Selasa, 13 Mei 2014

Langit Untuk Angga (part 3)

Hari ini adalah hari terakhir aku melaksanakan ujian nasional. Setelah keluar dari ruangan ini, dengan resmi aku sudah selesai urusan dengan dunia pendidikan sekolah menengah atas. Sepulang nya, kepalaku seperti tergoncang keras karena pergantiian pemikiran dari soal menjadi memikirkan soal Angga.   

Aku kehilangan komunikasi dengan angga setelah angga meninggalkanku ke bali, padahal seminggu setelah angga pergi, aku dan angga masih berkomunikasi dengan baik, saling bertanya kabar, memberikan semangat satu sama lain, melakukan percakapan dengan telepon genggam. Hampir semalaman aku merayu ibu agar mengizinkan aku menunggu kelulusan di kota bandung, alasan yang logis untuk aku sambil menunggu ditemukan oleh angga.   

***   

Satu hari, dua hari, tiga hari, seminggu sudah aku menunggu angga yang ternyata tetap tak kunjung datang. Rasanya seperti mengharapkan hujan salju di tengah-tengah kota; suatu ketidakmungkinan dan satu hal yang mustahil bukan.   

Ini adalah minggu malam ke dua aku di Kota bandung menunggu angga pulang ke sisi ku lagi. Seperti anak remaja lainya, aku memasang status di Blackbery Mesangger. Bebera menit setelahnya ada chat masuk dari teman lama ku,   

“Lang, kamu di bandung?”   

“Ya. Hehe”   

“Sekarang kamu dimana?”   

“Di rumah.”   

“Rumah mu masih disana kan?”   

“Ya, tentu saja. Ada apa din?”   

“Tunggulah sebentar! Aku akan kesana beberapa menit lagi. Aku rindu sekali padamu.”   

“Haha okey. Hati-hati.”   

“Oke”   

Satu jam menunggu akhirnya dia datang, wanita berambut pendek dengan memakai gaun biru tua dan renda-renda menginjakan kaki nya di teras keramik berwarna biru mengkilap ku.   

“Dinda Putri Cantika! Aku rindu padamu!” aku menyambutnya dari balik pintu   

“Ya! Aku juga langit!” dinda memelukku erat dan kami pun berpelukan   

“Tumben, ada apa nih mau datang jauh-jauh kesini?” tanyaku langsung   

“Haha masih aja jutek nya kamu ini lang! aku mau ke dago, mewakili tante ku ke acara pertunangan anak bos nya. Sekalian aja mampir kesini. Hehe”   

“Yaelah! pantes aja pakaian mu formal gitu, pake gaun pula. Haha” aku tertawa puas sambil mencolek-colek gaun dinda dengan jahil   

“Hmmm, ya sekalian mau minta temenin dong lang. Sekalian bisa nongkrong sama temen lama.” Dinda nyengir   

“Ah gak mau ah males.” Jawabku singkat   

“Please langit, aku gak ada temen!! Gak kangen apa kamu main sama aku?” Gaya nya sudah seperti anak yang merengek minta naik kuda-kudaan 

“Kangen sih. Lagian aku ga ada kerjaan. Yaudah deh ayo.” Aku menyerah   

“Nah gitu dong. Ayo!” dinda bergegas berdiri dari kursi di ruang tamu menuju pintu   

“Bentar! Aku siap-siap dulu. Masa pake baju tidur kaya gini sih?”   

“Iya iya. Cepet ya” dinda sewot   

Aku hanya bisa diam, tak percaya dinda yang lugu dan polos bisa dengan gagah nya menyetir mobil nya sambil sesekali memainkan ponsel nya, padahal seingatku, di sekolah menengah pertama dulu dinda sama sekali tak berani menyetir sepeda motor milikku. Wajah nya sudah terias sempurna dan terlihat cantik. Dinda yang ku kenal dulu begitu pendiam dan kekanak-kanakan, dan dinda yang sekarang terlihat lebih dewasa. Sangat jauh berbeda.   

“Lang, sejak kapan kamu pake jilbab gitu?” dinda memulai percakapan   

“Sejak pindah.” Jawabku singkat   

“Cantik loh beneran deh. Keliatan cewek nya.” Dinda tertawa mengejek   

“Maksudnya apa?” nada bicaraku meninggi

“Dulu kan kamu preman banget lang”   

“Sialan!” ku tepuk jidat nya yang lebar   

“Aww! Sakit tau!” dinda mengerutkan alis nya sambil tertawa melihat tingkah ku yang masih kekanak-kanakan. Dan kami pun tertawa bersama   

Sesampai ditempat yang di tuju Dinda langsung memarkirkan mobil nya. Kami berdua turun, terlihat tak sedikit orang yang menggerombol masuk dan keluar dari gedung yang besar ini, ku tebak ini adalah pertunangan yang hebat. Dengan lampu yang tertata rapi juga orang-orang yang terlihat adalah orang-orang besar dan punya wewenang juga jabatan yang tak cuma-cuma.   
“Baru tunangan aja udah kaya gini, gimana lagi kalau sampe nikah ya lang.” dinda nyerecos dengan suara pelan dan datar   

“Iya nih.” Ku jawab singkat dengan memendam rasa penasaran   

***   

Baru masuk gedung, dinda sudah menghilang entah ke arah mana. Mungkin lagi cari makan karena kelaparan. Aku berjalan berkeliling gedung, takjub dengan dekorasi gedung dan semua yang tertata rapi di acara pertunangan ini.   

Beberapa langkah, aku dikejutkan oleh wajah yang tak asing untukku. Tanpa memikirkan lebih jauh, aku menghampirinya perlahan sambil menepuk punggung nya yang terlihat sudah lemah seakan tulang-tulang itu telah lelah.   

“Nek?”   

“Nak langit..” terlihat dengan jelas raut wajah terheran-heran melihatku disini   

Seorang wanita paruh baya yang sebenarnya telah tua menatap wajah ku dengan dekat, mungkin matanya sudah mulai rabun atau mungkin karena tak percaya bisa melihatku lagi setelah sekian lama.   

“Nenek lagi apa disini?”   

“Loh… nak langit.. juga la…gi a…pa?” suara nya terdengar pelan dan seperti bisikan-bisikan menyuruhku untuk pulang. Dan baru kusadari ada yang tak beres disini.   

“Nenek apa kabar?” ku tanya tanpa ragu pada nenek angkatnya itu   

“Puji Tuhan, nenek baik-baik sa…” Belum selesai ucapan nenek, kami sudah dikejutkan oleh pembawa acara yang suara nya lebih keras dibandingkan kami. Jadi, aku dan nenek langsung mengalihkan perhatian pada pembawa acara itu.   

“Mari kita beri tepuk tangan untuk calon pengantin kita…. Angga Dewa Saputra dan Tiar Widya Utami” Suara tepuk tangan yang menggelegar dari banyaknya pasang tangan memecahkan gendang telingaku sampai mampu meretakan hatiku.   

Aku tak percaya, tak bisa menduga-duga Angga mana yang dibicarakan oleh pembawa acara itu. Aku melangkah maju, meninggalkan nenek angkat angga yang sejak tadi menahan langkahku. Sampai didepan panggung yang tingginya selutut aku, munculah pasangan yang menurutku adalah pantas menjadikan dunia ini adalah milik mereka.   

Disaat semua orang meneriaki kebahagiaan, aku malah menurunkan butir kesdihan. Menahan sesak dada yang tak bisa ku ungkapkan, mata ku berkaca-kaca, kepalaku terasa berat dan kaki ku bergemetar hebat. “Benarkah itu angga yang ku tunggu-tunggu akan pulang?” 
Aku melihatnya, meskipun sakit namun langkahku terjaga oleh wajah Angga yang mungkin hanya ada geratan kecewa. Di depan, aku menangis kencang, tersedu-sedu hingga mengambil perhatian banyak orang disekelilingku. Aku tak menghiraukan nya sampai pada acara puncak pasangan itu saling menukar cincin di jari-jemari mereka satu sama lain.   

