Rabu, 11 Februari 2015

Beri Aku, Sedihmu.



Teruntuk,
Gadis yang sudah tak bisa ku hitung sudah berapa kali malam mengeluh soal luka

Ya, surat ketigabelas ini dengan sendiri ku tulis untuk gadis sepertimu, yang aku tak tau pasti seperti apa bentuknya. Haha aku bercanda. Ketika ku tau tema surat cinta kali ini adalah “I Stand By you” entah mengapa yang terpikir olehku hanya kamu, gadis polos yang sering kali tersenyum kearahku tak peduli apa yang sedang kita alami. Aku tau kita lahir dengan berbeda ibu, dari sebuah keluarga yang berbeda, bahkan bentuk wajah pun kita tak sama, tapi aku menyayangimu seperti layaknya saudara. Ah, aku tau kamu sedang tersenyum saat membaca kalimat diatas itu.  maaf jika aku terdengar sedikit membosankan dan lebay, tapi sungguh itu yang ku rasakan. Ya ya, kamu boleh tertawa.

Aku tak ingat sudah berapa lama kita saling mengenal, tapi yang ku rasakan kedekatan ini sungguh menjanjikan. Sudah sejauh ini aku sedikit tau tentang hidupmu, yang mungkin lebih banyak tentang kisah asmara mu. Kamu terlalu memikirkan itu menurutku. Karena aku tau, Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untuk mu, kamu tak perlu terlalu mencemaskan soal itu. sekarang kamu hanya tinggal menunggu dipertemukan sambil menjalankan hidupmu seperti biasanya agar tak membosankan.

Sebenarnya aku tak peduli pada apa yang kamu alami, yang ku pedulikan bahagaimana akhir dari rasa yang sudah kamu tahan dari masalah ini. Bukan karena aku tidak menjadi pendengar yang baik, tapi aku tak pernah bisa menahan rasa sakit tau kamu menangis karena laki-laki yang bahkan tak ku kenal baik. Kamu adalah gadis tegar dan pintar yang pernah ku kenal di alam semesta ini. Tetaplah jadi gadis yang seperti itu, yang tak pernah mau tersakiti meskipun oleh mereka yang sebenarnya tak pernah tau apa yang sedang kamu jalani.

Soal mereka yang sering menyakiti, janganlah kamu anggap itu terlalu membebani. Mereka tak mengenalmu seperti aku mengenalmu. Mereka hanya sedang mengujimu untuk menjadi seseorang yang lebih bisa berdiri di atas kaki sendiri. Mereka terlau iri, sampai lupa menyadari bahwa kamu adalah gadis biasa yang sama seperti mereka; tak ingin disusik meski satu detik.

Jangan pernah berpikir bahwa disini hanya aku yang peduli. Cobalah untuk menatap kearah lain, sebenarnya lebih banyak yang mencintaimu dibandingkan mereka yang terlalu sering mengabaikanmu. Mungkin ini adalah waktu untuk aku berkata kasar padamu. "Sayang, aku lelah melihatmu seperti gadis yang kehilangan arah hanya karena perasaan yang salah. Aku benci melihatmu rapuh seolah sudah tak ada lagi yang ingin kau raih dengan impianmu. Percayalah bahwa masih ada diluar sana yang akan mengisi kekosangan celah-celah di jarimu itu."

Aku tau mungkin setelah membaca paragraph tadi kamu sedang menangis karena kalimat yang ku tulis membuatmu seakan sedang dikucilkan, iya kan? aku minta maaf. Aku tak pernah sekalipun bermaksud untuk menyakiti hatimu, aku hanya ingin membuatmu berpikir lebih bijak.

Sudah terlalu sering aku menangis dipundak mu itu, mengadu segala keluh kesah ku padamu, kamu adalah pendengar yang baik sekaligus teman yang baik untukkku. Maka kali ini, biarkan aku yang menjadi genggaman mu untuk melupakan segala hal yang menyakitimu belakangan ini. Tak perlu berpikir apa mereka yang sering membuat hatimu patah akan kembali seketika, tapi pikirkanlah bahwa disini ada aku dan orang-orang yang peduli terhadapmu siap untuk membahagiakanmu. 

