Senin, 29 Juni 2015

Aku Pernah Berkhayal



Aku pernah berkhayal bahwa setiap pagi ketika kedua mataku perlahan membuka, disamping ku ada kamu yang masih terlelap dengan gemas nya. Ku lihat dengan seksama, dan ku yakinkan bahwa ini bukan mimpi pagi hari yang sebentar sirna.
Dan memang, itu bukanlah sebuah mimpi. Melainkan hanya sebuah khayal yang terlalu tinggi.

Aku pernah berkhayal bahwa setiap hari ketika aku ingin pergi meminum kopi di ujung jalan kedai yang biasa ku duduki, kamu selalu memintaku untuk membuatkan kopi untuk kita berdua dan meminum nya bersama di halaman depan rumah kita. Ku ingat dengan seksama, dan ku yakinkan bahwa ini bukan mimpi yang membodohi.
Dan memang, itu bukanlah sebuah mimpi. Melainkan hanya sebuah khayal yang terlalu tinggi.

Aku pernah berkhayal bahwa setiap sore ketika aku ingin memesan makanan siap saji di tempat makan yang biasa ku cicipi, kamu selalu menyeretku ke dapur rumah untuk membuatkan mu makanan untuk makan malam yang nyaman. Ku rasakan kejadian itu dengan seksama, dan ku yakinkan bahwa ini bukanlah mimpi yang menyedihkan.
Dan memang, itu bukanlah sebuah mimpi. Melainkan hanya sebuah khayal yang terlalu tinggi.

Aku pernah berkhayal bahwa setiap menjelang malam ketika aku akan segera menjamah kasur dan bantal, kamu selalu memaksaku membersihkan make up dan shalat berjamaah yang menjadikanmu sebagai imam di depan. Ku ingat memori itu dengan seksama, dan ku yakinkan bahwa ini bukanlah mimpi yang hanya akan membuat perih.
Dan memang, itu bukanlah sebuah mimpi. Melainkan hanya sebuah khayal yang terlalu tinggi.

Aku pernah berkhayal bahwa setiap saat ketika aku tau semua yang ku lalui hanya sebuah khayal yang terlalu tinggi, akhirnya aku memutuskan untuk berdoa dan berharap semua khayal itu akan berhenti. Dan ku ganti menjadi permintaan yang ku kemas dengan begitu manis, yang ku percayai semua khayal itu akan menjadi hidup ku yang membahagikan di satu masa nanti.

Aku pernah berkhayal bahwa setiap detik dimana aku lagi-lagi merasakan khayal yang terlalu tinggi. Aku tau, Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang lebih gila lagi.

Karena aku pernah berkhayal bahwa semua itu akan menjadi nyata dan bahagia.

Minggu, 28 Juni 2015

Kunjungan Sebentar



Kami hanya bisa sama-sama terdiam, membisu membiarkan suara angin yang merajai sore ini. Langit jingga yang sudah mulai terlihat mempesona dimata ku, membuat ku lupa bahwa dari dua jam yang lalu aku tak saja memulai percakapan diantara kita.

Sebenarnya aku hanya ingin mengujunginya, tak lebih. Tak ada niat sedikitpun untuk mengukit semua masa kelam yang terjadi diantara kita berdua. Aku cukup sadar diri bahwa itu akan menyakiti hati. Tapi lagi-lagi, perasaan rindu dari 5 tahun lalu masih saja mengendap di segala penjuru hati, memori antara kita berdua selalu terputar berulang-ulang didalam kepala.

Maaf jika kunjungan ku kali ini hanya bisa mendebatkan masalah itu lagi.

“Harusnya kita bisa bahagia.”
Ya, aku tau pasti akan selalu kalimat itu yang kau katakan terus-menerus tanpa jeda waktu, bahkan aku tak habis pikir bagaimana kau mengatur nafas ketika mendebatkan persoalan yang memilukan. Bagimana kabar perasaan yang akan kehilangan jika terus menerus membahas hal yang tak akan pernah selesai.

Sudah hampir dua jam setengah disini, aku baru berani memberikan mu bunga kamboja. Rasanya benar-benar tak adil jika selalu aku yang memberimu bunga. Kupikir, apa tak pernah sekali saja kamu mau memberikan ku bunga? Tak apa jika hanya satu tangkai saja. Ahh, sudahlah! Aku tak ingin memaksa.

Aku akan memulai percakapan kunjungan sebentar. Yang pertama, bagaimana kabar mu sekarang? Bertahun-tahun tak bertemu denganmu sungguh membuatku tak tahan membayangkan seperti apa kamu sekarang. Kau tau? Harusnya sekali waktu kamu datang ke mimpi ku, meneruskan pembicaraan kita yang terhalang hujan tempo lalu. Kau ingat?

Dan lagi-lagi kau hanya diam.

Dulu, kau selalu menganggap bahwa kita adalah sepasang yang saling melengkapi dan mengimbangi diantara dua sisi berbeda yang ada pada diri kita berdua. Karena soal perjuangan, aku tak pernah faham. Mungkin karena aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya diperjuangkan oleh seseorang, atau mungkin bahkan sampai harus sebegitunya dipentingkan.

Perihal hati, sepertinya kamu memang paling ahli. Tapi soal rindu, aku yang paling mengerti. Apa seperti itu yang saling melengkapi?

“Kita tak pernah seimbang.” Kata ku.

Dan lagi-lagi kau hanya diam.

“Harusnya kita bisa bahagia.” kata mu selalu begitu

“Kau tau kan Negara kita sudah merdeka? Sudah memiliki pancasila yang mengatasnamakan semua umat manusia, dari berbagai suku dan agama?” katamu

Aku selalu menahan tawa jika kamu mulai mengeluarkan kalimat andalanmu itu, bahkan jika harus ku hitung, entah berapa ribu ratus kali kamu mengatakan itu di sela-sela pembicaraan kita. Bahkan hanya 2 kalimat itu yang bisa ku ingat. Tapi tetap, itu tak ada bedanya dengan keadaan. Maaf.

Bahkan sampai detik dimana aku sedang duduk disampingmu kali ini, nyatanya jilbab ku tak pernah selaras dengan salib yang berada di antara nama mu di batu nisan. Kau tak percaya? Lihat! Orang yang berlalu-lalang tak hentinya melihatku dengan tatapan yang menganehkan.

Biar ku percepat…

Aku akan meneruskan percakapan kunjungan sebentar. Yang kedua, aku sudah mengikhlaskan. Kali ini, aku tak akan lagi mempermasalahkan perbedaan, aku tak akan lagi mengingat kematian yang menyebabkan perasaan kehilangan itu semakin menyedihkan. Aku percaya kita akan bertemu lagi meskipun entah harus bereinkarnasi berapa puluh kali, dan setelahnya kita bisa meneruskan pembicaraan yang terhalang kematian.

Angga, makam mu terlihat berantakan. Tapi sepertinya kunjungan sebentar ku telah selesai. Sudah hampir malam, bahkan senja sudah tak lagi ada, perlahan menghilang. Begitu pula kisah kita.

Aku pamit pulang.

Jumat, 12 Juni 2015

Bapak Adinda



Mungkin bagi sebagian orang, musik hanyalah sebuah pengantar malam agar cepat terlelap, atau teman untuk tak merasa sedang sendirian. Tapi bagi ku, musik adalah sebuah perantara yang paling mengerti bagaimana menanggapi semua bentuk rasa. Dari mulai marah, bahagia, sampai perasaan kecewa.

Saat ku dengar musik-musik klasik yang keluar masuk melalui kepala ini, aku sudah mulai merasakan ada hal lain. Hati ku ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh semua musisi pada semua penikmati karya nya. Itulah salah satu hal yang membuat aku sangat mengagumi musik, karena tanpa menjelaskan bagaimana semua perincian isi perasaan, musik mampu menggambarkan semua yang sedang kita rasakan. Hebat bukan.

Beruntung nya, dari kecil aku sudah dibebaskan memilih apa yang ingin ku jalankan. Hobby ku menyanyi dan menikmati musik klasik, meskipun hanya mampu menjadi penyanyi kamar mandi tapi aku sudah memiliki dua orang penggemar setia; Mama dan Bapak.

“Hallo, Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam. Sayang, apa kabar?” ku dengar suara nya yang jauh dari ujung telepon sana

“Alhamdulilah baik ko, ma. Mama dan Bapak apa kabar?”

“Syukurlah, Mama alhamdulilah baik-baik saja. Cuma bapak kayak nya lagi nggak enak badan. Jantung nya sakit lagi. mungkin gara-gara kecapean. Kamu nggak usah khawatir ya”

“Loh ma? Dari kapan? Ko dinda nggak tau Bapak sakit?”

“Sudah dari beberapa hari yang lalu. Bapak nggak mau kamu tau.”

“Loh ko Bapak gitu sih?”

“Bapak tau kamu sedang sibuk-sibuk nya latihan untuk penampilan pertama mu nanti malam. Bapak hanya nggak mau kamu khawatir.”

“Tapi ma, dinda juga kan pengen tau kabar Bapak.” Nada ku sedikit bertambah tinggi

“Hallo, Assalamualaikum.” Ku dengar suara yang membuat hati ku tenang dan rindu yang semakin terasa menjengkelkan.

“Waalaikumsalam, Bapak…” suara ku kembali seperti biasa

“Bagaimana kabar mu, nak? Kamu yang rajin ya latihan nya. Bapak tau kamu akan tampil sangat cantik. Bapak tau, anak bapak yang satu ini akan terlihat paling menawan dan megah dengan cello nya.”
“Tapi pak…”

“Kamu nggak perlu khawatir sama bapak. Bapak cuma kecapean. Kamu jangan pulang. Ingat! Bapak tidak mengkuliah kan mu sampai jauh-jauh di luar kota sana hanya untuk menjadi wanita yang cengeng dan gampang menyerah. Bapak tau, uang yang selama ini bapak pakai untuk membiayai kuliah mu tak akan pernah terbuang sia-sia. Bapak tau kamu sangat mencintai musik. Maka dari itu, buat lah penampilan yang akan membuat bapak percaya akan cinta mu itu. Ya nak?”

“Bapak… dinda pasti bakal bikin Mama dan Bapak bangga!!” suara ku mulai melemah, ku tahan air mata yang mulai berjatuhan

“Mama dan Bapak sudah bangga pada mu. Tau kamu diterima di salah satu universitas terbaik dengan memilih jurusan musik, melihat wajah bahagia mu, tanpa kamu tau, Mama dan Bapak sangat bangga pada mu. Ditambah usaha mu untuk membeli cello sampai menyisihkan uang jajan mu, menggendong cello dari kost mu sampai tempat latihan, sampai kamu sangat merasa kelelahan, Mama dan Bapak percaya kamu bisa membuktikan pada kami bahwa kamu serius dengan apa yang kamu yakinkan sejak dulu.”

Tangis ku meledak dan sendu-sendu yang tak bisa ku tahan itu mulai tak lagi bisa ku bendung. Suara bapak yang ku rindukan dimanjakan oleh suara adzan subuh yang mulai berkumandang. Ini lah instrumen yang paling aku dan Bapak sukai. Adzan membuat aku dan Bapak selalu mendekap doa yang sama; kebahagiaan didalam keluarga.

“Nak, sudah sana ambil air wudhu lalu sholat. Berdoa semoga penampilan mu nanti malam berjalan dengan lancar.”

