Minggu, 03 Agustus 2014

Aku Tak Pernah Tahu (Part 1)

“Lo lagi lo lagi. Bosen gue liatnya!”

“lo yang kenapa? Kenapa cuman sama gue cara bicara lo kaya gitu?”

“maksudnya?”

“yaaa gue heran aja, kenapa cuman sama gue lo panggil dengan sebutan gue-elo, tapi sama anak-anak yang lain aku-kamu?”

“loh bukanya gaya bicara asal kota lo kaya gitu kan?”

“tapi kan gue juga membaur kali sama yang lain disini”

“yaa terus?”

“panggil gue dengan sebutan kamu. Gue pengen denger.”

“gak mau, Rangga Prasetya”

“sekarang, Langit Dwisatya”

“maksa banget sih lo ah”

“punya masalah apasih lo sama gue lang? lo kenapa tiba-tiba jadi gini”

“jauhin gue gak lo?”

“iya oke stop teriakin gue kaya gini lang!”

Wajah yang seperti biasanya ku lihat, tertunduk lesu seakan tak pernah henti untuk menyerah namun semua perasaan telah lelah.

Biar ku perjelas disini, dia adalah pria yang 3bulan terakhir ini menguntitku tanpa henti, setiap hari selalu muncul dihadapanku. Pertama bertemu saat aku untuk pertama kalinya masuk ke gedung sastra, tugas pengantar bisnis ku harus dikumpulkan pada dosen wali yang sedang berada di gedung sastra. Aku adalah mahasiswi di universitas ternama di kota Bandung, siang itu aku bergegas  mencari ruang F.12 tempat dimana dosen wali ku sedang rapat untuk membicarakan acara tahunan universitas kami “ulang tahun kampus”.

Langkahku mempercepat saat ku lihat banyak orang yang sedang duduk beramai-ramai dipinggir-pinggir kelas mereka. Ahh, aku tak suka keramaian, membuatku tak nyaman karna bising nya. beberapa detik saat aku kembali memperhatikan jalan didepanku, pintu seketika terbuka dan menghantam habis wajahku, barulah untuk pertama kalinya ku lihat wajah Rangga dengan polosnya tertawa tanpa permintaan maaf. Emosi ku tak tertahan, lalu ku hempaskan buku-buku dan kertas-kertas yang berada di genggamanya, semua berjatuhan dan berserakan dilantai, wajah nya berubah menjadi sesuatu yang membuatku ingin tertawa, ku lihat tatapan nya dengan suara tawa yang kencang, dan tak sengaja ku lihat print-an kertas-kertas yang ku kenal, terasa tak asing bagiku.

Ku ikuti kemana dia pergi tanpa sepengetahuanya. Ku lihat dia sedang mempersiapkan presentasi nya didepan 4orang dosen yang semuanya berkaca mata. Ku lihat dia yang dengan gagah nya bicara lantang seperti penyair terkenal, aku yang sedang berdiri didekat pintu sampai terhanyut dan terbawa suasana, sampai pada bait-bait terakhir

Pergilah kasih
Aku ingin menghabiskan waktu bersama kenangan yang kau tinggalkan
Pergilah kasih
Aku masih adalah aku yang mencintai kamu
Pergilah kasih
Aku akan selalu merindukan sosok mu yang sudah terhempas angin lalu

Tak lama kemudian dia keluar dengan wajah yang terlihat puas, aku menanmpar wajahnya seketika dia melihatku. Rasanya benar-benar merasa dilecehkan

“Apa sih? Kenapa lo nabok gue? Salah gue apa?”

“lo baca puisi siapa barusan?”

“hah? Puisi gue lah. Lo ga liat apa gue habis apa? Mana ada presentasi sastra dengan karya orang lain? Bego banget lo”

“lo yang bego! Haha you’re stupid man!! Pecundang”

Saat aku akan beranjak pergi meninggalkanya, dia menghentikan langkahku dan berteriak didepan wajahku.

“heh cewek aneh! Maksud lo apa dateng-dateng sewot sama gue? Emang kita kenal?”

“kita gak kenal dan gak akan pernah kenal”

“dih dasar cewek aneh”

Tugas tak sempat aku kumpulkan, rasanya benar-benar cepat ingin pulang.


***

Beberapa hari setelah hari itu, setelah mata kuliah keuangan Negara aku dikagetkan dengan sosok pria yang membuatku naik pitam.

“ngapain lo disini?”

“nama gue Rangga Prasetya. Lo bisa panggil gue Rangga.”

“gue gak peduli.”

“gue mau ngopi, lo mau ikut?”

“no, thanks”

“please, ada sesuatu yang mau gue bilang.”

“what? You say sorry? Yes! It’s ok, no problem, rangga.”

“tapi…”

“nama gue langit. Bye!”

Entah mengapa tiba-tiba aku mengatakan nama ku begitu saja. Wajahnya seakan terlihat berbeda dari saat pertama aku melihatnya. Dia terlihat lebih tampan dan lebih tenang, entahlah.


***

Hari berikutnya ku lihat lagi tubuh tinggi nya sedang menghadap kearahku, kali ini bertambah dengan senyum yang terlihat manis seakan itu hanya untuk ku.
“langit!”

“apaan lagi?”

Pagi ini embun menghadang mataku
Menjanjikan bahagia satu persatu
Dari arah berlawanan
Tak ku lihat apapun kecuali ketenangan
Rumput bergoyang
Memberi tanda bahwa bahagia akan datang
Ada wajah yang samar
Bercahaya dan menghangatkan
Itukah cinta yang terpendam

Aku terkejut, terlebih saat orang-orang melihat kearah kami berdua. Rangga membacakan nya begitu saja didepan ku dan ditengah keramaian ini, berakhir dengan “I’m so sorry.” Dan satu tangkai bunga mawar merah yang rangga berikan padaku.

“apaan sih lo mau malu-malu in gue apa ya?” wajahku benar-benar tersipu malu

Rangga menggandeng tanganku “lo tau tadi gue baca puisi siapa? Itu puisi lo kan lang? dan itu puisi pertama yang bikin gue jatuh cinta, gue nemu blog elo ketika gue search buat bahan tugas kuliah, gue buka dan gue baca, terus gue suka dan geu jadiin isi blog elo bahan tugas gue, oke gue ngaku juga mungkin emang karna gue gak tau harus isi dengan apa tugas gue itu. Tapi sumpah lang, gue jatuh cinta sama blog elo.”

“ya terus?”

“gue minta maaf karna ga minta ijin penulisnya terlebih dulu.”

“untung gue baik, kalau enggak udah gue laporin polisi dengan tuduhan penjiplakan.”

“huffff, dan untungnya lo baik kan lang.”

“hmm”

“just hmmm?”

“so?”

“setelah gue bacain lo puisi didepan banyak orang lo jawab just hmmm?”

“lebay banget sih lo. Lagian disini kan ga ada yang kenal sama elo, ini gedung ekonomi, dan tempat lo itu di gedung sastra. Gedung jurusan kita jauh.”

“tetep aja ketampanan gue ternodai”

“hahaha sarap”

“hahaha” untuk pertama kalinya aku tertawa setelah kehilangan angga

“lang, besok satnight jalan sama gue ya”

“eitss, jangan kira gue baik sama lo, lo ngira gue mau jadi temen lo.”

“but, lo ngambil bunganya juga kan. Hahaha”

“so? What’s wrong?”

“Saturday night, elo sama gue mesti dinner!”

Rangga pergi begitu saja dengan senyum nya yang manis itu ternyata bisa membuatku tertawa setelah aku kehilangan pria yang sangat ku cinta; Angga.

Aku terkejut melihat Rangga yang berada didepan pintu rumah, kemeja biru tua dengan jeans hitam seperti yang akan menghadiri sebuah pertemuan.

“loh ngapain lo jam 7 malem nongkrong depan rumah gue?”

“mau jemput lo. Kita kan ada jadwal dinner, tuan putri.”

“emang gue bilang mau apa ya?”

“lo masa tega sih lang liat nih gue udah siap. Ganti baju sana! Kalau tetep gamau biar gue yang minta ijin sama nyokap bokap lo ya. Om.. tante… assalamualaikum.”

“ah berisik lo ah! Ya tunggu bentar, gue ganti baju dulu”

Hanya dengan penampilan yang seperti biasanya aku pamit dari rumah dan terpaksa harus pergi. Sepanjang perjalanan rangga menyanyi, suara nya memang merdu dan bagus tapi aku tak akan pernah luluh, aku akan selalu ingat kalau dia sudah mencuri hasil karyaku dan memakainya tanpa seijinku.

Rangga memilih restoran dengan suasana yang berkelas menurutku, mungkin ayah nya seorang penguasaha kaya, aku belum mengenal rangga dengan dekat. Aku pun terkejut tau rangga sudah memesan meja untuk kami berdua, dan tak kalah terkejut saat aku mendekati meja itu, ada satu ikat bunga mawar merah yang sangat berkilau dan cantik, “itu buat lo” rangga hanya tersenyum kearahku. Ada penyesalan dalam hatiku mengapa aku tak berdandan dan meng- make up wajahku terlebih dulu jika tau suasana nya akan sebegini mewahnya.

Malam itu aku dan rangga penuh cerita, rangga tak berhenti bicara soal dirinya seakan dia sedang memperkenalkan dunianya padaku. Rangga adalah lulusan SMA terbaik di kota nya, dia lahir setahun lebih dulu dariku. Rangga lahir di bali, dan sekarang keluarga nya tinggal di Jakarta. Anehnya, rangga tak menjawab saat ku tanya dia asli orang mana, dan akupun tak terlalu memaksanya untuk menjawab. Rangga adalah pecinta musik, berkali-kali dia jatuh cinta oleh nada dan irama, katanya musik membuatnya lebih tau arti hidup yang sebenarnya.
“terus kenapa lo masuk jurusan sastra?”