Aku semakin tak tahan dengan air mata dan dada yang sesak. Akhirnya ku paksakan kaki ku untuk mengambil langkah pulang.   

“Langit!” Langkah kaki ku berhenti, tepat di pintu keluar gedung ini. Di sekelilingi dengan lampu-lampu bercahaya berisi kebahagiaan dua pasang orang yang akan menyatukan cinta.   

Aku tak mampu membalikan tubuhku karena takut prasangka itu betul bahwa yang memanggil ku adalah Angga yang ku tunggu.   

Angga tepat berada didepan tubuhku, sangat dekat hingga nafas nya bisa ku rasakan. Entah itu nafas kebahagiaan atau nafas ketegangan. Kami saling memandang. Aku tak tau bagaimana keadaan wajahku saat itu, mungkin make-up ku telah luntur oleh deraian air mata yang turun. Ku lihat wajah angga yang semakin lama semakin membuatku kecewa. “Benarkah angga ini yang dulu pernah mengatakan cinta dan ingin menajdikanku satu-satunya?”. Aku menangis. Aku tak tahan, bisikku dalam hati.   

“Langit! Angga bisa jelasin semuanya.” Tangan angga menggenggam tanganku hingga memerah   

“Angga… a..ku ing..in pu..la..ng!!!” tenggorokan seperti tercekik dan pita suara ku hilang dimakan kucing, mungkin.   

“Nggak! Angga bisa jelasin semuanya sama kamu. Angga mohon! Jangan pulang langit! Jangan!!!”   

“Angga lepasin!!” aku berteriak. Mungkin suara teriakan ku tak ada guna nya karena yang ku dengar, suara tangisku terdengar lebih jelas   

“Langit! Ini bukan kemauan angga. Angga berani sumpah!”   

“Angga lepasin tanganku!!!” Aku menangis semakin jadi. Tak ku hiraukan semua pandangan yang memandang tapi tak mencoba membantu menyelesaikan masalah kami berdua. Dalam lelah, aku mencoba melepaskan genggaman angga yang masih mengunci langkahku. Sekuat tenaga sampai aku terjatuh di tanah dan sekarang semakin terlihat sangat menyedihkan, patah hati ku terungkapkan.   

“Langit!! Angga mohon dengerin angga dulu. Jangan menangis seperti ini. Angga sakit liat kamu kaya gini!.” Angga memelukku erat, sangat erat. Sampai aku sulit bernafas.   

Kali ini, posisi nya semakin sulit. Aku terjatuh di tanah, jilbab ku berantakan seperti orang kerasukan. Dan posisi angga yang memelukku dari belakang. Bahkan detak jantung nya bisa ku rasakan sangat jelas di punggung.   

“Angga.. demi Tuhan! Aku ingin pulang!” aku memanggil nama dinda berulang-ulang. Memastikan bahwa dinda melihat kondisiku yang meneydihkan dan langsung membawaku pulang   

“Langit! Angga gak mau kaya gini lang.. percaya sama angga!”   

Yang membuatku semakin tak kuasa adalah mendengar angga merintih dalam tangis yang entah menangisi apa. Bukankah ini hari pertunanganya? Harusnya angga bahagia.   

Kami berdua menyedihkan. Saling berpelukan dan menangisi-yang-entah-apa. Dan lebih menyedihkan karna aku harus menangis dan mericuhkan acara pertunangan orang lain. 

Beberapa saat kemudian ada laki-laki bertubuh besar dengan paksa melepaskan pelukan angga dari tubuhku, di susul dengan beberapa pria lain. Dan terjadilah luka-luka kecil di tangan dan tubuhku karena tubuhku dilepaskan secara paksa dengan tubuh yang seharusnya selalu bersamaku sampai akhir; Tubuh angga.   

Hanya butuh beberapa menit tubuh angga terlepas dari tubuhku. Dan kamu dipisahkan begitu saja. Ya, begitu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar