Minggu, 28 Juni 2015

Kunjungan Sebentar



Kami hanya bisa sama-sama terdiam, membisu membiarkan suara angin yang merajai sore ini. Langit jingga yang sudah mulai terlihat mempesona dimata ku, membuat ku lupa bahwa dari dua jam yang lalu aku tak saja memulai percakapan diantara kita.

Sebenarnya aku hanya ingin mengujunginya, tak lebih. Tak ada niat sedikitpun untuk mengukit semua masa kelam yang terjadi diantara kita berdua. Aku cukup sadar diri bahwa itu akan menyakiti hati. Tapi lagi-lagi, perasaan rindu dari 5 tahun lalu masih saja mengendap di segala penjuru hati, memori antara kita berdua selalu terputar berulang-ulang didalam kepala.

Maaf jika kunjungan ku kali ini hanya bisa mendebatkan masalah itu lagi.

“Harusnya kita bisa bahagia.”
Ya, aku tau pasti akan selalu kalimat itu yang kau katakan terus-menerus tanpa jeda waktu, bahkan aku tak habis pikir bagaimana kau mengatur nafas ketika mendebatkan persoalan yang memilukan. Bagimana kabar perasaan yang akan kehilangan jika terus menerus membahas hal yang tak akan pernah selesai.

Sudah hampir dua jam setengah disini, aku baru berani memberikan mu bunga kamboja. Rasanya benar-benar tak adil jika selalu aku yang memberimu bunga. Kupikir, apa tak pernah sekali saja kamu mau memberikan ku bunga? Tak apa jika hanya satu tangkai saja. Ahh, sudahlah! Aku tak ingin memaksa.

Aku akan memulai percakapan kunjungan sebentar. Yang pertama, bagaimana kabar mu sekarang? Bertahun-tahun tak bertemu denganmu sungguh membuatku tak tahan membayangkan seperti apa kamu sekarang. Kau tau? Harusnya sekali waktu kamu datang ke mimpi ku, meneruskan pembicaraan kita yang terhalang hujan tempo lalu. Kau ingat?

Dan lagi-lagi kau hanya diam.

Dulu, kau selalu menganggap bahwa kita adalah sepasang yang saling melengkapi dan mengimbangi diantara dua sisi berbeda yang ada pada diri kita berdua. Karena soal perjuangan, aku tak pernah faham. Mungkin karena aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya diperjuangkan oleh seseorang, atau mungkin bahkan sampai harus sebegitunya dipentingkan.

Perihal hati, sepertinya kamu memang paling ahli. Tapi soal rindu, aku yang paling mengerti. Apa seperti itu yang saling melengkapi?

“Kita tak pernah seimbang.” Kata ku.

Dan lagi-lagi kau hanya diam.

“Harusnya kita bisa bahagia.” kata mu selalu begitu

“Kau tau kan Negara kita sudah merdeka? Sudah memiliki pancasila yang mengatasnamakan semua umat manusia, dari berbagai suku dan agama?” katamu

Aku selalu menahan tawa jika kamu mulai mengeluarkan kalimat andalanmu itu, bahkan jika harus ku hitung, entah berapa ribu ratus kali kamu mengatakan itu di sela-sela pembicaraan kita. Bahkan hanya 2 kalimat itu yang bisa ku ingat. Tapi tetap, itu tak ada bedanya dengan keadaanMaaf.

Bahkan sampai detik dimana aku sedang duduk disampingmu kali ini, nyatanya jilbab ku tak pernah selaras dengan salib yang berada di antara nama mu di batu nisan. Kau tak percaya? Lihat! Orang yang berlalu-lalang tak hentinya melihatku dengan tatapan yang menganehkan.

Biar ku percepat…

Aku akan meneruskan percakapan kunjungan sebentar. Yang kedua, aku sudah mengikhlaskan. Kali ini, aku tak akan lagi mempermasalahkan perbedaan, aku tak akan lagi mengingat kematian yang menyebabkan perasaan kehilangan itu semakin menyedihkan. Aku percaya kita akan bertemu lagi meskipun entah harus bereinkarnasi berapa puluh kali, dan setelahnya kita bisa meneruskan pembicaraan yang terhalang kematian.

Angga, makam mu terlihat berantakan. Tapi sepertinya kunjungan sebentar ku telah selesai. Sudah hampir malam, bahkan senja sudah tak lagi ada, perlahan menghilang. Begitu pula kisah kita.

Aku pamit pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar