteng, kau yatim aku piatu, kau bego aku pintar.”

“Lo kristen gue islam” aku memotong pembicaraan cina

“Exactly, entar kita bisa di display taman mini jadi simbol kerukunan umat beragama, kau kan belom pernah ama yang beda agama, atau kau pindah kristen aja nis?”

“Yakin lo masih mau sama gue ? tuhan gue aja berani gue khianatin, apalagi lo entar.”

Cina terdiam, akupun terdiam. Sore itu benar-benar adalah sore tersunyi di minggu ini.

---

Hukum newton 2 : cewek cantik pasti gak ngerasa cantik” – Cina

Cina sedang berkunjung kerumahku, dalam keadaan sedang sibuk berdandan dan merias wajahku, cina masih saja bisa-bisa nya menganggu ku dengan obrolan seputar mata kuliah.

“Bener kau mau jadi artistek nantinya?” cina bertanya dengan melihat kewajahku dengan jarak sangat dekat

“Lo gak percaya sama muka arsitek gue?” gugup membantai seluruh perasaanku “Eh apaan nih?” mengeles

“Hasil ujian akhir ku. Mau ku kirim ke bagian beasiswa”

“Gila, lu pernah gagal gak sih?” tanyaku yang masih tak percaya pada semua hasil ujian cina yang terlihat sempurna

“Gak lah, siapa dulu Tuhan aku”

Aku tersenyum kecil, ku lihat dengan teliti selembaran itu..
“Latihan kepemimpinan kristen, ngapain aja lo?”

“Sama lah, disuruh ngerakit bom.” cina tertawa

Aku membuang selembaran itu ke lantai, dengan nada kesal karena pertanyaanku dipermainkan, ku katakana pada cina bahwa aku akan keluar. Harus bertemu dengan laki-laki yang mau orang tua ku jodohkan, ujarku pada cina.

“Kawin tuh seharusnya ibadah” cina bicara seolah mengajariku tentang agama

“Nyenengin orangtua ibadah juga kan, toh semua cowok sama aja”

“Tunanganmu jawa?”

“Chinese… tapi islam”

“Ternyata kamu mau juga sama cina”

“Menurut gue cina tuh menarik banget. kalo lo sukanya yang kayak apa?”

“Kalo istriku, harus lebih cinta tuhan aku daripada aku”

Aku terdiam…

“Kata pak arifin, mending gue jadi artis aja daripada jadi arsitek” aku memelas

“Karena kau cantik atau karena kau jago nangis?”

“I wish karena gue jago nangis”

“Dunia ini udah kebanyakan orang pintar, perlu yang cantik-cantik untuk menghibur”

“Menghibur ? setiap kali gue dateng, suasana yang tadinya seru pasti jadi garing”

“Yaialah, semua orang tuh jaim di depan kau”

Cuma tuhan yang tau rasanya jadi gue”

“Nah gitu emang kau harus berserah sama tuhan kalo kau ada masalah?”

“Maksud gue, cuma tuhan yang tau rasanya jadi selebritis. tuhan emang suka dipuja dan disembah, in all time.”

“Selebritis tuh makhluk aneh sekali pun, susah-susah kerja biar dikenal orang, eh udah terkenal malah gak pengen dikenal orang” cina mengejek

“Lo kira kenapa tuhan nyiptain ateis? capek tau disembah dan dipuja semua orang setiap saat. gak bisa ya orang liat gue apa adanya?”

“Cuma aku ama tuhan yang bisa cinta ama kau bukan karena kau cantik”

“Jadi?” tanyaku yang masih tak mengerti

“Karena kau kaya” cina tertawa

“Tuhan suka yang kayak apa?”

“Yang IPnya diatas 3”

“Berarti TA gue harus A, baru tuhan suka.”

