Rabu, 11 Desember 2013

Hanya Secuil

Suara hujan masih saja berbunyi diluar sana, mengetuk-ngetuk kaca jendela. Aku masih pura-pura tertidur pulas, berbaring dengan selimut hangat pemberian nenek ku. Kamar ku bukan tempat yang bagus untuk ditempati, bukan juga tempat yang nyaman untuk ditugaskan memijat tubuhku yang kelelahan seharian. Tapi entah mengapa, tak ada ruangan yang bisa membuatku tertidur lelap selain kamar ku ini.

Malam ini tak ada yang berbeda, masih sama seperti malam-malam lalu. Masih sendiri menahan banyak keinginan yang belum tercapai. Bukan masalah cinta sejati yang ingin ku bicarakan, bukan juga masalah penghianatan teman yang mencoba membuka keburukan tentang aku pada orang banyak, bukan juga tentang cinta diam-diam yang ternyata sudah meninggalkan jejak cukup lama. Ini adalah kisah yang sebenarnya selalu ditanyakan oleh pembaca kisah, siapa aku?

Sering aku bertanya pada pagi, siapa aku ini? Dan tak ada jawaban sama sekali. Kemudian aku beranjak bertanya pada siang, siapa aku ini? Lagi lagi yang ku dapat hanya terik panas nya yang menggosongkan pikiranku, membuatku buta melihat sekeliling rumah, aku sangat rindu suasana rumah yang membuatku selalu ingin cepat pulang. Lalu aku memutuskan untuk bertanya pada malam, siapa aku ini? Namun yang terjadi tubuhku memerah karena gatal yang disebebkan oleh angin malam. Seberapa sering keluargaku bicara tentang penyakit ini, yang ku percaya bahwa aku ini adalah mutan. Aku adalah mutan yang mengorbankan diri pada malam meskipun pada akhirnya tubuhku akan memerah dan mulai membengkak, tapi karena sudah ku bilang aku adalah mutan, maka termakan hari tubuhku akan membaik. Mungkin aku semacam Wolverine, yang bisa mengobati luka nya agar tak membekas. Dan aku yakin bahwa professor x dan magneto akan segera membaik dan melupakan perdebatan antar beda pemikiran.

Aku berfikir mungkin aku adalah Vampire, karena aku sama sekali tak menyukai terik matahari. Buatku, panas lebih menakutkan dari pada hujan. Aku lebih memilih mengorbankan tubuhku basah karena deras hujan dibandingkan terbakar karena terik siang. Dan aku berfikir, mungkin aku adalah zombie, karena aku adalah penggila brokoli. Brokoli seperti otak, dan zombie adalah mayat hidup yang memakan otak. Tapi bagimana pun menakutkan nya zombie, brokoli adalah makanan yang paling enak yang tak pernah ku lewatkan dalam capcay. Terkadang aku berfikir, mungkin aku adalah Cinderella yang tersesat, karena aku masih belum bisa menemukan pangeran yang masih saja belum menemukan keberadaan ku untuk memakaikan sepatu kaca setelah pesta dansa malam itu, atau mungkin aku adalah putri tidur yang belum saja terbangun oleh ciuman dari cinta sejatinya, atau mungkin aku adalah Rapunzel yang ternyata sudah membiarkan penyihir jahat memotong rambut panjangku sehingga sang pangeran tidak bisa memanjat kastil tinggi itu. Atau mungkin aku adalah little mermaid, yang harus merelakan sang pangeran menikahi wanita lain tanpa pernah memberitahukan tentang perasaanya yang sebenarnya, kemudian little mermaid memutuskan untuk menjadi buih di lautan hanya agar sang pangeran hidup bahagia.
                                      
Tapi fikiranku berbeda ketika pagi datang menyilaukan pandanganku. Ketika aku bangun dalam tidurku, ketika aku menapakan kaki ku pada pijakan bumi, aku selalu melihat sosok yang menyerupai ku. Dia memandangku seperti aku memandangnya. Terkadang dia berbicara seolah dia adalah aku. Aku selalu memandangnya dengan amarah, sudah beberapa kali sosok itu ku tinju dengan tanganku yang meluarkan darah, berceceran disekitar tempat tidur dan membuat keluarga ku panik. “Ada apa dengan ku?” aku bertanya lagi “siapa aku?”

Dalam mimpi ku, aku bertemu malaikat yang parasnya seperti persatuan wajah putri yang cantik-cantik, dia sempurna jika diderajatkan dengan manusia, dia penuh kasih jika dibandingan dengan cinta sejati. Dia nyata karena dia tak terbang layaknya hantu malam, dia juga bisa berbicara, berbeda dengan boneka yang ada dikamar ku. Tuhan menyuruhku memanggilnya dengan sebutan “Ibu”. Aku tak pernah tau bagimana caranya berterima kasih pada Tuhan karena telah mengijinkan ku memiliki satu malaikat terbaiknya. Malaikat ini terkadang terlihat menakutkan ketika wajah nya mulai memerah dan berteriak memanggil namaku berulang kali terus-menerus karena ulahku, tapi  ajaib nya seorang malaikat, dengan kilat nya wajah nya berganti dengan memancarkan cahaya yang membuat hati ku luluh dan segera memeluknya. Dan ketika mata nya mulai memerah karena membengkak, aku selalu menyalahkan Tuhan. Mengapa Tuhan membiarkan aku membuat malaikatku menangis karena ulah ku? Dia seperti embun ketika sedang menangis, embun pagi yang selalu mendinginkan suhu kala itu. Suhu yang selalu membuatku merasa ingin segera mendatangkan hangat nya matahari untuk memeluknya.

Berbeda dengan pahlawan ini. Sudah banyak pahlawan yang mengharumkan nama bangsa, sudah banyak pula pahlawan yang membela negri ini, pahlawan yang hanya menomor satukan Negara dan pemerintahan tanpa mementingkan diri sendiri dan orang-orang yang berada di dalam nya. Namun apapun itu, aku bukan orang yang sangat tertarik pada politik. Dan aku sama sekali tidak membicarakan pahlawan dalam pelukan politik nya, tapi aku membicarakan pahlawan yang dipeluk Tuhan nya. Pahlawan yang ditugaskan hanya untuk melindungi keluarga ku dari macam bahaya, dan pahlawan untuk terus siaga berada di depan pintu rumah (keluarga).
Tapi bagiku, dia bukan hanya pahlawan untuk keluargaku, dia juga adalah pahlawan hidupku. Dia adalah laki-laki tegas ketika memberikanku pengarahan, dan dia juga adalah laki-laki penyayang ketika sedang memberikanku pengertian. Dan dia selalu menjadi komandan tertinggi ketika aku sedang mencari cinta sejati. Baginya, itu adalah misi terpenting dalam hidupnya.
Dia adalah pahlawan yang tak kenal lelah meski aku telah cepat berubah, Tuhan menyuruhku memanggil nya dengan sebutan “Ayah”.

Ketika aku melihat sosok yang sama persis denganku terus bermunculan di kamar ku. Aku semakin marah pada keadaan rumah. Aku rindu tentang semua yang tak mengandalkan tentang “kedewasaan”. Aku lelah untuk bersikap bahwa aku tidak apa-apa, bahwa aku telah dewasa. Ingin rasanya mengartikan bahwa kedewasaan pun masih memerlukan bantuan. Sungguh aku belum terbiasa dengan tubuh yang menompang semua masalah sendirian. Terkadang aku benar-benar rindu berlari dalam pangkuan mu ibu, menangis sekencang-kencang nya, mengadu keluh kesahku, menangis tak henti agar kamu mau meniup dan mengusap luka ku agar tak lagi terasa nyeri. Atau melakukan hal bodoh hanya untuk mengambil semua perhatian ayahku.

Dewasa membuat ku lupa akan masa kecil ku, merenggut semua perhatian ayah ku dan kasih sayang ibu ku. Mereka fikir dewasa bisa membuatku merasa lebih baik, dan yang ku rasa semua terasa kosong.
Meskipun aku telah terlihat dewasa karena sudah mengenal cinta yang kadang membuatku merasa bahagia, tapi ada kala aku rindu menjadi anak yang terlihat bodoh di pandang ayah dan ibu. Aku rindu canda tawa yang ku kenal dulu didalam rumah. Aku rindu ketakutan bermain jauh meninggalkan rumah seperti dulu. Ada kala keluarga ku seperti drama yang semua menjadi peran utama, merasa paling berharga dan tak ingin menjadi nomor dua, tapi keluarga ku tetap menjadi drama yang paling romantic dan memiliki ending terbaik.

11 Desember 2013, aku menulis ini dalam keadaan merindukan semua rindu itu. Dan jika ada kesempatan lagi. Aku ingin menuliskan kisah hidup ku yang lain. Karena aku masih saja belum bisa mengetahui siapa sosok yang menyerupai aku itu.

1 komentar: