Kamis, 14 Mei 2015

#4TahunWB: Surat Cinta

Kepada siapapun yang membaca surat cinta ku ini,
Pertama, aku ingin mengucapkan selamat atas semua ide yang kamu ciptakan hingga membuat orang-orang yang belum pandai merangkai kata seperti ku akhirnya memiliki keinginan untuk membagi setiap kata didalam tulisan, bahkan dengan siapapun yang belum ku kenal. Karena mu, sekarang aku memiliki banyak teman yang satu jalan pikiran dan kesamaan mencintai sebuah tulisan.

Kepada siapapun dibalik warung blogger ini,
Aku ingin mengucapkan terima kasih. Entah mengapa, baru sebentar saja kita berkenalan, aku sudah merasa paling diuntungkan dan disayang. Bagaimana tidak? Tulisan ku selalu kamu sebar luaskan disaat aku malah tak pernah percaya diri akan semua tulisan yang ku buat dengan ketulusan, yang ku keluarkan begitu saja dari dalam pikiran.

Kamu adalah sesuatu yang membuat aku semakin mencintai apa yang ku lakukan saat ini. Menulis kan apa saja yang aku pikirkan, masa bodoh dengan semua perkataan orang yang menyinggungkan perasaan. Kau tahu? Dulu, aku selalu dinyatakan sebaga wanita yang menyedihkan. Kau tahu kenapa? Hanya karena aku sering menuliskan puisi yang puitis.

Kamu adalah sesuatu yang membuat aku semakin percaya bahwa aku mampu berkarya. Karena mu, sekarang aku telah memiliki banyak hal yang bisa ku buktikan bahwa aku mampu mengembangkan apa yang ku miliki, pada semua orang yang sering mengatakan bahwa aku tak pernah bahagia hanya karena tulisan ku selalu berakhir dengan rintik tangis.

Kepada siapapun kamu,
Lagi-lagi aku mengucapkan terima kasih dan selamat atas semua bahagia yang sedang kita sama-sama rasa.


                                                                                                                 Dari,
                                                                                                                 Aku.




Sabtu, 09 Mei 2015

Catatan Kusam


Kopi ku sudah tak lagi panas, tapi manis nya masih terasa sama, tak ada yang berubah. Aku masih bisa merasakan gula-gula yang tertinggal didasar cangkirnya. Sama halnya dengan saat aku bertemu lagi dengan pria yang ku cintai dimasa sekolah putih abu dulu. Jika aku tak salah hitung, 5 tahun sudah ku lewati tanpa pernah satu kali saja ingatan itu terlintas dalam pikiran.

Jika ada pertanyaan mengapa aku bisa sebegitunya melupakan potongan ingatan kenangan itu, sepertinya kalian yang membaca tulisan ku ini sudah tau persis pilihan rasa cinta yang mana yang sedang ku ceritakan. Ya kan? Masa putih abu yang memiliki banyak pilihan rasa bahagia dan kecewa, masa dimana semua hanya tentang cinta. Tapi sayang nya, aku malah merasakan cinta yang semua orang tak pernah ingin memiliki nya. Ya, cinta dalam diam. Menyedihkan bukan?

Tunggu sebentar… Biar ku sempurnakan potongan-potongan kenangan itu dalam pikiran.

Pagi itu adalah pagi yang tak biasa. Mungkin karena daun-daun pepohon masih basah karena hujan semalaman, juga langit yang masih kelabu dan menghalangi matahari untuk menyinari semangat test lisan di awal pelajaran nanti. Kami semua disuruh menunggu di luar kelas, dan akan masuk menururt urutan absen yang disertakan dengan nama kita diakhir panggilan. Nama ku diawali dengan huruf A, dan urutan absen ku berada paling atas. Tapi dengan tak terduganya, guru mata pelajaran ilmu sosial ini memulai dari urutan paling bawah. Membuat ku harus menunggu sedikit lama. Bukan nya aku sombong agar dipanggil lebih dulu, tapi karena aku takut materi hapalan ku akan ku lupakan.

Sambil meramas buku hapalan yang mulai rusak, perhatian ku teralihkan oleh beberapa kakak kelas yang sedang duduk tepat didepan kelas ku. Mata ku tertuju pada setiap pria yang sedang tertawa canda gurau disana. Semua wajah yang sering ku lihat karena kelas kami bersebrangan, tapi mata ku menangkap satu tubuh yang asing menurutku, dia membelakangi ku. Wajah nya tak bisa ku lihat dengan jelas. Dan saat giliran ku dipanggil oleh guru, dengan langkah perlahan aku melihat senyum itu yang melebar. Tiba-tiba aku sudah tak lagi jadi pelupa ketika mengingat wajah nya.

Dan tolong, jangan kalian anggap aku tak melakuan apa-apa.

Aku mencari tahu tentang senyum yang mampu membuyarkan semua materi hapalan ku. Dia harus bertanggung jawab atas nilai kosong ku. Aku mendapatkan nomor telepon nya. Kami sempat saling dekat meski hanya melalui pesan singkat, meskipun pembicaraan kami tak ada yang benar karena sikap kami yang sama-sama acuh dan cuek. Itu tak menghalangi niat ku untuk terus mendekatinya. Sampai pada titik dimana aku merasa bahwa aku dan dia tak cocok. Pembicaraan kami mulai tak sejalan, perbedaan pendapat yang jauh berbeda memutuskan aku untuk berhenti mendekatinya. Tapi belum aku membulatkan niat ku, aku melihat dia memboncengi teman wanita nya. Dan setelah aku mencari tahu ternyata itu hanyalah teman satu kelas nya, juga teman dari kekasih nya.

Apa yang bisa ku lakukan dari seorang pengaggum saja. Aku sudah mencoba untuk melupakan nya, membuang semua ingatan tentang nya. Dan pedih nya, bersamaan dengan pilihan itu, aku lebih sering melihat nya di kantin sekolah. Ditambah senyum nya yang tak bisa ku lupakan itu.

Waktu berlalu, tahun pun berganti, musim hujan menjadi kemarau. Dia sudah lulus, sedangkan aku masih harus menyelesaikan 2 tahun lagi di masa putih abu ini. Aku ingat, aku pernah berdoa agar dia selalu bahagia dan baik-baik saja dimana pun dia berada. Dan setelah  itu, aku memilih untuk tak lagi mengingat nya. Senyum itu cukup menjadi bagian dari cinta diam-diam dimasa sekolah ku dulu.

*

Apa kalian pernah merasakan cinta semacam ini? Apa yang terjadi pada akhir kisah nya? Ehh, tunggu sebentar. Apa kalian anggap kisah cinta diam-diam ku sudah selesai? Itu baru cerita awal.

Pagi ini adalah pagi yang berbeda. Mungkin karena pagi ini sudah tak lagi harus memakai seragam putih hitam untuk masa orientasi masuk ke universitas tinggi. Dikala semua teman-teman ku memilih universitas yang berada jauh di luar kota sana, aku malah harus lagi membuat banyak cerita baru di kota yang masih sama.

Aku sedang menikmati suasana kelas ku yang baru, hanya ada satu bangku yang sudah ditempelkan meja kecil berawarna putih kusam. Semuanya terasa berbeda. Kecuali satu hal, mata ku tak kuasa memperhatikan satu pria yang sedang berdiri dengan wajah cemas tepat didepan kelas ku.

Wajah cemas tanpa senyum yang pernah ku lihat dulu. Sungguh, aku tak tahu bahwa dia adalah mahasiswa di univeritasi tinggi yang ku tempati sekarang ini.

Aku tak bergitu ingin lebih lama memperhatikan gerak gerik nya atau bahkan senyum nya seperti dulu. Aku rasa semua telah berbeda mulai sekarang. Aku tak mau lagi meneruskan nya.

Aku mengabaikanya.

*

Lagi-lagi tanpa ku sadari, waktu berjalan lebih cepat lagi. Tak terasa aku sudah memasuki semester 4 yang memiliki jadwal yang padat. Hari-hari ku masih sama dan tak ada yang berubah, apalagi terasa istimewa.

Mungkin sampai aku mendapatkan undangan pertemanan baru dalam aplikasi Blackberry Mesangger ku. Ada nama yang tak asing buat ku. Aku mulai tak tahan menahan rasa penasaran seperti awal kisah ini dimulai.