“Iya pak. Amin. dinda shalat dulu. Sama buat Mama. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

*

Aku berdiri paling depan, disorot lampu panggung yang menyilaukan. Kaki ku bergemetar, mungkin karena ini adalah pertama kalinya aku tampil dengan ditonton puluhan orang. Aku mengambil posisi duduk yang paling nyaman dan mulai menggenggam cello untuk ku mainkan.

Perlahan waktu berjalan, pikiran ku terbuyar oleh keadaan Bapak yang sangat ku khawatirkan, ditambah ku lihat dua kursi yang kosong didepan. Tadinya, itu adalah kursi yang dipersiapkan oleh panitia acara untuk anggota keluarga. Sesekali aku memejamkan mata, mengingat semua perkataan Bapak untuk ku, soal bangga nya bapak pada ku.

Tiba-tiba ku lihat wajah pria yang damai, dengan kerutan yang mulai terlihat di sudut-sudut wajahnya, dia memandang kearah ku dengan mata yang berkaca-kaca. Senyum nya yang menghancurkan segala bentuk rindu. Pria itu tersenyum kearahku, menikmati permainan cello ku. Dengan sekejap, aku semakin bersemangat sampai ku dengar tepuk tangan yang meramaikan semua isi dalam kepala.

“Adinda.” dengan cepat aku mencari sumber suara yang kudengar

“Bapak.” Ku peluk pria itu dengan erat

“Bapak bangga sekali padamu.” Bapak membalas pelukan ku dengan sesekali mengusap punggung ku

Malam itu sendu-sendu tangis yang sudah tak bisa lagi ku hitung menjadi instrument musik klasik yang akan selamanya mengingatkan ku bahwa pria yang sedang ku peluk ini adalah pria hebat yang bisa menahan sakit dari perjalanan antar kota yang mil-mil jauhnya hanya demi untuk melihat penampilan pertama ku.

Jika menurut Bapak musik adalah segalanya buat ku, maka musik ku adalah Bapak.

Jumat, 05 Juni 2015

Hubungan


Dalam hubungan selalu ada batasan
Batasan atas semua pilihan yang satu sama lain jalankan
Batasan untuk bicara bahkan untuk mendengar
Batasan untuk memberi nasihat atau melarang
Dan batasan untuk digenggam

Dalam hubungan jangan terlalu erat kau dekap
Karena tubuhnya tak akan penah bisa kau miliki seutuhnya
Karena kau tak akan pernah bisa tau apa isi hatinya
Karena kau tak akan pernah bisa mengendalikan pikiranya

Dalam hubungan akan ada dimana sebuah ketulusan harus ada karena perasaan tak bisa dengan seenaknya kau mainkan
Harus ada kepercayaan untuk membiarkan dia juga berada didalam dunianya
Harus ada banyak pengertian dimana kamu menjadi tempat keluh kesahnya
Harus ada kesabaran dimana kamu harus memberi saran untuk setiap masalahnya

Dalam hubungan jangan terlalu membiarkan nya tak nyaman dengan segala sikap mu yang berlebihan
Sebab keikhlasan harus selalu ada dalam setiap kehilangan yang mungkin akan datang

Dalam hubungan tak ada bahagia yang tak bisa kau ciptakan, dan tak ada tangis yang bisa kau hindarkan.

Senin, 01 Juni 2015

Ribuan Waktu



Ribuan waktu sudah kita lewati. Mencicipi satu persatu waktu yang sangat kita percayai. Waktu pertama aku mengenalmu, ku rasakan sesuatu, semesta sedang mengatur perjodohan tentang aku dan kamu. Ribuan waktu sudah kita lalui, menyelami setiap rasa yang membuat kita semakin dewasa. Waktu dimana untuk pertama kalinya kamu mencoba mengenal kita. Waktu yang bisa ku cumbui ketika aku merasakan rindu yang membuatku candu.
Ribuan waktu sudah kita lewati. Ketika pertama kali wajah mu muncul di layar ponsel ku, ada rasa yang ingin terus melihat setiap sudut dari wajah itu. Ada yang coba ingin merangkul wanita menyebalkan ini. Aku tersenyum, begitu mengejutkanya skenario Tuhan. Berpeluang besar untuk menertawai tata surya yang mulai berotasi ingin memaksakan hadirnya sebuah matahari disaat badai salju sedang merajai.
Ribuan waktu sudah kita lewati. Aku tertawa mendengar sebuah kata yang terdengar asing dikepala. Ada yang sedang mengorbankan dirinya terluka. Ada rasa yang akan menyamarkan luka. Bahkan saat itu tiba aku lupa bagaimana dengan hati yang sedang menjerit terluka, menangis meluapkan cacian di kepala kini telah sirna. Hanya dengan dia aku bisa tersenyum dengan tawa tanpa harus menonton drama komedi. Aku lupa bagaimana mengingat sesuatu yang pernah ada. Sudah berlalu lalang puing kenangan dikepala, tapi ketika sebuah kata mulai hadir diantara aku dan dia, aku akan menyebutnya sebuah cinta.

Ribuan waktu sudah kita lewati. Sampai detik dimana kamu mulai pembicaraan yang menghentikan degup jantung ku seketika. Saat dimana kamu bicara soal bahagia jika kita bersama, soal keyakinan mu bisa melanjutkan langkah kaki berdua dengan ku.

Ribuan waktu sudah kita lewati. Selamat jatuh cinta, hati.

Kamis, 14 Mei 2015

#4TahunWB: Surat Cinta

Kepada siapapun yang membaca surat cinta ku ini,
Pertama, aku ingin mengucapkan selamat atas semua ide yang kamu ciptakan hingga membuat orang-orang yang belum pandai merangkai kata seperti ku akhirnya memiliki keinginan untuk membagi setiap kata didalam tulisan, bahkan dengan siapapun yang belum ku kenal. Karena mu, sekarang aku memiliki banyak teman yang satu jalan pikiran dan kesamaan mencintai sebuah tulisan.

Kepada siapapun dibalik warung blogger ini,
Aku ingin mengucapkan terima kasih. Entah mengapa, baru sebentar saja kita berkenalan, aku sudah merasa paling diuntungkan dan disayang. Bagaimana tidak? Tulisan ku selalu kamu sebar luaskan disaat aku malah tak pernah percaya diri akan semua tulisan yang ku buat dengan ketulusan, yang ku keluarkan begitu saja dari dalam pikiran.

Kamu adalah sesuatu yang membuat aku semakin mencintai apa yang ku lakukan saat ini. Menulis kan apa saja yang aku pikirkan, masa bodoh dengan semua perkataan orang yang menyinggungkan perasaan. Kau tahu? Dulu, aku selalu dinyatakan sebaga wanita yang menyedihkan. Kau tahu kenapa? Hanya karena aku sering menuliskan puisi yang puitis.

Kamu adalah sesuatu yang membuat aku semakin percaya bahwa aku mampu berkarya. Karena mu, sekarang aku telah memiliki banyak hal yang bisa ku buktikan bahwa aku mampu mengembangkan apa yang ku miliki, pada semua orang yang sering mengatakan bahwa aku tak pernah bahagia hanya karena tulisan ku selalu berakhir dengan rintik tangis.

Kepada siapapun kamu,
Lagi-lagi aku mengucapkan terima kasih dan selamat atas semua bahagia yang sedang kita sama-sama rasa.


                                                                                                                 Dari,
                                                                                                                 Aku.




Sabtu, 09 Mei 2015

Catatan Kusam


Kopi ku sudah tak lagi panas, tapi manis nya masih terasa sama, tak ada yang berubah. Aku masih bisa merasakan gula-gula yang tertinggal didasar cangkirnya. Sama halnya dengan saat aku bertemu lagi dengan pria yang ku cintai dimasa sekolah putih abu dulu. Jika aku tak salah hitung, 5 tahun sudah ku lewati tanpa pernah satu kali saja ingatan itu terlintas dalam pikiran.

Jika ada pertanyaan mengapa aku bisa sebegitunya melupakan potongan ingatan kenangan itu, sepertinya kalian yang membaca tulisan ku ini sudah tau persis pilihan rasa cinta yang mana yang sedang ku ceritakan. Ya kan? Masa putih abu yang memiliki banyak pilihan rasa bahagia dan kecewa, masa dimana semua hanya tentang cinta. Tapi sayang nya, aku malah merasakan cinta yang semua orang tak pernah ingin memiliki nya. Ya, cinta dalam diam. Menyedihkan bukan?

Tunggu sebentar… Biar ku sempurnakan potongan-potongan kenangan itu dalam pikiran.

Pagi itu adalah pagi yang tak biasa. Mungkin karena daun-daun pepohon masih basah karena hujan semalaman, juga langit yang masih kelabu dan menghalangi matahari untuk menyinari semangat test lisan di awal pelajaran nanti. Kami semua disuruh menunggu di luar kelas, dan akan masuk menururt urutan absen yang disertakan dengan nama kita diakhir panggilan. Nama ku diawali dengan huruf A, dan urutan absen ku berada paling atas. Tapi dengan tak terduganya, guru mata pelajaran ilmu sosial ini memulai dari urutan paling bawah. Membuat ku harus menunggu sedikit lama. Bukan nya aku sombong agar dipanggil lebih dulu, tapi karena aku takut materi hapalan ku akan ku lupakan.

Sambil meramas buku hapalan yang mulai rusak, perhatian ku teralihkan oleh beberapa kakak kelas yang sedang duduk tepat didepan kelas ku. Mata ku tertuju pada setiap pria yang sedang tertawa canda gurau disana. Semua wajah yang sering ku lihat karena kelas kami bersebrangan, tapi mata ku menangkap satu tubuh yang asing menurutku, dia membelakangi ku. Wajah nya tak bisa ku lihat dengan jelas. Dan saat giliran ku dipanggil oleh guru, dengan langkah perlahan aku melihat senyum itu yang melebar. Tiba-tiba aku sudah tak lagi jadi pelupa ketika mengingat wajah nya.

Dan tolong, jangan kalian anggap aku tak melakuan apa-apa.

Aku mencari tahu tentang senyum yang mampu membuyarkan semua materi hapalan ku. Dia harus bertanggung jawab atas nilai kosong ku. Aku mendapatkan nomor telepon nya. Kami sempat saling dekat meski hanya melalui pesan singkat, meskipun pembicaraan kami tak ada yang benar karena sikap kami yang sama-sama acuh dan cuek. Itu tak menghalangi niat ku untuk terus mendekatinya. Sampai pada titik dimana aku merasa bahwa aku dan dia tak cocok. Pembicaraan kami mulai tak sejalan, perbedaan pendapat yang jauh berbeda memutuskan aku untuk berhenti mendekatinya. Tapi belum aku membulatkan niat ku, aku melihat dia memboncengi teman wanita nya. Dan setelah aku mencari tahu ternyata itu hanyalah teman satu kelas nya, juga teman dari kekasih nya.

Apa yang bisa ku lakukan dari seorang pengaggum saja. Aku sudah mencoba untuk melupakan nya, membuang semua ingatan tentang nya. Dan pedih nya, bersamaan dengan pilihan itu, aku lebih sering melihat nya di kantin sekolah. Ditambah senyum nya yang tak bisa ku lupakan itu.

Waktu berlalu, tahun pun berganti, musim hujan menjadi kemarau. Dia sudah lulus, sedangkan aku masih harus menyelesaikan 2 tahun lagi di masa putih abu ini. Aku ingat, aku pernah berdoa agar dia selalu bahagia dan baik-baik saja dimana pun dia berada. Dan setelah  itu, aku memilih untuk tak lagi mengingat nya. Senyum itu cukup menjadi bagian dari cinta diam-diam dimasa sekolah ku dulu.

