Sabtu, 16 April 2016

Bersyukur.



Semakin tumbuh dewasa, semakin banyak hal yang ku syukuri.

Salah satunya adalah aku tak lagi harus mencari. Aku tak perlu lagi mengelilingi bumi dan menyebrangi ribuan bahkan jutaan waktu hanya untuk bertemu dengan pria yang ku impikan sejak dulu, yang bisa setiap hari menghabiskan waktu bersama ku, yang mengerti apa kemauan ku tanpa harus ku beri tahu, yang sedia mau membantu ku kapan pun aku butuh, yang bisa memberikan makan malam romantis setiap sabtu malam, yang sempurna yang bisa ku pamerkan pada teman-teman.

Sampai suatu hari, aku yakin hatiku mengatakan sesuatu; “dialah pria yang ingin kunikahi!” kemudian aku tersenyum. Ternyata semakin tumbuh dewasa, semakin banyak hal yang membuat ku faham. Aku tak lagi menginginkan pria yang ku impi-impikan, aku hanya butuh pria yang mampu bertahan meskipun aku berhasil membuat amarahnya memuncak hebat, aku hanya butuh pria yang bisa menyempatkan waktunya untuk ku ditengah kesibukan pekerjaanya, aku hanya butuh pria yang selalu berusaha membuat ku bahagia meskipun dengan caranya yang sederhana.

Kemudian aku merasa tak ada lagi hal yang perlu ku cemaskan, seperti takut pria ini menghilang meskipun aku membuatnya jengkel berulang-ulang, yang dihadapannya aku bisa menangis dan marah bahkan menyalahkan segala masalah padanya, yang dengannya aku bisa bicara apa saja sampai mengadu keluh kesah atau menceritakan beberapa hal yang sebenarnya tak terlalu penting untuk ku utarakan, seperti misalnya aku tak bisa tidur semalaman hanya karena mata ku gatal.

Lalu aku sadar, semakin tumbuh dewasa, semakin aku yakin bahwa aku tak lagi menginginkan pria yang ku impi-impikan, aku hanya perlu bersyukur memiliki pria yang saat ini ku panggil sayang.

Jumat, 12 Februari 2016

Rindu



Teruntuk Aku,

Aku rindu menulis.
Sebenarnya, hari ini tubuh ku lelah dan meminta istirahat. Berteriak meminta pertolongan pada tempat tidur untuk dimanjakan.

Aku rindu mengisi halaman blog ku. Menyusun kata demi kata sehingga menjadi sebuah bahasa yang menyenangkan untuk dibaca. Entah itu akan berakhir dengan bahagia atau bahkan tangis yang menyesakan dada.

Aku rindu mencurahkan segala rasa dalam sebuah kalimat yang mengandung makna. Tanpa perlu harus menjelaskan apa yang ku rasa melalui bicara. Sejujurnya aku tak terlalu suka banyak bicara, dalam kata lain adalah mengingat betapa mulai berantakanya hidup ku sekarang.

Aku rindu terlelap yang melewati pukul tengah malam. Mengadu semua keluh kesah pada kertas dan sebuah balpoint saja. Aku bisa santai semalaman tanpa harus memikirkan kegiatan esok hari yang padat dan pemikiran tentang tugas-tugas. Aku ingin bebas.

Aku rindu suasana hati ku yang dramatis. Mengartikan segala bentuk rasa dalam aksara kata yang sering ku katakan adalah puisi lama. Kata-kata yang tak terfikirkan seolah bermunculan dalam kepala tanpa harus diminta.

Aku rindu membaca buku, memaksa otak ku untuk menerima banyak lagi ribuan kata atau bahkan sampai jutaan kata.

Aku rindu membuat diriku nyaman seperti semula kala.

Aku rindu tertawa.

Jumat, 05 Februari 2016

Pantai


Sayang,

Pernah kah kau berfikir kemana perginya kita setelah menikah nanti? untuk menghabiskan waktu bersama dari matahari terbit hingga matahari terbenam? Membicarakan segala hal sampai habisnya bahan obrolan, sampai bibir kita sama-sama lelah karena terus-menerus tersenyum sepanjang malam mengingat bahagianya kita dengan status yang halal.

Boleh kah jika ku beri saran?

Bagaimana jika kita ke pantai? Aku lebih memilih mendengarkan bisikan angin yang tenang ketimbang pergi ke tempat yang ramai, aku lebih memilih menginjakan kaki ku di pasir menggelikan ketimbang harus terus-menerus berdiri di aspal seperjalanan.

Kita bisa ke salah satu pantai terindah di Indonesia, pantai yang memiliki keindahahan yang tak bisa kita bayangkan, pantai yang dijuluki “Surga Dunia”. Kita bisa menikmati air laut nya yang berwarna biru bersih dengan ombak yang begitu tenang disana, kita juga bisa menikmati kecantikan pasir putihnya hingga pemandangan dasar laut yang sangat menganggumkan.

Ah ya, kau pasti tau bahwa aku suka sekali menyelam. Dengan itu aku bisa merasa sangat tenang. Aku akan mengajak mu melihat keindahan ratusan terumbu karang yang sangat menakjubkan, membawa mu melihat ikan-ikan kecil yang berwarna-warni seakan menari karena melihat kedatangan kita.

Kau harus tau bahwa selain keindahan yang bisa kita lihat dengan mata kita sehari-hari, ada keindahan bawah laut yang tak kalah indah nya. Sekali-kali kau harus melihatnya, juga menikmatinya.

Tapi, jika kau tak mau juga aku tak akan memaksa. Aku tau kau takut menyelesuri air yang memiliki kedalaman yang tak bisa kaki mu capai. Aku tau kamu tak akan mau melakukan itu. Tapi tak apa, kita masih bisa berjalan bersama mengitari pantai, menikmati senja, bermain ombak sambil tertawa lepas bersama. Karena dimana pun kamu berada, disanalah aku merasa bahagia.

Tapi sayang,
Jika kau tak mau pergi ke pantai, aku tak akan marah. Jika bahkan kau memilih untuk bekerja setelah pernikahan kita pun aku tak akan marah. Kita masih bisa menghabiskan waktu bersama di rumah yang akan selamanya kita tempati bersama, tempat dimana kita akan membesarkan anak-anak kita kelak, tempat dimana kita akan berbagi kisah dan cerita sampai tua.

Aku akan berusahan membawakan rasa tenang yang sama dengan rasa tenang saat aku menyelam ke dalam rumah kita. Aku akan membawakan kenyamanan yang sama seperti saat aku merasa nyaman saat kaki ku menginjak pasir pantai. Aku akan menceritakan bagaimana bahwa dirimu bisa sama menakjubkan indah nya dengan keindahan yang ku lihat di bawah laut sana.

Karena bagi ku, pantai dan kamu itu sama; sama-sama tempat menyenangkan untuk jatuh cinta berulang-ulang.