“Makanya kita selesaikan TA kau, biar kita patahkan itu hukum newton 1 "kecantikan tidak berbanding terbalik dengan kepintaran"

“Cin, hukum newton 1 itu suatu benda tidak akan berubah, sampe ada benda lain yang memaksanya berubah" aku tertawa sambil menampar pipi cina dengan pelan

“Kata tuhan aku, kalo ditampar pipi kiri, kasih pipi kanan”

“Keburu bonyok duluan dong “

“Demi WORLD PEACE” cina mengepal tanganya sambil berteriak kearahku

“Kalo ada yang nampar pipi kiri lo, lo tampar balik pipi dia, lo pastiin dia gak bisa seenaknya nampar pipi orang lain lagi baru dunia damai.”

“Semangat balas dendam dicampur semangat nyalahin orang lain, that's really help to go made a world peace.”

“Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda, kalo Allah cuma mau disembah dengan satu cara?”

“Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu tapi tetep yang bener cumasatu.” cina merayu

“Duuuh, capek deh gue ngomongin beginian. lu gak bisa ya kayak cowok normal lainnya? ajakin gue ke paris kek, beliin gue berlian kek, bikinin gue puisi kek”

“Yuk kita ke ambon yuk, biar kau liat agama tuh udah jadi propaganda paling murah dan efektif sepanjang sejarah bunuh-bunuhan manusia”

“Dunia ini udah kebanyakan agama, kebanyakan tuhan”

“Kita dikasih prevelege buat belajar, kewajiban kita untuk pelopori perdamaian, orang bodoh yang gak tau apa-apa lebih mudah untuk diprovokasi”

“Lo kira di yerussalem orangnya bego semua? ribuan tahun gak selesai juga tuh konflik agama”

“Jadi kita diem aja”

“siapa sih lo coba nyelesaiin konflik agama dunia, tuhan aja gak bisa.” Aku mulai bersikeras

“The thinking is just too much”

“Cin, lo ngomong panjang lebar disini sekalipun akhirnya tetep sama, tetep perang, ambon tetep bunuh-bunuhan.”

“Ignorance...., god....”

“kalo lo gak bisa selesaiin konflik yang jauh disana, the least that you can do, jangan coba bikin konflik baru disini deh.” aku memandang wajah cina dengan serius berharap dia mau diam dan menyelesaikan pembicaraan ini

Berbulan-bulan aku dan cina bersama. Untuk memperingati hubungan pertemanan kami, kami memutuskan untuk makan malam bersama di restoran ternama di ibu kota. Setelah memutuskan menu makanan, dan makanan tiba dimeja kami. Kami mulai beroda, ada perdebatan yang selalu terulang saat itu.

“Mari kita berdoa, menurut agama dan kepercayaan ku” cina memulai pembicaraan seperti biasanya

“Enak aja. Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama, yang kami sembah dengan berbagai cara” aku mulai berdoa

“Terimakasih atas berkat yang kau berikan, jauhkanlah kami dari percobaan” cina meneruskan doaku

“Aamiin. Aku dan cina mengucap Amin dengan nada seirama

---

Pertemanan kami benar-benar sudah lama menurutku, sekarang saja aku sedang menemani cina merias pohon natal dirumah nya.

“Nis, tambah apalagi yah?” cina bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kearahku

“Karena gue islam, jadi hiasannya ketupat aja ya.” aku menggodanya

“Aaaa, masuk neraka kau?”

“Kenapa emangnya?”

“Tadi pagi aku baca selebaran di kampus, katanya ucapin selamat natal aja tuh haram, apalagi tuh ngerayain natal”

“Islam kan banyak, ada ulama yang bilang boleh juga kok. di islam tuh kelahiran yesus juga ada tau” aku jawab seadanya

“Kalo gitu kenapa kalian gak ngerayain?”

“Karena lo dianggap salah, masa rasul dianggap tuhan. makanya ada yang melarang nyelametin natal, karena dianggep membenarkan ajarannya”

“Kalo kau termasuk yang mana?”

“Ya gak boleh lah nyelametin natal, masuk neraka tuh sama orang kristen.”

“Welcome to hell then” cina bicara sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi

“Gak mau ah panas.”

“Well, this is not christmas anyway. ini semua bukan natal. don't worry lah, kalo tuhan kau tanya, i'll tell him we just participating in a big commercialism of christianity to support the advance goals of capitalism.”

“Anything god want me to hell for that.” Aku jawab lagi seadanya

“Mak, kapitalisme pun tak boleh ama tuhan kau, bisa penuh nanti neraka kau.”

“Kalo versi tuhan lo? gue boleh masuk surga gak?” aku tersenyum

“Kalo aku tuhan, kau pasti ku masukkan surga.” cina membalas senyumku

Cina pamit, meninggalkanku dirumahnya. Disini hanya ada aku, cina tinggal di Jakarta sendiri, jika bukan karena beasiswa cina tak mungkin ada di ibu kota. Ku nyalakan tv sambil menunggunya pulang dari gereja, ku rubah-rubah chanel nya karena mulai bosan. Dengan terdengarnya suara pergeseran pintu tertanda cina sudah pulang kerumah, pandanganku tak lepas dari acara tv yang sedang memberitakan bahwa beberapa gereja di Indonesia terserang bom hingga menewaskan beberapa puluh orang, bahkan ratusan.

“Aku gak tahan, gak enak banget jadi muslim kalo lagi ada kejadian kayak gini, maaf banget cin”

“Bukan salah kau kok, ada benarnya juga, udah tau indonesia mayoritas muslim malah bikin gereja”

“Jaman dulu muslim minoritas juga, hindu semua nih negara, bisa jadi 10 tahun lagi yang mayoritas Kristen”

“Mungkin ini petunjuk dari tuhan, harusnya orang kristen tuh pergi dari indonesia, aku mau ke singapur, mereka nawarin beasiswa.

“Bukannya kamu juga dapet beasiswa disini?”

“Kayaknya aku kurang islam untuk dapat beasiswa disini.”

“Tabah cin, inget hollywood ending. tuhan pasti lagi nonton kita, nungguin, kalo 70 menit filmnya langsung happy ending, entar gak seru.”

“Tuhan, sutradara basi. lebih baik gak usah ada tuhan, gak usah ada agama, gak ada perang, kau suruh aku masuk islam pun aku mau.”

Aku terdiam sejenak, cina memandang kearahku. Ku rasa bahwa cina benar-benar sedang marah pada Tuhanku.
                                                                       
---
                                                                       
Satu minggu sudah aku dan cina tak bertemu, sejak kejadian itu kami benar-benat tak dekat seperti dulu. Keadaan semakin ekstrem karena persoalan setelah natal dan pengeboman di banyak gereja di Indonesia. Sampai pada akhirnya aku akan mencicipi harumnya topi sarjana, aku sudah lulus. Ya, ini juga karena bantuan cina.

Malam itu, aku memutuskan untuk menghubungi ponselnya. Aku ingin bertemu denganya untuk mengucapkan terimakasih, kami benar-benar bertemu, dalam pertemuan itu aku dan cina memutuskan untuk membuat film pendek tentang kesan dan pesan bila kami akan berpisah jauh.

Cina     : Hai Tuhan…

Aku      : Allah aku yakin, kau udah nyediain jodoh yang terbaik buat cina. tapi kita masih saling sayang, gak dosa kan ?

Cina     : If you love someone, you gotta let them go.

Aku      : Basi sih, tapi bukan berarti gak bener

Cina     : my life is not about me.

Film itu hanya percakapan aku dan cina yang menghadap kamera sambil memakai kaos yang bertuliskan tentang pengertian kami pada saat perpisahan malam itu.

“God is a director”  Tulisan yang tertulis di kaos ku
“God is an architect”  Tulisan yang tertulis di kaos cina

Setelah film itu selesai, kami berciuman. Ciuman perpisahan.