“Hi ka, ada apa nih? Tumben”

“Hi. Loh kamu kenal aku?”

“Ya, memang kenapa? Dapet pin ku dari mana?”

“Loh ko bisa kenal sih? Dari temen sih habis nyolong pin temen cewek nya. Hehe biasalah cowok.”

“Ya lah aku kenal. kamu itu kan kakak kelas ku waktu SMA dulu. Oh begitu.”

“Oh ya? Tapi ko kamu kenal aku?”

“Hehe tau aja sih ka.”

“Enggak maksudnya tuh ko kamu kenal aku dari begitu banyak nya kaka kelas yang lain.”

Hahaha. Dia lupa pada ku. Dan aku tak ingin membahasnya, aku tak ingin membangun rasa yang sudah tertidur lama. Chatting-an ku semakin hari bertambah dekat, aku rasa ada yang tak wajar dengan nya. Dia; kakak kelas yang ku dekati hampir 1 tahun itu sedang mencoba mendekati ku. Menanyakan dimana tempat tinggal ku, mengajak ku untuk makan malam. Sampai pada akhirnya dia meminta ku untuk menjadi kekasih nya.

Kalian tahu apa yang ku lakukan?

Aku tak menerima nya.

Karena, mungkin cinta pada masa putih abu ku itu seperti kopi yang sudah tak lagi panas, tapi manis nya masih terasa sama, tak ada yang berubah. Ini adalah waktu yang sudah berganti, tahun yang berbeda, masa yang tak lagi sama. Mungkin memang benar, dia adalah pria yang ku cintai dan ku coba dekati. Tapi itu dulu, dan sekarang sudah tak lagi. Meskipun aku masih mencintai senyum itu karena rasa dulu tak pernah ku dapatkan, tapi kopi yang tak lagi panas itu akan jauh berbeda dengan rasa yang sesungguhnya tercipta, meskipun kopi itu masih terasa sama.

Dan mungkin terkadang, cinta diam-diam tak selalu harus diutarakan.

Senin, 13 April 2015

Give Away Jatuh Cinta Diam-diam: Wait quietly not see



Nama nya adalah Angga. Pria yang sering ku lihat sedang duduk dengan pandangan yang tenang, seakan hanya ada dia disana seorang. Setiap kali aku berangkat ke sekolah, ku lihat senyum nya yang indah, bahkan lebih indah dari tempat nya terdiam; sebuah taman.

Hari berlalu dan semakin cepat sampai tak terasa ini sudah 1 tahun lama nya aku hanya melihatnya dari kejauhan. Pernah satu waktu aku menghampirinya perlahan, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu hal. Tapi belum ku ucapkan, dia seolah sudah tahu bahwa ada seseorang yang sedang duduk disampingnya. Ia memandangku dan tersenyum, ada yang salah dengan kejadian itu menurutku. Jantung ku terasa berdegup semakin pelan, semakin lama berada didekatnya, aroma tubuh nya semakin jelas membuatku tersadar bahwa cinta diam-diam ini sudah tak bisa lagi ku tahan.

Dengan cepat aku pergi meninggalkan dia yang masih duduk di taman. Seperjalanan menuju sekolah pikiran ku terganggu oleh banyak nya ingatan tahun-tahun yang memilukan. Ditambah pria itu lah yang menjadi tokoh utama dari setiap adegan yang memutar dikepala ini. Semakin lama, rasanya aku tak ingin lebih jauh darinya. Semakin sering aku melihatnya, semakin bertambah pula rasa takut akan tak lagi bisa melihat nya duduk ditaman seperti biasa.

Sudah menghabiskan waktu tahun-an aku melihatnya dari kejauhan. Semakin ku tahan, langkah kaki ini malah mendekatkan. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, aku selalu menyempatkan untuk menemui nya dan menemani nya duduk di taman yang sama. Aku memperhatikanya dengan seksama, begitu pahatan jari jemari Tuhan yang sempurna. Mata bengkak nya seakan memperlihatkan bahwa dia sudah tak bisa menunggu kesendirian itu lebih lama, dan warna merah kebiruan yang tak saja hilang dari setiap sudut wajah nya membuat ku ingin menangis dan memeluk nya tanpa henti. Cahaya yang harusnya terpancar di wajah nya perlahan meredup. Dan itu semua membuat hati ku pilu.

Ingin sekali ku katakan bahwa aku selalu ada didekatnya selama ini, tapi ku rasa itu semua tak ada arti. Karena mungkin baginya aku hanyalah gadis menyebalkan yang tak penting. Setiap aku datang dan pergi, dia seakan tak mengetahui dan kami pun hanya saling berdiam diri. Hanya sesekali pandangnya nya satu arah dengan wajah ku berada, itu pun karena nama nya dipanggil oleh seorang wanita gemuk yang selalu memakai gaun putih dan perahu kertas terbalik yang berada diatas kepalanya.

Pagi ini hujan turun cukup deras, mama menyuruh papa mengantar aku ke sekolah. Setelah selesainya menyantap sarapan, kami bertiga pergi untuk mengantar ku ke sekolah. Saat radio mobil papa memutar lagu dari Bon Jovi, kami yang semula saling melempar teka-teki agar bisa tertawa tanpa henti langsung berhenti. Suasana yang tidak membuat ku nyaman karena lagu ini mengingatkan kami pada seseorang. Begitupun dengan keadaan mama yang mulai memperlihatkan matanya yang berkaca-kaca.

Jadi aku meminta untuk mengantarku dulu ke taman rumah sakit yang berada di pertigaan jalan. Aku ingin mempertemukan papa dan mama pada pria yang sering kali kami bicarakan. Tiba-tiba genggaman ku pada mama semakin kencang, tidak lagi ku lihat pria yang duduk ditaman. Aku menjerit dan berlari, menanyakan kemana pergi nya pria yang ku cintai dalam diam selama ini, pria yang tak pernah bisa melihat keberadaan ku selama ini.

*

Pada waktu pagi yang sama, di bangku taman yang sama, aku duduk menunggu pria itu kembali sambil meremas cemas yang berada didalam surat. Dalam pelukan seorang mama dan pangkuan seorang papa, aku mendapatkan rasa kehilangan yang teramat menyakiti; cinta diam-diam ku telah pergi.

Teruntuk,
Gadis menyebalkan yang sangat ku cintai

Terima kasih karena sudah mau sudi menemani ku dalam setahun ini. Tolong jangan anggap bahwa aku tak pernah tahu kamu selalu saja menganggu pagi ku.

Terima kasih karena mau menahan cinta itu dalam diam. Apa jadinya jika saja ku dengar kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku, mungkin aku tak akan pernah bisa menerima kenyataan tak bisa melihatmu dalam pandangan.

Aku tahu kamu menahan perkataan cinta itu karena masih merasa bersalah soal kejadian lalu, kan? Bengkak biru yang tak hilang dari wajahku, kebutaan, dan juga tumor yang ternyata mengedap dalam otak ku. Aku tak menyalahkan mu atas kecelakaan yang menimpaku itu.  Sungguh, menjempumu malam itu adalah kemauan ku. Kamu bisa menanyakan nya langsung pada papa dan mama.

Aku tahu kamu mencintai abang mu ini. Dan abang pun sangat mencintai adik perempuan abang satu-satunya yang cantik ini.

Maaf jika selama ini abang pura-pura tak merasakan kehadiranmu, abang tak bisa menahan pedih ketika tak bisa melihat senyum mu.

                                                                                                Tertanda,
                                                                                                Abang mu.

Minggu, 12 April 2015

Kehilangan




Sayangnya, aku tahu benar soal kehilangan baru belakangan ini.

Dia yang biasa berada dalam sudut kamar tak lagi kulihat selama akhir bulan maret, bahkan sampai awal bulan april sudut kamar itu masih terlihat kosong melompong. Setiap malam biasa aku berdiskusi tentang apa saja denganya berganti menjadi waktu yang terbuang hanya melihat layar ponsel yang tak bergerak. Sebuah kehilangan yang sangat menjengkelkan.

Ya, dia yang ku bicarakan (hanya) sebuah laptop. Sebuah benda mati yang sering ku bawa kesana-kemari. Benda yang sering kali kuajak bicara sampai letih, sampai habis pembicaraan aku masih saja tak bisa berhenti berdialog denganya. Selalu ada saja hal yang bisa kami bicarakan. Mulai dari teman yang menyebalkan, cinta yang perlahan hilang, kedewasaan yang membosankan, hidup yang menganehkan, bahkan semua yang ku rasakan dia lebih paham dibandingkan orang-orang yang berada disekitar.

Denganya, aku bisa leluasa becerita tentang apa saja. Terkadang aku bisa tersenyum bahkan menangis dihadapannya. Aku bisa menceritakan apa saja denganya, tanpa harus takut dikhianati tentang mengadu rasa. Aku bisa bercerita sampai gelap malam berganti, sampai pagi siap untuk menyinari. Seperti itu kebersamaan kami; tak ada batas waktu yang berganti.

Jadi, ketika tahu dia tersakiti. Sebisa mungkin aku melakukan yang terbaik agar tak ada yang harus diganti. Aku tak ingin merelakan apa yang sudah ku miliki selama ini. Ternyata, pernyataan yang menyakitkan dia harus menginap beberapa waktu di tempat yang jauh dari rumah ku.

Selama dia tak ada, aku melakukan hal-hal yang biasa kami lakukan dengan seadanya. Berdialog dengan tatap yang sama, bercerita dengan langit-langit kamar yang tak bisa ku sentuh dengan jemari tangan. Sangat jauh ku gapai, membuatku mengerti akan sebuah kehilangan yang menyakiti.

Kehilangan bukan lagi soal siapa yang pergi dan tetap tinggal, tapi sesuatu yang biasa berada dalam genggaman seketiba hilang. Kehilangan tidak selalu tentang kepergian, tapi kehilangan adalah rasa paling ampun untuk menyadarkan pentingnya sebuah kebersamaan. Kehilangan tidak akan pernah mampu membuat sebuah hati kosong, melainkan kehilangan mengajarkan bahwa mempertahankan haruslah dengan keseriusan dan perjuangan.

Setiap hari aku pergi ke toko itu sambil memandangnya dimainkan oleh orang yang bahkan tak ku kenal, harus meninggalkannya (lagi) beberapa malam membuat ku tak bisa membayangkan apa jadinya jika benar dia tak bisa lagi menemaniku seperti awal. Aku tahu dia hanya benda mati yang bahkan bisa ku ganti, tapi sebuah kebiasaan membuatku nyaman. Dia adalah ketercukupan yang bisa membendung banyak rasa yang ku tulis dalam banyaknya aksara kata.

Saat ini, aku sedang bersamanya lagi. Tadi malam ku tunggu dia sedang diperbaiki sampai bagus kembali. Akhirnya aku bisa melihatnya berada disudut kamar, dan kali ini untuk yang pertama kalinya aku menuliskan sesuatu untuknya.

Dia; benda mati, bisa mengajariku soal kehilangan yang membuatku tersadar pentingnya mempertahankan apa yang ku yakinkan dengan benar.

Jumat, 13 Maret 2015

Kedai Kopi Bersama Marina


Sudah beberapa waktu aku bertemu lagi dengan teman di masa lalu ku, setidaknya meliburkan diri sendiri dengan berlari ke luar kota hanya untuk menenangkan diri dari persoalan cinta bukanlah hal yang pantas untuk dibanggakan bukan, tapi aku hanyalah gadis si penyulam rindu yang selalu berharap akan keajaiban sebuah temu.

Aku hanya bisa membaur soal rasa di media sosial, meskipun sepertinya orang yang ku tujukan tak pernah merasakan. Dan bagusnya, aku tak pernah mempersalahkan semuanya. Bagiku, dia tau apa tidak akan perasaanku terhadapnya bukanlah masalah besar, ku bilang demikian karena ternyata aku selalu dianggap tersangka dari semua persoalan.

Malam ini aku putuskan untuk bertemu marina disalah satu kedai kopi di daerah pasirkaliki Bandung, disana ada pertemuan yang menghadirkan orang-orang yang hanya menumpakan cinta di sebuah kertas usang atau sebuah file tak bergambar, hanya tulisan yang mempersatukan semua perasaan yang tak pernah bisa diutarakan.

“Aku senang bisa bertemu lagi denganmu.”

“Ya, aku pun.” aku hanya bisa memperlihatkan senyumku sedikit

“Apa yang terjadi?”

“Tak ada.” Jawabku singkat tanpa melihat ke arah marina

Acara pun dimulai, ada pembawa acara yang bagiku terlihat mengesankan, orang itu berbeda. Wajahnya terlihat pucat, pipi merah nya bersanding dengan bintik-bintik jerawat yang bahkan terlihat lucu dimataku. Pembawa acara itu mulai bicara, dengan percaya dirinya dia akan membahas tema pertemuan kali ini. Aku hanya tersenyum sesekali sambil melihat tingkahnya yang tak bisa diam.

Seketika aku dan marina terdiam.

“Apa kamu bercanda?” marina membentak tepat didepan wajah ku

“Tidak.” aku kembali terdiam

“Lagi-lagi soal jarak. Aku muak!”

“Aku pun tidak tau bahwa pertemuan debat puisi malam ini bertema jarak.”

Marina menghela nafas panjang, aku pun sama. “bagaimana bisa?” hatiku ikut bicara

Aku hanya bisa pura-pura tak melihat ketika orang-orang yang membacakan puisi tentang jarak itu berlalu lalang menaiki dan menuruni anak tangga yang hanya beberapa untuk sampai ke atas panggung kecil. Marina pun terlihat sama, dia sibuk mengajaku bicara seakan memberiku tanda bahwa dia tak ingin menggapnya ada. Suara puis-puisi itu seakan menggema dalam kepalaku, merusak sistem kerja otak ku. Aku sungguh membenci jarak.

Pembawa acara itu terlihat seakan mencuri-curi pandangan ke arahku, hatiku langsung merasa tak enak, aku mengajak marina pulang, tapi bodoh nya marina seakan tau apa yang terjadi saat itu, marina yang bodoh menggandeng tanganku dengan paksa, menyuruhku membacakan sedikit perasaan ku malam itu melalui puisi.

“Aku tak mau, aku tak bisa.” aku menggeleng

“Ayo, aku yakin kamu bisa.” marina semakin terlihat bodoh

“Tapi rin…”

“Aku tau kamu sedang terluka oleh jarak, semoga semesta mendengar mu mengelukan jarak malam ini, agar kamu mengerti bahwa takdir tak tinggal diam.”

Aku berjalan perlahan

Aku melihat-lihat sekitar, wajah-wajah yang sedang menampung jutaan rindu untuk orang yang sedang ditunggu. Aku terdiam sejenak, membuat diriku terbawa oleh suasana kedai kopi itu, mencoba mengingat dengan jelas wajah laki-laki yang sering ku bicarakan dengan Tuhan setiap waktu, yang sampai saat ini masih saja belum mau datang untuk mencicipi rindu.

Satu cangkir kopi itu telah habis
Ku telan perbutir hingga mengosongkan semua sunyi
Malam ini ku duduk sendiri
Melihat langit yang selalu terlihat berseri
Meskipun polos hitam yang masih terbentang dengan jelas
Aku tertuju pada perasaan semu
Yang harusnya ku tawari dengan senyum menggelitik
Ternyata harus ku lewati dengan air mata rintik-rintik
Suara kecil menggema dalam kepala
Ku pikir ada yang sedang berencana menyuruhku untuk ke kamar
Ternyata aku salah
Hatiku sedang merintih
Memeluk bayang abadi yang ternyata aku sendiri
Bagai mimpi yang berterbang bagai buih
Hatiku terluka menjerit sambil berdiri
Bersama rindu
Dan perjalan waktu untuk bertemu
Aku menahan pilu
Karena ku yakini kamu mencintaiku

“Rin…” aku memeluknya dalam diam, dengan belaian pengakuan bahwa malam ini hatiku sedang terluka. Puisi itu sudah selesai, seperti pengakuan akan dosa yang sudah membawa ku pada kesalahan jarum jam.

“Aku mengerti.” marina menangis

“Aku yang tak mengerti.” Aku memeluknya lagi dengan erat, tidak aku pedulikan orang-orang yang dengan spontan melihat ke arahku dan marina

“Kamu hanya belum terbiasa.”

“Rindu ini rin, aku tak bisa.”

“Kamu hanya perlu membicarakanya dengan dia.”

“Aku tak bisa mengatasi rindu yang semakin hari semakin bertambah dan kurang ajar terhadapku. Aku tak bisa menahan air mataku ketika sudah bicara soal pertemuan yang ternyata tak pernah bisa ku dapatkan.” Aku menangis kencang

“Dia pun tersiksa.”

“Dia tak ada lagi, disini.”

“Dia mencintaimu.”

“Dan dia tak pernah lagi muncul dihadapanku.”

“Dia hanya tak ingin melihatmu tersiksa karena dia yang masih saja belum bisa mengerti akan banyaknya rindu itu.” marina tersenyum

“Dia sudah pergi, rin.”

Marina terdiam.

“Aku hanya masih saja tak percaya pada jarak yang satu ini, rin.”

“Jarak itu…”

“Aku sedang tak membicarakan jarak. Aku cukup tau soal rindu, soal kepercayaan tentang pertemuan yang katanya akan membuahkan cinta yang lebih besar. Aku hanya ingin dia mengerti bahwa rindu ku lebih besar jika harus dibandingkan dengan sikap diam nya yang hanya mengjaggokan kepekaan. Bukankah kita sudah sama-sama dewasa, sudah tau bagaiamana mengekspresikan perasaan untuk pasangan.”

“Dan mungkin rindu dan jarak itu kembar.” marina tergesa-gesa ketika bicara

“Takdir masih tak ingin ikut main rin…”

“Pertemuan itu penuh sihir, menjadikan dunia seakan sedang berlipat menjadi segitiga. Ketika berjalan menanjak, suatu saat kamu akan menemukan puncak yang menghadiahkan senyum di raut wajahnya. Bagaimana bisa kamu tak mempercayainya? Bahkan ketika lelah menggerogoti cinta, jarak membuatnya mati rasa. Jarak adalah alasan rindu itu terus bermunculan, dan pertemuan adalah jawaban. Mengartikan segalanya adalah rindu mungkin termasuk pembicaraan menakutkan bagi sebuah rasa yang membuat hubungan itu terlihat membosankan. Percaya pada pertemuan adalah kunci untuk pintu membuatmu bertemu dengan takdir Tuhan.”

“Kamu selalu paling bisa menjawab semua pertanyaanku tentang jarak.”

“kamu belum tau tentang rindu yang terus bermunculan dihatiku bukan?”

“Marina… hentikan.” aku mengenggem tanganya dengan erat

“Bagaimana bisa takdir memperhentikan segeitiga perjalanan pertemuan untuk aku dan dia.” marina membahas soal kehilangan

“Aku masih tak percaya pada pertemuan rin.”

“Aku pun…”

Kedai kopi itu memutarkan musik paling merdu yang pernah kudengar; Puisi malam.

Kamis, 12 Maret 2015

Giveaway Diverse Sides: Last conversation


Sambil membaca tulisan ini, kalian bisa sambil mendengarkan: [KLIK DISINI]

Hubungan yang paling menyedihkan adalah saat hubunganmu tak direstui kedua orang tua.

Hubungan yang paling tak nyaman adalah saat hubunganmu dibicarakan oleh teman-teman sekitar.

Hubungan yang paling menganehkan adalah saat hubunganmu tak direstui kedua orang tua, dibicarakan oleh teman-teman, orang-orang yang tak kau kenal, bahkan Tuhan.

Aku terheran-heran, hubungan yang ku jalani sekarang adalah hubungan yang normal. Pria ini berkehidupan yang layak dan masih mempunyai keluarga yang lengkap, berpendidikan, dan seorang pria yang tak pernah menyakiti hatiku walaupun sekali, walaupun sehari, walaupun semeit, walaupun sedetik saja. Pria ini tak pernah membuat pelipis mata ku mengeluarkan air mata. Sungguh pria idaman para wanita bukan? Aku adalah wanita beruntung yang bisa dicintai olehnya.

Hubunganku sangat bahagia sampai perbedaan membuat kami terpisah oleh keadaan. Inilah fase-fase dimana hatiku terbolak-balik oleh ketidakpuasan atas keputusan Tuhan. Aku tak pernah menyebut pertemuan antara kami adalah sebuah kebetulan, kami yakin dipertemukan oleh Tuhan dan diminta untuk mempertahankan. Tapi tetap, ini adalah hubungan yang menganehkan.

Dia sudah berjuang tak pedulikan apa yang orang pikirkan. Tapi bahagia yang diperlihatkan adalah kebohongan sampai melepaskanku tidak dia artikan sebagai perpisahan, melainkan kebebasan untuk mencintai tanpa harus merasa terbebani. Dalam sisi lain aku menangis, bukan karena bersedih tapi bahagia karna pernah merasa dicintai oleh pria yang selalu menjadikanku wanita istimewa.

Mungkin cinta memang tak mengenal batas usia atau warna kulit kita. Tapi perbedaan yang melandaskan cara berdoa membuat cinta bertumpah ruah dengan kata pisah. Meski kami selalu mengaminkan doa yang sama, tapi pengorbanan adalah salah satu hal yang berada didalam sebuah perjuangan. Maka dari itu aku menerima semua keputusan, meskipun menyakitkan.

“Aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik meski melalui kehilangan.” Kata-nya.

Itu kalimat terakhir yang ku dengar dari pembicaraan kita. Ya, dari kita yang sudah tak lagi ada.

Senin, 09 Maret 2015

Kamu hanya perlu percaya


Banyak yang mengatakan, jatuh cintalah untuk membuat dirimu bahagia dan merasa sempurna. Sedangkan yang ku rasa, jatuh cinta hanyalah permulaan untuk menghadiri luka. Jika ada yang bertanya mengapa ku katakan demikian, aku tak mempunyai jawaban karna percayalah, aku menulis ini dalam keadaan hati sedang terluka parah, tercabik luka didalam dan menggerogotinya sampai aku merasa hampa sendirian.

Banyak yang mengatakan, jatuh cintalah agar kau merasa bagaimana rasanya dinomor satukan. Lalu aku banyak tak mengerti, jika sebenarnya seperti itu maka bagaimana dengan orang yang sudah menomor satukan ternyata dinomor dua kan? Kesalahan yang membuatmu merasa terabaikan. Tak dihargai dan akhirnya memilih untuk bertahan sendiri kemudian menunggu waktu untuk memisahkan diri.

Banyak yang mengatakan, jatuh cintalah agar kau merasakan bagaimana diistimewakan oleh pengorbanan. Kemudian aku tertawa dan melempar gelas berisi air mata.

Tak sedikit orang yang datang padaku dengan keadaan lumpuh didalam, katanya semua perjalanan sama saja, selalu terhenti ditengah jalan dan tak bisa menemukan arah untuk pulang. Mereka memaksaku untuk mengantarnya kembali pulang, tapi yang ku katakan adalah jalan kembali pulang bukanlah arah yang benar, kamu hanya perlu menemukan arah jalan lain untuk menuju tujuan dan tak sedikit orang yang cukup memahami apa yang ku yakini untuk mengobati luka hati. Sampai pada akhirnya aku merasa bahwa semua tak semudah pembicaraan orang lain terhadap permasalahan yang sedang kita alami.

Jatuh cintalah karna hatimu memang butuh untuk bahagia. Percaya saja bahwa cinta tak terlalu menyedihkan seperti yang sudah-sudah. Berusaha untuk lupa tidak akan pernah bisa melewatinya, cukup menghadiri pertemuan kenangan-kenangan lama bersama sebuah rela.

Akan ada banyak orang yang menilaimu dengan cara yang berbeda hanya karena kamu memilih waktu yang sedikit lebih lama untuk sendiri, untuk menunggu seseorang yang benar-benar tepat yang akan menetap. Kamu hanya perlu percaya bahwa segala sesuatu yang kamu lakukan adalah apa yang kamu yakinkan dengan benar. Tak peduli apa yang kamu dengar, kamu hanya perlu percaya pada apa yang kamu rasakan.

Tak ada yang salah jika kamu ingin menunggu dengan cara mu. Tak perlu terburu-buru menentukan siapa atau bagaimana kamu akan memulai semuanya dari awal. Kamu hanya perlu percaya bahwa siapapun dia adalah yang terbaik yang sedang berjalan ke arah mu, meskipun dengan langkah perlahan.

Kamu hanya perlu percaya pada apa yang kamu rasakan.

Kamu hanya perlu percaya.