*

Apa kalian pernah merasakan cinta semacam ini? Apa yang terjadi pada akhir kisah nya? Ehh, tunggu sebentar. Apa kalian anggap kisah cinta diam-diam ku sudah selesai? Itu baru cerita awal.

Pagi ini adalah pagi yang berbeda. Mungkin karena pagi ini sudah tak lagi harus memakai seragam putih hitam untuk masa orientasi masuk ke universitas tinggi. Dikala semua teman-teman ku memilih universitas yang berada jauh di luar kota sana, aku malah harus lagi membuat banyak cerita baru di kota yang masih sama.

Aku sedang menikmati suasana kelas ku yang baru, hanya ada satu bangku yang sudah ditempelkan meja kecil berawarna putih kusam. Semuanya terasa berbeda. Kecuali satu hal, mata ku tak kuasa memperhatikan satu pria yang sedang berdiri dengan wajah cemas tepat didepan kelas ku.

Wajah cemas tanpa senyum yang pernah ku lihat dulu. Sungguh, aku tak tahu bahwa dia adalah mahasiswa di univeritasi tinggi yang ku tempati sekarang ini.

Aku tak bergitu ingin lebih lama memperhatikan gerak gerik nya atau bahkan senyum nya seperti dulu. Aku rasa semua telah berbeda mulai sekarang. Aku tak mau lagi meneruskan nya.

Aku mengabaikanya.

*

Lagi-lagi tanpa ku sadari, waktu berjalan lebih cepat lagi. Tak terasa aku sudah memasuki semester 4 yang memiliki jadwal yang padat. Hari-hari ku masih sama dan tak ada yang berubah, apalagi terasa istimewa.

Mungkin sampai aku mendapatkan undangan pertemanan baru dalam aplikasi Blackberry Mesangger ku. Ada nama yang tak asing buat ku. Aku mulai tak tahan menahan rasa penasaran seperti awal kisah ini dimulai.

“Hi ka, ada apa nih? Tumben”

“Hi. Loh kamu kenal aku?”

“Ya, memang kenapa? Dapet pin ku dari mana?”

“Loh ko bisa kenal sih? Dari temen sih habis nyolong pin temen cewek nya. Hehe biasalah cowok.”

“Ya lah aku kenal. kamu itu kan kakak kelas ku waktu SMA dulu. Oh begitu.”

“Oh ya? Tapi ko kamu kenal aku?”

“Hehe tau aja sih ka.”

“Enggak maksudnya tuh ko kamu kenal aku dari begitu banyak nya kaka kelas yang lain.”

Hahaha. Dia lupa pada ku. Dan aku tak ingin membahasnya, aku tak ingin membangun rasa yang sudah tertidur lama. Chatting-an ku semakin hari bertambah dekat, aku rasa ada yang tak wajar dengan nya. Dia; kakak kelas yang ku dekati hampir 1 tahun itu sedang mencoba mendekati ku. Menanyakan dimana tempat tinggal ku, mengajak ku untuk makan malam. Sampai pada akhirnya dia meminta ku untuk menjadi kekasih nya.

Kalian tahu apa yang ku lakukan?

Aku tak menerima nya.

Karena, mungkin cinta pada masa putih abu ku itu seperti kopi yang sudah tak lagi panas, tapi manis nya masih terasa sama, tak ada yang berubah. Ini adalah waktu yang sudah berganti, tahun yang berbeda, masa yang tak lagi sama. Mungkin memang benar, dia adalah pria yang ku cintai dan ku coba dekati. Tapi itu dulu, dan sekarang sudah tak lagi. Meskipun aku masih mencintai senyum itu karena rasa dulu tak pernah ku dapatkan, tapi kopi yang tak lagi panas itu akan jauh berbeda dengan rasa yang sesungguhnya tercipta, meskipun kopi itu masih terasa sama.

Dan mungkin terkadang, cinta diam-diam tak selalu harus diutarakan.