Senin, 09 Maret 2015

Kamu hanya perlu percaya


Banyak yang mengatakan, jatuh cintalah untuk membuat dirimu bahagia dan merasa sempurna. Sedangkan yang ku rasa, jatuh cinta hanyalah permulaan untuk menghadiri luka. Jika ada yang bertanya mengapa ku katakan demikian, aku tak mempunyai jawaban karna percayalah, aku menulis ini dalam keadaan hati sedang terluka parah, tercabik luka didalam dan menggerogotinya sampai aku merasa hampa sendirian.

Banyak yang mengatakan, jatuh cintalah agar kau merasa bagaimana rasanya dinomor satukan. Lalu aku banyak tak mengerti, jika sebenarnya seperti itu maka bagaimana dengan orang yang sudah menomor satukan ternyata dinomor dua kan? Kesalahan yang membuatmu merasa terabaikan. Tak dihargai dan akhirnya memilih untuk bertahan sendiri kemudian menunggu waktu untuk memisahkan diri.

Banyak yang mengatakan, jatuh cintalah agar kau merasakan bagaimana diistimewakan oleh pengorbanan. Kemudian aku tertawa dan melempar gelas berisi air mata.

Tak sedikit orang yang datang padaku dengan keadaan lumpuh didalam, katanya semua perjalanan sama saja, selalu terhenti ditengah jalan dan tak bisa menemukan arah untuk pulang. Mereka memaksaku untuk mengantarnya kembali pulang, tapi yang ku katakan adalah jalan kembali pulang bukanlah arah yang benar, kamu hanya perlu menemukan arah jalan lain untuk menuju tujuan dan tak sedikit orang yang cukup memahami apa yang ku yakini untuk mengobati luka hati. Sampai pada akhirnya aku merasa bahwa semua tak semudah pembicaraan orang lain terhadap permasalahan yang sedang kita alami.

Jatuh cintalah karna hatimu memang butuh untuk bahagia. Percaya saja bahwa cinta tak terlalu menyedihkan seperti yang sudah-sudah. Berusaha untuk lupa tidak akan pernah bisa melewatinya, cukup menghadiri pertemuan kenangan-kenangan lama bersama sebuah rela.

Akan ada banyak orang yang menilaimu dengan cara yang berbeda hanya karena kamu memilih waktu yang sedikit lebih lama untuk sendiri, untuk menunggu seseorang yang benar-benar tepat yang akan menetap. Kamu hanya perlu percaya bahwa segala sesuatu yang kamu lakukan adalah apa yang kamu yakinkan dengan benar. Tak peduli apa yang kamu dengar, kamu hanya perlu percaya pada apa yang kamu rasakan.

Tak ada yang salah jika kamu ingin menunggu dengan cara mu. Tak perlu terburu-buru menentukan siapa atau bagaimana kamu akan memulai semuanya dari awal. Kamu hanya perlu percaya bahwa siapapun dia adalah yang terbaik yang sedang berjalan ke arah mu, meskipun dengan langkah perlahan.

Kamu hanya perlu percaya pada apa yang kamu rasakan.

Kamu hanya perlu percaya.

Minggu, 22 Februari 2015

Untukmu saja


\
Teruntuk,
Seseorang yang (pernah) sangat begitu ku cinta.

Maaf jika aku katakan pernah. Karena sekarang aku merasa tak begitu sangat. Mungkin kali ini aku tak lagi bisa menuliskan mu kata-kata manis yang bisa membuatmu merasa sangat dipentingkan dalam hidupku. Mungkin memang penting. Tapi kali ini aku merasa itu tak begitu sangat penting. Ah, apa aku terlalu banyak menggunakan kata “mungkin?”

Mungkin aku terlalu pemarah atau mungkin aku terlalu perasa? Ah, lagi-lagi aku menggunakan kata “Mungkin”. Aku terlalu bingung untuk bagaimana mengatakan soal perasaan ku yang sudah begitu terasa menganehkan buatku.

Aku tak membencimu apalagi harus merasa bahwa kamu sudah tak lagi layak berada disampingku. Aku masih mencintaimu seperti kala aku merasa kamu adalah panutan dari segala langkah kaki yang membingungkan. Tapi sekarang aku merasa kau begitu sangat menjengkelkan.

Pertengkaran kita bulan-bulan lalu menjadi sesuatu yang tak bisa aku lupakan meski sudah ku paksakan. Kau tau? Harusnya aku tak pernah mau tau segala urusan mu, segala apa yang tersembunyi didalam ruang lingkup keluarga ini. Tapi mungkin aku terlalu ceroboh untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sampai aku mengetahui bahwa malaikatku ternyata tak semurni itu.

Boleh kah aku menyalahkanmu atas semua kesalahan yang sangat ku benci itu?

Aku tak pernah membencimu meskipun belakangan ini kita sudah tak lagi banyak bicara. Karena mungkin aku yang terlalu berdiam diri dan selalu pergi menghilang dari pandanganmu. Aku hanya ingin mengstabilkan lagi perasaan ku terhadapmu. Aku hanya ingin menghilangkan ingatan tentang masalah itu. soal luka yang kini ku rasakan aku sungguh ingin menghilang.

Semoga dari kejadian ini kamu bisa lebih mencintai pria yang ku panggil ayah itu. Ya, bu?


                                                                                                Dari,

                                                                                                Aku.

Sabtu, 21 Februari 2015

Mata Memerah



Teruntuk,
Seseorang yang tak ingin ku sebut namanya sekarang.
Seseorang yang tak pernah pergi meski sudah ku usir berpuluh-puluh kali.

Boleh kah kali ini aku menuliskan mu sesuatu?

Aku sedang mengingatmu tiba dengan sebuah payung yang kau genggam untuk meneduhkan ku dari hujan sore itu, saat kamu berusaha membawa ku bangun dari jatuh yang menghancurkan ku, saat kamu mencoba merangkul ku sampai-sampai payung itu kau lempar jauh dari pandanganku. Saat kamu memaksakan pelukan yang harusnya tak ku lakukan.

Ya, saat kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Tak peduli pada jawaban ku, kamu tetap erat memeluk harap yang akhirnya hanya bisa mengecawakan mu. bukan begitu?
Andai semua tak serumit itu, mungkin setelah sore menyedihkan itu, kita bisa memulai hari bahagia dengan cara kita sendiri. Dan aku yang terlalu bodoh untuk tidak mengakui rasa yang telah hadir, saat itu aku hanya takut pengakuan akan merusak sebuah persahabatan.

Sudah sering kamu menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja seperti apa dugaanmu. Andai kamu tau bahwa beberapa persoalan memang membutuhkan waktu lebih banyak untuk diselesaikan.

Sampai kamu lelah mengejar, sampai persahabatan kita semakin terasa hambar. Sampai malam itu kita memutuskan untuk saling menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Sampai pelukan terakhir kamu mengatakan bahwa “Aku mencintaimu, masa bodoh dengan jawaban mu. Dan aku akan tetap menjadi sahabat baik mu sampai kapanpun.” Detik itu, saat kamu baru saja menutup mulut mu setelah mengeluarkan kalimat itu, saat pelukan itu kau lepaskan dengan begitu cepat, saat tubuh mu samar semakin menjauh tak terlihat, aku baru menyadari bahwa sebuah rasa memang tak bisa dipura-pura kan tak ada meskipun sudah dijaga bahkan untuk seorang sahabat. Dan sayangnya, itu adalah pertemuan kita yang terakhir. Kamu menghilang seakan rasa itu seketiba telah pudar dan tanpa kabar kamu memutuskan untuk pergi jauh dari pandangan. Malam itu aku kehilangan dua hal yang menjadikan penyesalan sampai menghabiskan hitungan bulanan, aku kehilangan sahabat ku dan pria yang mencintaiku dan ku cintai juga.

Maaf jika aku hanya bisa menuliskan sebuah penyesalan sekarang. Aku hanya ingin mengadu manja padamu seperti dulu pada sahabat ku, kau tau? belakangan ini mata ku sering merasa perih dan memerah yang teramat sangat, lalu air mata yang tak kunjung berhenti membasahi pipi.

Hey! Aku berani bersumpah bahwa aku tak menangis.
Hanya saja mata ku terkena infeksi.


                                                                                    Dari,

                                                                                    Sahabat bodoh mu.

Senin, 16 Februari 2015

ALV



Teruntuk,
Teman gila yang sangat mencintai senja dan pencipta kata yang selalu ku sukai karena bermakna.

Sepertinya ini adalah hal yang paling menganehkan yang pernah ku lakukan selama kita berteman. Apalagi jika mengingat cara kita berkenalan dan mulai mendiskusikan banyak hal.

Hi, bagaimana kabar mu sekarang? Ku dengar kesendirian yang cukup lama itu sudah membentuk mu menjadi pria yang bisa menghargai pertemuan, ya? Aku senang mendengar kabar bahwa acara yang terakhir kamu lakukan mendapatkan kesuksesan. Kapan kita bisa memeluk lagi malam dan membuat gebrakan untuk orang-orang yang sering meremehkan sebuah pengharapan? Hahaha. Kupikir, suatu senja nanti kita harus bertemu dan membuat cerita baru tercampur beberapa bait puisi yang sering kali kita buat bersama, dan tak lupa dengan satu cangkir coffee ditangan kita masing-masing.

Kita hanya berlalu-lalang. Tidak pernah saling bertukar kabar, tapi jika ada kesempatan kita selalu membicarakan banyak hal, bahkan sampai menciptakan satu cerita yang bisa dibaca oleh banyak orang. kamu tidak seperti teman pria ku kebanyakan. Kamu bisa menahan ego jika sedang bicara dengan perempuan, kamu bisa mengerti apa yang mereka yakini tanpa harus dikatakan lebih dini.

Seperti kuncup bunga yang sedang berusaha untuk terus terlihat indah dengan cara yang bijaksana, seperti rintik hujan yang terus turun meskipun banyak yang mengeluh, seperti itulah kamu terekam didalam ingatan ketika kita pertama kali berkenalan. Walaupun tidak cukup mengesankan tapi kamu adalah pria tangguh yang pernah ku kenal.

Aku tau kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku mengirimkan mu surat cinta, haha jangan berpikir terlalu keras. Aku tidak tau harus mencarimu kemana, ditambah dengan kesibukan masing-masing dari kita yang sulit untuk menemukan waktu yang sama. Disini, aku hanya ingin mengucapkan Terima kasih untuk segala yang pernah kamu lakukan untuk memberikan ku kepercayaan, meskipun untuk diriku seorang. Terima kasih karena pernah mau meluangkan jam tidur mu untuk mendengar semua ocehan aneh ku. Terima kasih karena pernah berani untuk menampar ku sekali untuk pandangan hidup yang jauh lebih baik. Terima kasih karena tak pernah menyerah pada ku untuk mewujudkan apa yang ku impikan

Aku hanya ingin mengatakan bahwa kamu adalah teman yang cukup berperan dalam kelangsungan apa yang ku yakinkan. Ketika banyak orang yang meremehkan apa yang ku percayakan, tapi kamu tetap bertahan di posisi yang selalu membuat ku tahan berdiri meskipun sedang sendiri. Pernah sekali aku merasa bahwa setiap teman itu sama, pembicaraan yang tak kunjung usai karena harus sibuk mencerminkan orang-orang yang tak dikenal. Tapi ternyata kamu berbeda.

Aku percaya meski melalui doa, suatu hari nanti kamu bisa menggenggam dunia dengan tangan mu sendiri. Pesan ku, jangan terlalu memikirkan tentang seseorang, karena aku percaya Tuhan telah mempersiapkan segalanya didepan sana. Perempuan impian mu sedang menunggu untuk kau temukan. Berhati-hati lah dalam memilih jalan, semoga kamu selalu bahagia dimana pun kamu berada. 

                                                            Dari,
                                                            Perempuan pencinta coffee yang aneh ini.

Sabtu, 14 Februari 2015

Pengakuan


Priaku,

Boleh kah ku panggil dengan sebutan itu? aku hanya sedang memikirkan mu tanpa jeda waktu, tanpa mengenal bahwa sekarang sudah pukul dua dini hari dan bukan malam lagi. Aku masih saja belum bisa berhenti merindukan mu bahkan sampai detik aku menulis kata tadi.

Aku tak ingin menanyakan kabar mu, aku tahu kamu pasti baik-baik saja disana. Aku tau ini sudah menjadi entah surat cinta yang keberapa, dan aku tak peduli bahwa kamu masih saja tak pernah membalasnya. Terlewat bahagia kah kamu disana sampai tak pernah lagi menemukan ku meski dalam mimpi? Aku tau kamu tak suka melihat ku menangisi rindu itu yang tak saja kunjung habis, tapi sungguh, air mata ku bukan karena mu, aku hanya saja masih tak bisa menahan ingatan jika sudah menoleh padamu.

Sebenarnya, aku akan membuat pengakuan. Tapi pertama-tama aku ingin mengucapkan Happy Birthday, semoga panjang umur dan sehat selalu. Jangan terlalu marah seperti itu, ini adalah hari bahagiamu, maka aku akan mendoakan hal yang sewajarnya orang doakan pada seseorang yang sedang berulang tahun. Apakah ucapan doa itu cukup untuk menambahkan umur mu? Untuk membawamu kembali lagi padaku? Apa sekarang kamu sudah cukup pintar untuk mengartikan rindu? Dari dulu kamu masih saja tak pernah bisa serius menangapi rasa rindu ku, kamu selalu merasa bahwa kita punya cukup banyak waktu untuk bersama. Iya kah? LIHAT! Bahkan sekarang adalah ke-5 kalinya kamu tak merayakan hari bahagiamu bersama ku. Aku marah sekali padamu jika harus mengingat itu.

Tidak! Aku tidak menangis ketika sedang menulis paragraph tadi. Jangan menganggapku berlebihan, aku benci melihatmu yang pasti akan tertawa menggodaku.

Kau tau, banyak cerita yang ingin ku bagi denganmu. Aku sudah tak tahan jika harus menyimpan segalanya sendirian. Obrolan malam, usaha lawakan, dan perbincangan yang pernah kita lakukan sungguh membuatku tak bisa berhenti membayangkan wajahmu itu, seolah baru kemarin kita bertemu dan bertengkar soal perbedaan. Lagi-lagi hal itu yang terus menganggu pikiran. Aku masih saja tak percaya bahwa kamu sudah tak ada, pergi dahulu meninggalkan aku yang masih belum sempat menyampaikan obrolan yang terhenti karena hujan. Semalaman aku menunggu kabar, dan yang datang adalah sebuah kehilangan.

Ah hentikan! Aku sudah tak bisa lagi menahan butir air mata yang sudah berada diujung kelopak mata, yang siap menetes pada pipi yang biasa kau cubit sampai memerah ini. Maka sudahlah aku tak ingin meneruskan lagi tulisan ini, cukup sampai disini isi surat cinta ini.

Oh ya, perihal pengakuan.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa lagi-lagi rindu itu tak bisa ku tahan.
Aku rindu melihatmu sedang berlutut menyelipkan doa di lipatan tangan seperti biasanya. aku rindu kata-kata semangatmu yang bisa menghipnotisku untuk segera meng-amin kan doa mu dalam sujud ku. Dalam doa menghadap kiblat setelah selesai shalat. masihkah kita meng-amin kan doa yang sama? bahkan saat kamu menggenggam erat salib mu dan aku yang sedang berdoa bersama tasbih ku? meskipun banyak orang yang mencaci maki kita, tapi hanya senyum mu yang mampu membuat ku bertahan dengan perbedaan.

Angga, aku rindu mengucapkan Happy Birthday tepat didepan wajahmu.
Semoga kepergianmu hanyalah mimpi buruk, dan setelah aku membuka mata dari tidur panjang ini, kamu sudah menunggu ku diteras rumah untuk merayakanya lagi bersama. Semoga semua itu terulang.  

                                                                                    Tertanda,
                                                                                    Perempuanmu.

Rabu, 11 Februari 2015

Beri Aku, Sedihmu.



Teruntuk,
Gadis yang sudah tak bisa ku hitung sudah berapa kali malam mengeluh soal luka

Ya, surat ketigabelas ini dengan sendiri ku tulis untuk gadis sepertimu, yang aku tak tau pasti seperti apa bentuknya. Haha aku bercanda. Ketika ku tau tema surat cinta kali ini adalah “I Stand By you” entah mengapa yang terpikir olehku hanya kamu, gadis polos yang sering kali tersenyum kearahku tak peduli apa yang sedang kita alami. Aku tau kita lahir dengan berbeda ibu, dari sebuah keluarga yang berbeda, bahkan bentuk wajah pun kita tak sama, tapi aku menyayangimu seperti layaknya saudara. Ah, aku tau kamu sedang tersenyum saat membaca kalimat diatas itu.  maaf jika aku terdengar sedikit membosankan dan lebay, tapi sungguh itu yang ku rasakan. Ya ya, kamu boleh tertawa.

Aku tak ingat sudah berapa lama kita saling mengenal, tapi yang ku rasakan kedekatan ini sungguh menjanjikan. Sudah sejauh ini aku sedikit tau tentang hidupmu, yang mungkin lebih banyak tentang kisah asmara mu. Kamu terlalu memikirkan itu menurutku. Karena aku tau, Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untuk mu, kamu tak perlu terlalu mencemaskan soal itu. sekarang kamu hanya tinggal menunggu dipertemukan sambil menjalankan hidupmu seperti biasanya agar tak membosankan.

Sebenarnya aku tak peduli pada apa yang kamu alami, yang ku pedulikan bahagaimana akhir dari rasa yang sudah kamu tahan dari masalah ini. Bukan karena aku tidak menjadi pendengar yang baik, tapi aku tak pernah bisa menahan rasa sakit tau kamu menangis karena laki-laki yang bahkan tak ku kenal baik. Kamu adalah gadis tegar dan pintar yang pernah ku kenal di alam semesta ini. Tetaplah jadi gadis yang seperti itu, yang tak pernah mau tersakiti meskipun oleh mereka yang sebenarnya tak pernah tau apa yang sedang kamu jalani.

Soal mereka yang sering menyakiti, janganlah kamu anggap itu terlalu membebani. Mereka tak mengenalmu seperti aku mengenalmu. Mereka hanya sedang mengujimu untuk menjadi seseorang yang lebih bisa berdiri di atas kaki sendiri. Mereka terlau iri, sampai lupa menyadari bahwa kamu adalah gadis biasa yang sama seperti mereka; tak ingin disusik meski satu detik.

Jangan pernah berpikir bahwa disini hanya aku yang peduli. Cobalah untuk menatap kearah lain, sebenarnya lebih banyak yang mencintaimu dibandingkan mereka yang terlalu sering mengabaikanmu. Mungkin ini adalah waktu untuk aku berkata kasar padamu. "Sayang, aku lelah melihatmu seperti gadis yang kehilangan arah hanya karena perasaan yang salah. Aku benci melihatmu rapuh seolah sudah tak ada lagi yang ingin kau raih dengan impianmu. Percayalah bahwa masih ada diluar sana yang akan mengisi kekosangan celah-celah di jarimu itu."

Aku tau mungkin setelah membaca paragraph tadi kamu sedang menangis karena kalimat yang ku tulis membuatmu seakan sedang dikucilkan, iya kan? aku minta maaf. Aku tak pernah sekalipun bermaksud untuk menyakiti hatimu, aku hanya ingin membuatmu berpikir lebih bijak.

Sudah terlalu sering aku menangis dipundak mu itu, mengadu segala keluh kesah ku padamu, kamu adalah pendengar yang baik sekaligus teman yang baik untukkku. Maka kali ini, biarkan aku yang menjadi genggaman mu untuk melupakan segala hal yang menyakitimu belakangan ini. Tak perlu berpikir apa mereka yang sering membuat hatimu patah akan kembali seketika, tapi pikirkanlah bahwa disini ada aku dan orang-orang yang peduli terhadapmu siap untuk membahagiakanmu. 

                                                          Dari,
                                                          Aku yang bahagia memliki teman sepertimu

Minggu, 08 Februari 2015

Surat Cinta Pertama



Teruntuk,
Pria yang suatu hari nanti akan menjadi suami ku kelak.

Hi sayang. Tak pernah sekali saja ku buatkan kau sebuah tulisan, bahkan puisi tak pernah ku pikirkan. Mungkin pernah sewaktu-waktu kamu berpikir kemana perginya istriku yang katanya ingin menjadi penulis tapi tak pernah sekali saja menuliskan sesuatu untukmu bukan? Maafkan istrimu yang selalu membuat onar ini sayang. Terlalu sibuk mengobati luka membuatku lupa memikirkan sosok kamu yang belum saja datang.

Ini adalah surat cinta pertama yang ku tulis untukmu, maka jangan tertawa jika ada kata yang tak tepat, karena aku masih malu untuk mengutarakan.

Sayang, seperti apa kamu ketika suatu hari nanti kita bertemu? Aku tak pernah berani untuk membayangkanya. Bukan karena takut kamu tidak seperti apa yang ku harapkan. Hanya saja, aku tak ingin merusak rasa penasaran yang nantinya akan dipertemukan Tuhan. Jika suatu hari nanti kita bertemu dijalan, jangan ragu untuk menyapaku atau berikan satu isyarat bahwa itu kamu, cukup tersenyum manis kearahku. Ah, aku tau kamu adalah seorang pria yang pasti mempunyai senyum paling manis dan itu hanya untukku. tapi jika kamu adalah tipe orang yang tak sabar bertemu denganku, mungkin jika kita bertemu, kamu akan langsung memelukku bukan? dan tentu bukan dengan kedua lengamu itu, tapi dengan tatapan yang seakan kita sudah dijodohkan semesta yang sudah tau lebih awal tentang takdir kita.

Kamu tentu bukan seperti aku kan? yang selalu mengabaikan orang yang berlalu lalang. Itu adalah alasan mengapa kita dipersatukan, karena kita berbeda. Kamu melengkapi apa yang tidak ada padaku. Dan aku juga memiliki apa yang tidak ada padamu. Bukankah memang seperti itu? Kita adalah dua orang yang sama-sama tak sempurna yang akan menyempurnakan segala hal bersama.

Sebenarnya aku tidak pernah sekalipun tidak memikirkanmu, apalagi melupakanmu. Aku hanya akan menyapamu ketika aku sudah siap. Ketika aku sudah tak lagi sibuk mempermasalahkan soal luka. Aku ingin mempersiapkan hati terbaik untuk menyambutmu datang, aku ingin kamu menghuni hati ku yang memang sudah pantas kau huni selamanya. Tanpa ada batas waktu, tanpa pernah kamu ingin mencari lagi. Aku ingin kamu menjadikanku rumah, bukan tempat singgah. Kita akan mempunyai jalan pulang yang sama.

Jadi sudah sampai mana kamu berjalan mencariku? Apa tak bisa kau gunakan peta? Sayang, mengapa tak kamu gunakan saja google maps? Mungkin dengan cepat kita bisa bertemu seketika. Hehehe aku mulai tak sabar.
Atau mungkin kamu sedang mempersiapkan segala hal? Sayang, kamu tak perlu menjadi siapapun untuk mencintaiku. Cukup sabar ketika menghadapi segala tingkah ku. Aku itu menyebalkan dan sering menangis hanya karna hal kecil. Kamu dengar itu? Pastikan tanganmu kuat untuk memelukku ketika aku merengek ingin dilepaskan, kamu harus tetap disampingku meskipun aku sedang marah dan menyuruhmu pergi. Kamu harus tetap perhatian meskipun aku sedang tak ingin menatap.

Sayang, emosi ku tak pernah bisa ku tahan, maka dari itu selalu ada penyesalan yang berada dalam genggaman. aku orang yang keras kepala dan tak mau mengalah jika itu alasan yang masih tak bisa ku bayangkan. Tapi aku tau kamu pasti mengerti, karena kamu adalah suamiku. Kamu akan menjadi orang yang paling mengerti bagaimana aku.

Aku disini baik-baik saja, aku bisa mengatasi segala luka dan perlahan sembuh. aku sudah mulai jauh lebih baik. Aku sudah tak lagi menangis sendiri, kali ini waktuku habis untuk membaca dan menulis. Jika tidak begitu, mungkin aku sudah tak tau harus bagaimana lagi mengahadapi segala hal yang menggangguku belakangan ini. Tak ada dada yang bisa ku salahkan, tak ada pundak yang bisa ku jadikan penompang beban dan tak ada jari-jemari yang bisa ku genggam. Harusnya kamu yang ada di possisi itu bukan sayang? Tapi tak usah terlalu dipikirkan, jika nanti kita bertemu, aku akan meminta pertanggung jawaban mu dengan menyuruhmu untuk selalu ada disampingku. Kamu dengar itu? hahaha

Sayang, pastikan kamu selalu baik-baik saja dan bahagia, ya?

                                                                                                            Dari,

                                                                                                            Istrimu kelak.