Rabu, 18 September 2013

Ketika SalibMu Dibungkus Rapih Oleh JilbabKu.

Pernah kah kamu merasa mengharapkan sesuatu yang sebenarnya telah kamu sadari tak mungkin kamu miliki? Pernah kah kamu memiliki perasaan yang selalu ingin kamu buang? Perasaan yang selalu ingin kamu lupakan. Mencintai sesuatu yang salah, sudah sadar memang, tapi merasa sudah terlambat untuk dihentikan. Rasanya ingin memperjungkan namun takdir tak membiarkan. Akhirnya hanya bisa diam bukan? Menghela nafas kemudian menerima semuanya memang harus menjadi kenangan.

Hari ini belum ku lihat matahari pagi, pandangan ku masih gelap disertai angin kencang yang ku biarkan menghepas lamunanku untuk beberapa saat. Aku sadar bahwa sudah 2 hari ini aku tak biarkan tubuhku beristirahat. Fikirku, semua pasti akan baik-baik saja. Dia masih terus menghubungi ponsel ku, mengkhawatirkanku, menanyakan kabarku. Aku tau semuanya terasa menyakitkan, tapi akan lebih menyakitkan jika terus ku biarkan.
Ada apa dengan ku? aku tidak bisa berhenti mencintaimu.

Aku dan dia memiliki ruang yang menarik. Kita bersama-sama melewati setiap tanggal nya dengan senyuman. Apa yang orang lain sebut dengan pacaran, bagi kami itu adalah permulan. Kita tidak pernah bicara soal keegoisan atau siapa yang akan lebih mempertahankan. Aku dan dia benar-benar telah bahagia. Hidup ku dan hidupnya berasa telah bersatu. Jika kebanyakan orang mengatakan setelah pertemuan dan sebelum adanya hubungan akan merasakan jatuh cinta, tapi bagi ku setiap bersama denganya aku selalu merasa sedang jatuh cinta. Didalam dunia ku, aku dan dia benar-benar telah bersama selamanya. Ya, di dunia ku :”)

Orang tua ku katakan bahwa aku telah gila. Cinta ku benar-benar telah salah. Aku berjalan dijalan yang salah, aku mengenal cinta yang seharusnya tak pernah aku beri ruang. Fikirku, jika cinta ku memang ditakdirkan bukan untuk nya, lalu mengapa Tuhan membiarkan aku berjalan dengan nya sejauh ini. Jika ada yang harus disalahkan, maka salahkanlah semesta, mengapa harus mempertemukan aku dan dia. Jika aku benar-benar telah salah memilih, lalu mengapa aku dan dia benar-benar merasa telah bahagia sejauh ini.

Minggu pagi, aku duduk manis ditempat biasa aku menunggu nya. Dibawah pohon beringin dan ditemani angin pagi yang menyegarkan tubuh. Aku masih disini, berada di sebrang jalan menunggu nya keluar dari tempat dia bertemu dengan Tuhan nya. Dan seperti biasanya, setelah dia selesai, dengan suara lonceng yang nyaring dan sudah tak asing lagi ditelingaku dia mengajaku berjalan-jalan ditaman. Kita membicarakan banyak hal, tentang keajaiban Tuhan, tentang bagaimana kita menghabiskan waktu sebelum dia mengantarku untuk shalat Dzuhur. Aku mengambil wudhu, bersembahyang dan berdoa, mendoakan dia agar tetap bahagia. Aku melihat ke arahnya, dengan senyum dia melambaikan tangan, dia berlari menghampiriku. Sungguh hasil karya Tuhan yang sempurna berada dalam dirinya, dia laki-laki yang manis, laki-laki yang baik, dan laki-laki yang bisa menerima apa itu “Perbedaan”. Dia benar-benar menghormatiku, dia menghargaiku dengan sopan santun, dia memperlakukanku seperti hal nya dia menjaga ibu nya. Itu salah satu alasan mengapa aku bisa sebegitu mencintainya.

Aku dan dia benar-benar berdua di dunia ini. Tidak ada yang menoleh atau bahkan mengucapkan selamat ketika aku berada dalam keadaan bahagia yang semakin mencintainya. Terkadang, aku selalu bersembunyi dari dunia ketika merasa ingin menangis. Ketika aku lelah, aku selalu mencoba terlihat tegar. Ketika aku terjatuh, aku selalu berusaha agar yang terlihat hanya kecerobohan ku yang tak melihat jalan dengan tepat. Aku tidak pernah melupakan kewajibanku dalam menjalankan 5 waktu dalam keadaan sedang mencintainya. Aku juga tidak melepas jlbabku ketika sedang berada disampingnya, bahkan dia tidak pernah berhenti menyuruhku untuk menjadi hamba yang dicintai oleh Tuhan ku.
Tidak ada yang salah menurutku, dan menurutnya semua orang yang mencaci maki cinta ku hanya perasaan ku saja. Aku sungguh benar-benar tidak ingin melepaskan nya.

Ketika semua keluarga ku menentangku, dan ketika dia berubah menjadi pendiam karena dituduh mencintai wanita yang salah, aku hanya bisa diam menunduk memanggil Tuhan ku dengan derai air mata yang sebenarnya telah habis ku kuras disetiap malam nya. Dia menghapus air mataku sore itu, sore dimana harusnya kita berkhayal tentang bagaimana rumah yang akan kita tempati bersama nanti nya, bagaimana mendekorasi kamar anak-anak kita nantinya, atau berfikir nama yang tepat untuk semua anak-anak kita kelak. Dihadapanku, dengan lipatan tangan yang khusu dia berdoa dengan memanggil nama Tuhan dengan cara yang berbeda, dia menangis seakan menyalahkan Tuhan mengapa membiarkan dia mencintai wanita muslim yang sholeh sepertiku.

Awalnya aku berontak pada takdir, aku cemburu pada keadilan, dan aku kecewa pada kebebasan tentang perasaan. Tapi dengan perkataan indah yang halus kata, dia mulai bicara soal pertemuan di masa depan. Masa yang katanya kita bisa bertemu kembali entah setelah ber-reinkarnasi beberapa puluh kali. Setelah dia bicara soal perpisahan yang terbaik diantara kita berdua, aku tak lagi paham. Aku harus menahan hatiku agar tak terlalu lama treluka karena semesta yang telah salah mempertemukan anatara dua orang.

Ketika salib dibungkus rapih oleh jilbabku, dan ketika kami memanggil Tuhan dengan cara yang berbeda, maka saat itu aku dan dia menyimpan pengharapan yang indah dalam setiap doa.

2 komentar:

  1. Ah, Nis. Tulisan kamu selalu keren!
    Ini kisah kamu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahh :') terima kasih (lagi) Erdi!
      hehehe rahasia penulis ah itu, haha

      Hapus