                                                          Dari,
                                                          Aku yang bahagia memliki teman sepertimu

Minggu, 08 Februari 2015

Surat Cinta Pertama



Teruntuk,
Pria yang suatu hari nanti akan menjadi suami ku kelak.

Hi sayang. Tak pernah sekali saja ku buatkan kau sebuah tulisan, bahkan puisi tak pernah ku pikirkan. Mungkin pernah sewaktu-waktu kamu berpikir kemana perginya istriku yang katanya ingin menjadi penulis tapi tak pernah sekali saja menuliskan sesuatu untukmu bukan? Maafkan istrimu yang selalu membuat onar ini sayang. Terlalu sibuk mengobati luka membuatku lupa memikirkan sosok kamu yang belum saja datang.

Ini adalah surat cinta pertama yang ku tulis untukmu, maka jangan tertawa jika ada kata yang tak tepat, karena aku masih malu untuk mengutarakan.

Sayang, seperti apa kamu ketika suatu hari nanti kita bertemu? Aku tak pernah berani untuk membayangkanya. Bukan karena takut kamu tidak seperti apa yang ku harapkan. Hanya saja, aku tak ingin merusak rasa penasaran yang nantinya akan dipertemukan Tuhan. Jika suatu hari nanti kita bertemu dijalan, jangan ragu untuk menyapaku atau berikan satu isyarat bahwa itu kamu, cukup tersenyum manis kearahku. Ah, aku tau kamu adalah seorang pria yang pasti mempunyai senyum paling manis dan itu hanya untukku. tapi jika kamu adalah tipe orang yang tak sabar bertemu denganku, mungkin jika kita bertemu, kamu akan langsung memelukku bukan? dan tentu bukan dengan kedua lengamu itu, tapi dengan tatapan yang seakan kita sudah dijodohkan semesta yang sudah tau lebih awal tentang takdir kita.

Kamu tentu bukan seperti aku kan? yang selalu mengabaikan orang yang berlalu lalang. Itu adalah alasan mengapa kita dipersatukan, karena kita berbeda. Kamu melengkapi apa yang tidak ada padaku. Dan aku juga memiliki apa yang tidak ada padamu. Bukankah memang seperti itu? Kita adalah dua orang yang sama-sama tak sempurna yang akan menyempurnakan segala hal bersama.

Sebenarnya aku tidak pernah sekalipun tidak memikirkanmu, apalagi melupakanmu. Aku hanya akan menyapamu ketika aku sudah siap. Ketika aku sudah tak lagi sibuk mempermasalahkan soal luka. Aku ingin mempersiapkan hati terbaik untuk menyambutmu datang, aku ingin kamu menghuni hati ku yang memang sudah pantas kau huni selamanya. Tanpa ada batas waktu, tanpa pernah kamu ingin mencari lagi. Aku ingin kamu menjadikanku rumah, bukan tempat singgah. Kita akan mempunyai jalan pulang yang sama.

Jadi sudah sampai mana kamu berjalan mencariku? Apa tak bisa kau gunakan peta? Sayang, mengapa tak kamu gunakan saja google maps? Mungkin dengan cepat kita bisa bertemu seketika. Hehehe aku mulai tak sabar.
Atau mungkin kamu sedang mempersiapkan segala hal? Sayang, kamu tak perlu menjadi siapapun untuk mencintaiku. Cukup sabar ketika menghadapi segala tingkah ku. Aku itu menyebalkan dan sering menangis hanya karna hal kecil. Kamu dengar itu? Pastikan tanganmu kuat untuk memelukku ketika aku merengek ingin dilepaskan, kamu harus tetap disampingku meskipun aku sedang marah dan menyuruhmu pergi. Kamu harus tetap perhatian meskipun aku sedang tak ingin menatap.

Sayang, emosi ku tak pernah bisa ku tahan, maka dari itu selalu ada penyesalan yang berada dalam genggaman. aku orang yang keras kepala dan tak mau mengalah jika itu alasan yang masih tak bisa ku bayangkan. Tapi aku tau kamu pasti mengerti, karena kamu adalah suamiku. Kamu akan menjadi orang yang paling mengerti bagaimana aku.

Aku disini baik-baik saja, aku bisa mengatasi segala luka dan perlahan sembuh. aku sudah mulai jauh lebih baik. Aku sudah tak lagi menangis sendiri, kali ini waktuku habis untuk membaca dan menulis. Jika tidak begitu, mungkin aku sudah tak tau harus bagaimana lagi mengahadapi segala hal yang menggangguku belakangan ini. Tak ada dada yang bisa ku salahkan, tak ada pundak yang bisa ku jadikan penompang beban dan tak ada jari-jemari yang bisa ku genggam. Harusnya kamu yang ada di possisi itu bukan sayang? Tapi tak usah terlalu dipikirkan, jika nanti kita bertemu, aku akan meminta pertanggung jawaban mu dengan menyuruhmu untuk selalu ada disampingku. Kamu dengar itu? hahaha

Sayang, pastikan kamu selalu baik-baik saja dan bahagia, ya?

                                                                                                            Dari,

                                                                                                            Istrimu kelak.

Kamis, 05 Februari 2015

Duduk Saja



Aku sedang berada di salah satu kedai kopi yang masih terbilang baru di kota ku, ini adalah tempat yang ku tahu dari teman ku. Suasana yang nikmat untuk menikmati kopi dan menulis sendiri, itu yang ku dengar darinya.

Suasana diluar kedai kopi ini sedang hujan deras. Itu alasan mengapa aku belum saja pulang, atau mungkin aku memang sedang menunggu malam.

Aku melirik jalanan, banyak yang berlalu lalang orang yang berpasangan terkena hujan, pakaian nya basah dan mereka banyak yang memaksakan. Pikirku, mengapa tak coba meneduh dulu. Tapi mungkin itu alasan mereka sedang mengepakan rindu. Bahkan sekarang aku sedang membayangkan sesuatu yang juga ku rindukan.

Ketika aku sedang menulis ini, ku buka beberapa tab baru dan salah satunya adalah youtube. Menulis ini sambil mendengarkan lagu milik penyanyi asal kota Bandung yang sedang ku sukai belakangan ini, Yura Yunita – Berawal Dari Tatap.

Berawal dari tatap
Indah senyummu memikat
Memikat hatiku yang hampa lara

Lirik awal lagu ini membuat ku rindu akan rasa jatuh cinta pada tatap pertama. Kalimat yang ku tulis tadi mungkin terbaca seperti drama. Tapi terkadang tak bisa pungkiri bahwa aku merindukan senyum seseorang yang bisa membuatku nyaman sampai lupa bahwa aku sedang membutuhkan genggaman.

Senyum membawa tawa
Tawa membawa cerita
Cerita kasih indah tentang kita

Tiga bait lagu ini membuatku tersadar bahwa aku pernah bahagia bersama orang yang mungkin sekarang sudah membahagiakan dan dibahagiakan dengan seseorang yang bukan aku. Sungguh, aku percaya bahwa perpisahan adalah langkah awal untuk kembali menemukan. Tapi biarkan kali ini ku bayangkan tentang kita yang hanya berisi cerita bahagia.

Terkadang ku ragu
Kadang tak percaya
Tapi ku yakin kau milikku

Aku teringat bahwa kamu pernah memperjuangkan akan kesempatan yang ada, maka dari itu aku tak pernah sekalipun ingin memiliki pikiran bahwa semua hanya persinggahan. Aku mencoba untuk yakinkan bahwa cinta yang ada diantara kita itu nyata adanya dan yakin bahwa kau hanya milikku saja.

Kau membuatku bahagia
Disaat hati ini terluka
Kau membuatku tertawa
Disaat hati ini terbawa
Terbawa oleh cintamu untukku
Untuk kita

Perlahan-lahan bahagia itu muncul diantara kita. Bahkan aku tak terlalu memikirkan akan sampai mana kita sama-sama berjuang. Percaya bahwa yang ku jalani sekarang adalah yang akan membawa ku pada kepastian akan menemukan.

Dan saat lagu itu telah habis ku putar berulang-ulang, aku tersadar bahwa ceita kita sudah menjadi usang. Bahkan aku masih bisa mengingat bagaimana kita berpisah dan pergi dengan jalan yang berbeda. Menyakiti dan tersakiti bagiku adalah hal yang memang pasti ada diantara kita. Aku tak peduli lagi sudah berapa banyak kita saling menyakiti, sudah sampai mana kita sama-sama saling berdiam diri seolah kita baik-baik saja. Aku sudah tak lagi menyalahkan mu atas hati mu yang sekarang ternyata sudah lebih dulu menemukan jalan lain pada hati yang lain.

Entah kamu yang terlalu cepat melupakan kita, entah kamu yang memang sudah begitu mencintai dia, entah memang selama ini dihatimu tak lagi ada aku. Aku sudah tak peduli.

Aku hanya akan duduk sendiri menunggu untuk ditemukan lagi. Oleh siapa saja yang ingin membahagiakan.

Ya, aku hanya akan duduk saja.

Rabu, 04 Februari 2015

Surat Pertama Untuk Tatap Pertama



Teruntuk,
Seseorang yang sedang berada dalam pelukan orang.

Tolong tak perlu kau anggap bahwa ini adalah surat cinta. Karena aku tahu, kamu tak terlalu menyukai sesuatu hal yang berlebihan. Tapi sungguh, surat ini tak berlebihan menurutku, aku hanya menuliskanya untuk sebuah pertemuan yang sebenarnya sering ku rindukan, contohnya sekarang.

Kau tahu? Aku menulis ini sambil mendengarkan rekaman suara mu yang kau kirim beberapa bulan lalu. Bukan suara nya yang ku permasalahkan, tapi lirik yang kau coba nyanyikan itu seperti ocehan yang membuatku sadar sedang berada diposisi mana.

Apa kau masih ingat pertama kali kita bertemu? Di dekat warung tempat biasa kau menikmati suasana jalanan. Kamu tertunduk malu seolah kita pernah bertemu. Dan hanya tatap itu yang terekam didalam kepala ku. Tapi bolehkah itu tak ku anggap sebagai pertemuan pertama? Aku tahu kamu pasti sedang terheran-heran bertanya didalam kepala “Mengapa?” hahaha, aku tertawa.

Bagi ku, pertemuan pertama kita adalah saat aku menangis merintih menjerit di pundakmu. Bahu mu itu sungguh menguatkanku. Banyak hal yang kau coba lakukan hanya untuk membuatku berhenti mengeluarkan suara bising. Aku tahu suara tangis ku sangat mengganggumu. Tapi saat itu aku sama sekali tak bisa menahan rasa sakit yang merobek hatiku sedikit demi sedikit. Kamu adalah pria yang mengambil semua perhatianku penuh. Ya, bagaimana mungkin ada pria yang belum begitu saling mengenal lebih tapi mau menemani, memberi bahu, sampai mendengar keluh kesah ku karena cinta yang begitu bodoh telah memberikan luka dihatiku. Begitu istimewa nya kamu.

Aku akan melewati bagian itu dan itu dan seterusnya setelah itu. Aku tak ingin membahas yang sudah menyakitiku lagi kepada mu, aku tahu kamu tak suka itu. Aku hanya ingin membicarakan rindu.

Aku rindu membagi tawa denganmu, aku rindu kita yang saling membahagiakan seperti dulu. Aku tahu itu bukan salahmu jika rasa yang mulai hadir diantara kita tak bisa kau perhitungkan. Dan katakan saja bahwa itu salahku karena tak bisa membedakan mana yang harus ku pilih dan mana yang harus ku tinggalkan. Bodoh nya aku yang tak bisa memberikan kesempatan padamu untuk membuktikan. Tapi jika waktu bisa diputar ulang, aku tak ingin merubah sesuatu hal. Jika kau mengerti menjadi aku, kau akan tahu bahwa apa yang ku lakukan dulu adalah yang terbaik untukmu dan juga untukku.

Aku tahu rasa itu menjadi abu-abu dan itu adalah alasan mengapa setelahnya kamu tak ingin lagi bertemu denganku. Bahkan hanya menjawab sapa ku jika kita bertemu dijalan. Aku tak mempersalahkan mu atas akhir yang seperti ini, karena mungkin salahku yang memberikan rasa sakit yang berlebih atas kecewa yang teramat dalam hatimu dan itu karena keputusan ku.

Darimu aku belajar, bahwa terkadang ada hal yang harus begitu lama kita pertimbangkan. Memilih orang yang ingin kita bahagiakan tak menjamin itu adalah pilihan yang benar. Membahagiakan orang yang kita bahagiakan pun tentu harus membuat kita ikut serta merasa bahagia. Bukan yang membuat kita merasa menjadi seseorang yang dinomor satukan, tapi orang yang membuat kita merasa utuh dan nyaman, maka bahagia sudah berada dalam genggaman.

Meskipun aku dan kamu tak pernah menjadi kita, tapi didalam rasa aku yakinkan bahwa kamu pernah ada.
Terima kasih karena pernah ada dalam kisah.
Biarkan kita hanya menjadi bayangan. Semoga kamu bisa bahagia dengan kekasih yang kau banggakan. 

                                                                               Dari,

                                                                               Perempuan dari tatap pertama.

Minggu, 01 Februari 2015

Cinta Pertama


Teruntuk,
Pria yang sekarang sedang ku lihat sedang menikmati sarapan dimeja makan.

Aku tahu dia pasti akan tertawa jika tahu aku sedang menuliskannya surat cinta. Ini adalah surat cinta pertama yang ku tulis untuknya.

Ketika aku sedang menulis ini, sesekali wajah itu memandangku dengan memperlihatkan keinginan tahuan apa yang sedang ku lakukan. Suara-suara hentakan yang timbul dari tanganku yang terus mengetik membuatnya mengkerutkan kening. Hahaha, sekarang akulah yang tertawa. Posisi meja makan dengan kamar ku bersebrangan, maka tak heran jika aku sedang diperhatikan. Bisa ku tebak, setelah selesai dia makan, dia akan menghampiriku dan mengintip apa yang sedang ku tulis. Ya, aku tahu karena itulah yang selalu Ayah lakukan jika tau aku sedang menulis sesuatu hal.

Pria yang selalu melakukan hal gila hanya supaya aku bisa tertawa, pria yang tak pernah mengenal kata lelah jika dihadapanya aku selalu bahagia. Pria yang membuatku merasa menjadi wanita yang sangat istimewa.

Sesekali aku yang melihat ke arahnya ketika ayah sedang makan. Ku lihat wajahnya yang mulai kusam, keringat yang mengalir dari sela-sela rambutnya membuat ku yakin bahwa ayah adalah pria yang pantas ku cintai sedalam ini. Rambut putihnya sudah mulai terlihat semakin banyak, maka dari itu aku selalu berdoa tak ingin ayah semakin tua. Tubuh nya perlahan membungkuk, aku yakin beban keluarga yang mengalir di sel-sel tubuhnya membuat tulang-tulang nya lelah. Tapi satu hal yang membuat ku tak pernah percaya bahwa dia adalah manusia, yaitu wajah bahagia dan suara tawa nya tak pernah absen meski satu hari saja. Itulah mengapa aku selalu mengatakan bahwa pria ini adalah malaikat yang Tuhan kirimkan.

Ayah adalah satu-satu nya pria yang tak pernah memaksa ku untuk terlihat dewasa. Meskipun umur ku sudah mau menjadi kepala dua, tapi baginya aku hanyalah gadis kecilnya. Aku dan ayah mempunyai kebiasaan yang sama, selalu sama-sama ingin membuat satu sama lain bahagia. Ayah adalah satu-satunya pria yang tak ingin anak perempuanya jatuh cinta, karena baginya cinta perihal mencintai bukan jatuh nya. Nahkan, ayah membuat ku tertawa lagi. Tanggapan ayah yang satu ini selalu membuatku tak bisa berkata apapun. Ayah selalu takut aku mencintai pria lain melebihi cinta ku pada ayah. Dan tanggapan ayah yang satu ini juga membuat ku terawa. Hahaha

Mungkin ayah belum saja paham bahwa hanya dia satu-satunya pria yang membuatku bisa mengenal cinta. Tak peduli berapa kali banyak aku tersakiti karena cinta, aku tahu suatu hari nanti aku bisa merasakan cinta yang harus tak menyakiti. Tak peduli berapa kali banyak aku harus menangis karena pria lain, aku tahu suatu hari nanti aku bisa bertemu dengan pria yang bisa mencintaiku seperti ayah mencintaiku. Dan soal tampan atau tidaknya, aku tak ingin berkomentar, karena ayah selalu mengatakan bahwa tak akan ada lagi pria tampan yang bisa mencintai dengan benar selain dirinya. Percayalah, tanggapan ayah yang satu ini selalu berhasil membuat perut ku sakit karena tertawa tak hentinya. Hahaha

Terlalu serius menuliskan surat cinta, aku sampai tak lagi memperhatikan ayah yang sedang makan ternyata sudah menghilang. Maka sudahlah, aku tak ingin ayah mengetahui isi dari surat cinta ini. Biarkan surat cinta ini menjadi rahasia kecil yang pernah ku tuliskan.

Dan satu hal lagi. Jika ada yang bertanya siapa cinta pertama ku.
Ku jawab, cinta pertama ku adalah Ayah ku.

                                                                                                Dari,

                                                                                                Gadis kecilmu.

Kamis, 22 Januari 2015

Langit itu biru ya, bu?


Langit itu biru ya, bu?
Satu pertanyaan yang sering kali ku tanyakan pada ibu. Dan jawaban ibu hanya tertawa sambil sesekali mengelus-elus rambut panjangku. Wajahnya masih terlihat sangat muda, dan tangan kuat nya masih saja bisa menompang beban badanku yang mulai berat. Setiap pagi aku selalu menyempatkan memandang langit yang baru disinari matahari, sambil menggenggam tangan ibu dan perlahan tidur di antara kedua kaki nya.
Dan itu adalah pagi sekitar 17tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku sudah lupa bagaimana cara menikmatinya di pagi hari.

Akhir-akhir ini langit terlihat menawan, keindahan yang tak bisa ku paparkan. Semakin sering melihat keatas, aku semakin sadar bahwa langit masih terlihat sama, hanya saja aku yang telah berbeda. Dan kali ini langit membuat ku rindu akan aku yang dulu.

Aku rindu memandang langit bersama mu, sambil bercerita bagaimana hari-hari lelah ku. Aku percaya jatuh cinta akan membuat kita bahagia, tapi kali ini biarkan aku menghabiskan waktu untuk mengingat masa-masa dulu. Kesibukan kita yang berbeda membuat semuanya terasa menganehkan. Aku tak percaya bahwa waktu bisa berjalan secepat ini. Terasa baru kemarin aku bermanja-manja dipangkuanmu, terasa baru kemarin aku sibuk menangis hanya karna memar kecil.

Langit itu biru ya, bu?
Satu pertanyaan yang sering kali ku tanyakan pada ibu. Dan pagi ini jawaban ibu berbeda, ibu hanya tersenyum kearahku sambil menggendong adik kecil ke-4 ku yang baru lahir sekitar lima bulan yang lalu.

Ternyata sudah banyak langit pagi hari yang ku lewati. Sampai aku lupa bagaimana mengulang rasa bahagia ketika menikmatinya. Padahal aku tahu bahwa langit ku masih sama. Hanya kali ini aku yang telah berbeda.

Langit membuat ku sadar bahwa waktu tak bisa diulang, dan hanya dia yang bisa menggenggam semua kenangan. Kita hanya bisa menikmati keindahanya, bukan untuk memikirkan bagaimana langit bisa selalu terlihat sama oleh pandangan kita.

Langit itu biru ya, bu?
Boleh kah aku memandangnya sambil mengadu keluh kesah ku di pangkuanmu, seperti saat sewaktu kecil dulu? 

Jumat, 09 Januari 2015

Jatuh Cintalah Pada Wanita yang Menulis


Jatuh cintalah pada wanita yang menulis. Dia akan menuliskan setiap arti dari kedip matamu saat pertama kali bertemu. Dan satu bait puisi setelah pertemuan itu terjadi lagi dan lagi. Karena dia tak akan pernah bosan menuliskan bagaimana bahagianya sebuah pertemuan yang sudah direncanakan oleh Tuhan. Meskipun semesta ikut berperan, tapi baginya pertemuan bukanlah sebuah kebetulan.

Jatuh cintalah pada wanita yang menulis. Terkadang kamu hanya perlu tersenyum untuk membuat dunia nya lebih hidup. Tidak ada yang akan membuatmu terbagi menjadi beberapa rasa dihatinya, karena baginya hanya dirimu yang mampu menghadirkan sebuah kata hingga menjadi cinta yang nyata.

Jatuh cintalah pada wanita yang menulis. Dia tak akan keberatan menyusun setiap peristiwa-peristiwa yang terjadi bersama. Bahkan rasa bahagia, duka, dan kecewa dengan senang hati akan dia tulis tanpa harus terisak menangis. Karena dia percaya, bahwa pria yang mencintainya adalah satu-satu nya pria yang tak ingin melihat dia terluka.

Jatuh cintalah pada wanita yang menulis. Dia akan mengajakmu berkeliling di dunia kecil nya. Dengan kata yang berawal bahagia, kamu bebas berkelana agar tahu bahwa kehadiranmu membuat kata-katanya menjadi bermakna. Karena baginya, kamu adalah alasan mengapa puisi-puisi bahagia terciptakan.

Jatuh cintalah pada wanita yang menulis. Dia akan setia menunggumu pulang dari hari lelah mu, hanya dengan ditemani satu cangkir kopi, secarik kertas, dan musik yang bisa menyamarkan suara detak nya jarum jam yang berjalan. Tidak akan ada yang lain. Dia akan menunggumu tanpa mau mengganggu kesibukanmu. Karena dia tahu, kamu akan menemaninya setelah itu.

Jatuh cintalah pada wanita yang menulis. Temukanlah dia. Karena dia tersembunyi di ruang sepi hanya ditemani dengan satu cangkir kopi. Sendiri mengajak sepi berbincang tentang menunggu seseorang datang. Mungkin dia terlalu lama menunggu sampai terbelenggu. Karena wanita yang menulis tidak akan selamanya menulis, dia akan menjadi wanita yang bisa kau ajak bicara, wanita yang akan membuatmu selalu tertawa menghadap senja, wanita yang akan memeluk mu ketika kau lelah menghadapi semua masalahmu, wanita yang siap membagi waktu untuk berada disampingmu, wanita yang akan selalu mendoakanmu dalam setiap sujud, dan wanita yang dengan senang hati akan selalu tersenyum untuk mu.