“karna gue butuh pengetahuan untuk lirik-lirik lagu gue ntar”

“gue gak ngerti.”

“pokoknya gue masuk sastra karna gue pengen nyoba hal baru aja.”

“pengen nyoba kata lo? Apa sebegitu banyak nya ya uang bokap lo sampai kuliah aja lo coba-coba?”

“hahaha enggak lah lang”

Rangga hanya tertawa. Dan aku tak lagi bicara


***

3bulan terakhir berakhir dengan ketidakpastian akan hubungan kami, kami dekat tanpa hubungan yang jelas, rangga sering menyalahkan aku karna seperti yang sedang memeprmainkanya, dan aku akui itu, aku masih berduka soal kematian angga. Aku tak benar-benar yakin sudah melupakannya.

Aku tak membantah soal rasa, selama ini kami berdua dekat. Mungkin jika rangga tak mendekatiku terus menerus aku tak akan pernah memperdulikan nya, tapi kali ini sudah terlanjur jauh, hampir setiap hari aku dan rangga bersama, makan siang, tertawa, dan rangga tak pernah menyerah. Dia selalu sabar menghadapiku yang tidak kadang tak sopan padanya. Aku bisa saja seketika menamparnya, memukulnya, dan meninggalknya begitu saja ketika dia sedang bicara. Tapi dengan semua itu juga ternyata aku bisa lupa soal sakit hatiku kehilangan angga ketika sedang bersamanya.
Ketika dekat denganya, aku merasa tak lagi sendiri dan kesepian, aku merasa lebih dipedulikan. Tadinya ku fikir aku tak bisa lagi merasakan cinta dan bahagia, tapi ternyata aku salah, rangga adalah bukti bahwa aku masih bisa tersenyum dipagi hari meskipun saat malam wajahku pucat karna keseringan menangisi hal yang sudah pergi.

“lang, apa lo ga peduli sama gue lang?”

“apasih lo”

“lang, apa lo sayang sama gue?”

Aku terdiam, bertanya pada hatiku harus seperti apa aku menangapi rasa ini. Aku merasa masih tak bisa untuk memulai lagi persoalan cinta, tapi soal rangga aku merasa sudah jatuh cinta padanya. Setiap kali dia memperhatikanku dengan cara yang berlebihan rasanya aku ingin membalasnya, tapi mengingat soal angga dan rasa kehilangan yang begitu besar, aku masih saja terdiam seakan aku tak memperdulikan rangga; orang yang begitu kerasnya memberikanku kebahagiaan.

Disaat aku sedang tersiksa soal dua rasa yang berbeda dan aku sudah memutuskan akan mencoba untuk menjalaninya dengan rangga, aku melihat rangga berpeluk mesra dengan wanita yang ku lihat dikantin kampus dekat gedung sastra. Aku berniat ingin mengajaknya makan siang sambil mengatakan padanya bahwa aku mulai mencintainya, tapi tak sengaja aku melihat semuanya. Begitu menyakitkan dan mematahkan segala pengharapan kecilku pada rangga. Aku memutuskan untuk kembali ke kelas karna selang satu jam aku ada jadwal kuliah. selama didalam aku tak bisa memperhatikan, semuanya masih terbayang soal pelukan mesra dan tawa canda yang hangat diantara rangga dan wanita nya, mereka terlihat seperti sudah kenal lama dan mungkin pasangan cinta.

Saat kelas telah selesai dan aku keluar, rangga mengejarku dari belakang, memanggil-manggil namaku dan menyuruhku berhenti berjalan untuk menunggunya. Wajahnya terlihat biasa dan terlihat sama seperti sebelum-sebelumnya rangga menghampiriku. Dan kali ini aku tak bisa menunggu, rasanya benar-benar menyakitkan. Aku memutuskan untuk pergi meninggalknya.


***

Siang itu, satu minggu lebih lima hari, tepat sebelum libur akhir pekan. di taman kampus dan dibawah pohon beringin besar yang menampung panas diatas kepalaku, kami berdua bertengkar dan saling berteriak

“punya masalah apasih lo sama gue lang? lo kenapa tiba-tiba jadi gini”

“jauhin gue gak lo?”

“iya oke stop teriakin gue kaya gini lang!”

Kami berdua saling diam, rasanya ingin ku tampar wajah polosnya yang seakan tak terjadi apa-apa. Tak habis fikir apa maksud dari semua rasa perhatianya padaku selama ini jika ternyata dia sudah memiliki kekasih.

“lang, kenapa lo jauhin gue?”

“wanita itu… dikantin dekat gedung sastra.” suaraku melemah

“wanita? Wanita apa sih lang?”

“lupakan!”

“tapi lang…”

“cukup rangga! Aku tak ingin melihatmu lagi” ku pukul dada nya dengan buku-buku yang sedang ku pegang

“kamu tak pernah tau lang”

“ya! Aku memang tak pernah tau apapun!”

Aku berteriak dan meninggalkan rangga yang pipi nya telah basah entah oleh apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar